Роберт Кийосаки оценил перспективы инвестирования в биткоин и золото

cryptonews.ruDipublikasikan tanggal 2024-03-14Terakhir diperbarui pada 2024-09-14

В финансовой среде инвестора часто сравнивают биткоин и золото с инвестиционной точки зрения. Данную ситуацию решил прокомментировать автор бестселлера «Богатый папа, бедный папа» Роберт Кийосаки. Он опубликовал соответствующий пост в социальной сети X. Эксперт подчеркнул, что он не понимает, почему вообще биткоин сравнивают с золотом. По его словам, единственный фактор, который имеет значение для инвестора — это право собственности не актив.

Сосредоточиться нужно именно на этом, а не на том, какие технологические инновации продвигает инструмент. «Я не совсем могу понять. К чему все эти извечные споры относительно того, что лучше? Золото или биткоин? По-моему, ключевой фактор, который реально имеет значение, — это сколько у вас золота или Bitcoin? Конец спора!», — сказал Кийосаки.

Спор относительно перспектив золота и биткоина сформировался на фоне оценки роли, которую данные активы отыгрывают в современной финансовой системе. Учитывая то, что биткоин дефляционен по своей природе, его часто сравнивают с цифровым аналогом золота.

Часть критиков отмечают, что сам по себе флагман крипторынка непригоден для долгосрочных инвестиций. Это обусловлено в первую очередь высокой волатильностью инструмента. Некоторые подчеркивают, что данное обстоятельство не позволит инвесторам защитить свои активы в период финансовой нестабильности. С другой стороны, некоторые отмечают, что драгоценным металлам не хватает революционного потенциала, который предлагает биткоин.

Между тем ончейн-данные указывают на то, что за последние годы главная цифровая монета начала демонстрировать прямую корреляцию с ценами на золото. На текущий момент коэффициент связи достиг отметки 0,6. Сейчас это наиболее высокий показатель за последние 5 лет.

Bacaan Terkait

Pengamatan Kepatuhan Laporan BIS: Risiko Sebenarnya Stablecoin, Bukan Hanya "Pelepasan Jangkar"

Laporan BIS mengingatkan bahwa risiko utama stablecoin tidak hanya terletak pada kemungkinan "depegging" (kehilangan patokan nilai), tetapi pada tantangan untuk memasukkannya ke dalam sistem keuangan yang dapat diidentifikasi, dipantau, dipertanggungjawabkan, dan diregulasi. Laporan berjudul "Anchoring Trust in Money" menekankan bahwa uang bukan sekadar produk teknologi. Kepercayaan datang dari kerangka hukum, likuiditas, unit akun bersama, dan integritas keuangan. Dalam sistem tradisional, bank bertanggung jawab atas KYC, pemantauan transaksi, dan pelaporan. Sebaliknya, stablecoin yang beredar di blockchain tanpa izin menghadapi risiko kombinasi: anonimitas semu, dompet non-kustodial, jembatan lintas rantai, dan kurangnya kejelasan subjek hukum. Transparansi pada rantai (on-chain) tidak sama dengan transparansi kepatuhan. Alamat yang terlihat tidak berarti identitas terungkap. Risiko stablecoin dapat merembes kembali ke keuangan tradisional melalui pintu masuk/keluar dana (on/off-ramp), platform perdagangan, dan akun pelanggan. Masa depan regulasi bukan melarang inovasi, tetapi "menanamkan aturan" ke dalam infrastruktur. Sistem keuangan token masa depan harus menyematkan identifikasi pelanggan, penyaringan risiko pra-transaksi, jejak data yang dapat diaudit, dan mekanisme kolaborasi lintas yurisdiksi sejak awal. Kepatuhan bukanlah penghalang, melainkan infrastruktur dasar yang memungkinkan inovasi keuangan berkelanjutan dan aman.

marsbit1j yang lalu

Pengamatan Kepatuhan Laporan BIS: Risiko Sebenarnya Stablecoin, Bukan Hanya "Pelepasan Jangkar"

marsbit1j yang lalu

Laporan BIS: Risiko Nyata Stablecoin Bukan Hanya 'Decoupling'

Laporan BIS mengingatkan bahwa risiko utama stablecoin bukan hanya ketidakstabilan nilai (de-pegging), tetapi kemampuan untuk diintegrasikan ke dalam sistem keuangan yang teridentifikasi, termonitor, dapat dipertanggungjawabkan, dan teregulasi. Dari perspektif kepatuhan, uang memerlukan kerangka institusional yang menjamin unit akun, pembayaran pasti, likuiditas, regulasi, dan integritas keuangan. Stablecoin, yang banyak beredar di blockchain tanpa izin, menghadapi tantangan dalam KYC, AML/CFT, dan kejelasan tanggung jawab karena pseudo-anonimitas, dompet non-tahanan, dan bridging antar-rantai. Transparansi data rantai-blok (on-chain) tidak secara otomatis berarti transparansi kepatuhan. Alamat yang terlihat tidak sama dengan identitas yang diketahui. Risiko dari ekosistem stablecoin dapat berpindah kembali ke keuangan tradisional melalui titik on-ramp/off-ramp (pintu masuk/keluar dana). Oleh karena itu, arah masa depan yang diusulkan BIS adalah mengintegrasikan teknologi tokenisasi ke dalam sistem moneter berbasis bank sentral dan lembaga teratur, dengan menanamkan aturan sejak awal ("embedded rules"). Ini termasuk identifikasi klien, pra-skrining transaksi, penilaian risiko, jejak data yang dapat diaudit, serta mekanisme kolaborasi lintas lembaga dan yurisdiksi. Intinya, bagi profesional kepatuhan, setiap inovasi keuangan baru harus menjawab pertanyaan mendasar: Siapa yang mengidentifikasi klien, memantau transaksi, menangani anomali, dan bertanggung jawab? Kepatuhan bukanlah penghalang inovasi, melainkan infrastruktur dasar agar inovasi keuangan dapat berkelanjutan dan aman.

链捕手1j yang lalu

Laporan BIS: Risiko Nyata Stablecoin Bukan Hanya 'Decoupling'

链捕手1j yang lalu

Trading

Spot
活动图片