3AC Co-Founder Kyle Davies Says He Won’t Apologize for Crypto Hedge Fund Going 'Bankrupt'

CoinDeskPolicyDipublikasikan tanggal 2024-03-19Terakhir diperbarui pada 2024-03-20

Abstrak

Davies also said he wouldn't return to Singapore "immediately" in order to effectively avoid jail and wait for some sort of settlement.

  • Kyle Davies refused to apologize for his role in his crypto hedge fund going bankrupt.
  • Davies was speaking on the Unchained podcast and refused to reveal his current location.

Kyle Davies, the co-founder of the now-defunct Three Arrows Capital (3AC), has stated that he is not sorry for the crypto hedge fund going bankrupt. Davies was speaking on an episode of the Unchained Podcast on March 19.

“Am I sorry for a company going bankrupt? No, like companies go bankrupt, almost every company goes bankrupt, right?” Davies said about the public sentiment that he had not shown remorse. “It’s how you build or what you do about it. We’re definitely trying our best. We can add value in various ways. At a minimum, we can even tell the next Three Arrows how to do things better when they go bankrupt.”

Davies and Su Zhu co-founded Three Arrows in 2012 but suffered heavy losses in the mid-2022 crypto market downturn. The crash led to 3AC’s insolvency proceedings, starting in the British Virgin Islands, but reaching both Singapore and the U.S.

Advertisement
Advertisement

Zhu was arrested at the Singapore airport in September 2023 for allegedly failing to help liquidate 3AC and sentenced to four months’ imprisonment. Zhu was released early, in December 2023, based on standard provisions for good behavior.

Davies said both he and Zhu did not know about a court date, otherwise, why would Zhu enter Singapore? They were in contempt of court, and that is why Zhu was apprehended, Davies said.

“Maybe we should (sack our lawyers for not informing us about the court date),” Davies said when asked whether he had fired his lawyers.

Davies, who renounced his U.S. citizenship to acquire Singapore citizenship, has not returned to Singapore since then to face the same four-month sentence that Zhu faced. Davies said he would not be returning to Singapore “immediately” but "obviously these things just resolve at some point, there are settlements.”

During the interview, Davies also said he didn’t see any reason why he couldn’t return to the U.S. where his family is, but that so far, he had not returned to the U.S. He claimed he was “in Europe” but did not confirm whether he was in Portugal, something he told New York Magazine.

In April 2023, the 3AC founders, who were in Dubai, set up OPNX, a bankruptcy claims exchange. Within a month, OPNX was formally reprimanded by Dubai’s crypto regulator for operating an unregulated exchange, and by Feb. 2024, the exchange was shut down.

Advertisement
Advertisement

However, during the current bull run in the crypto market, OPNX seemingly relaunched as $LAMB.

“Lamb is a token focused on the concepts of Sacrifice, Servant Leadership and the Kingdom of God being within you,” OPNX's X profile said.

In September 2023, Singapore’s central bank issued a nine-year ban against the 3AC founders, prohibiting them from operating in the country’s regulated financial services industry. In December 2023, a worldwide court order from a British Virgin Islands court froze more than $1 billion in assets belonging to the 3AC founders.

Edited by Parikshit Mishra.




Bacaan Terkait

Siapa yang Paling Mahir Menggunakan Claude Code? Jawabannya Mungkin Bukan Programmer

Laporan ini menganalisis sekitar 400.000 sesi Claude Code dari Oktober 2025 hingga April 2026, mengungkap pola penggunaan alat pemrograman AI ini. Inti temuan menunjukkan adanya pembagian kerja yang jelas: manusia (pengguna) bertanggung jawab atas sekitar 70% keputusan perencanaan (apa yang harus dikerjakan), sementara Claude menangani sekitar 80% keputusan eksekusi (bagaimana cara mengerjakannya). Artinya, AI mengambil alih tugas implementasi teknis seperti menulis kode, menjalankan perintah, dan debugging, namun tujuan dan penilaian hasil tetap bergantung pada manusia. Yang mengejutkan, keberhasilan menggunakan Claude Code tidak hanya bergantung pada latar belakang pemrograman. Pengguna dari profesi non-teknis seperti hukum, keuangan, manajemen, dan penelitian menunjukkan tingkat keberhasilan yang mendekati insinyur perangkat lunak dalam tugas yang menghasilkan kode. Faktor kunci keberhasilan justru adalah keahlian domain pengguna—pemahaman mendalam tentang masalah yang ingin dipecahkan. Pengguna yang dinilai sebagai "ahli" dalam suatu sesi memiliki tingkat keberhasilan terverifikasi dua kali lipat lebih tinggi daripada pengguna "pemula", dan mereka dapat memandu Claude untuk melakukan lebih banyak pekerjaan per instruksi. Selama periode tujuh bulan, penggunaan Claude Code bergeser dari sekadar memperbaiki kode (debugging) ke tugas yang lebih kompleks dan bernilai tinggi seperti pengoperasian perangkat lunak, analisis data, dan penulisan dokumen. Nilai tugas rata-rata yang dilakukan meningkat sekitar 25%. Temuan ini menunjukkan bahwa alat pemrograman cerdas seperti Claude Code menurunkan hambatan implementasi teknis, tetapi justru memperbesar nilai keahlian domain. Masa depan mungkin akan lebih menguntungkan mereka yang memahami bisnis dan konteks masalah, dibandingkan sekadar mereka yang hanya mahir menulis kode.

marsbit6m yang lalu

Siapa yang Paling Mahir Menggunakan Claude Code? Jawabannya Mungkin Bukan Programmer

marsbit6m yang lalu

STRC Saham Preferen Terlepas dari Patokan 11%, Akankah Mesin Abadi Strategy Tetap Berputar?

Penulis: Azuma, Odaily Planet Daily Saham preferen STRC milik MicroStrategy terus mengalami "de-pegging" (lepas dari patokan). Sejak 15 Mei, harga STRC telah menyimpang dari nilai target US$100, dan diskonnya semakin dalam, bahkan sempat menyentuh US$83,26 dan ditutup di US$88,59, atau terlepas lebih dari 11% dari nilai target. STRC dirancang sebagai sekuritas pendapatan yang beroperasi di sekitar nilai US$100. Pelepasannya dari patokan ini menantang logika produk ini. Sebagai saluran pendanaan utama MicroStrategy untuk menambah cadangan Bitcoin, harga STRC mencerminkan kepercayaan pasar terhadap model operasi modal perusahaan. STRC adalah mesin dari "flywheel" (roda gila) modal MicroStrategy. Ia memungkinkan penerbitan berkelanjutan melalui mekanisme ATM selama harganya stabil di atas US$100, menciptakan daya beli tanpa mengencerkan ekuitas pemegang saham biasa (MSTR). Roda gila ini bergantung pada stabilitas harga STRC di sekitar US$100. Untuk mempertahankannya, MicroStrategy menerapkan mekanisme penyesuaian dividen bulanan. Namun, meskipun dividen dinaikkan menjadi 11,5% dan frekuensinya menjadi dua minggu sekali, de-pegging tetap berlanjut. Penyebab de-pegging terutama adalah masalah kepercayaan. Selain tekanan jual dari pelaku arbitrase yang menggunakan leverage, kekhawatiran utama adalah likuiditas MicroStrategy. Laporan JPMorgan menyebut kewajiban dividen tahunan sekitar US$1,7 miliar, dengan cadangan tunai hanya cukup untuk sekitar 6,3 bulan. MicroStrategy membantah, menyatakan cadangan Bitcoin-nya dapat menutupi dividen selama 32 tahun, namun itu mengasumsikan penjualan Bitcoin jika diperlukan. Baru-baru ini, MicroStrategy untuk pertama kalinya menjual 32 Bitcoin, yang mengguncang pasar karena bertentangan dengan narasi "HODL" (hold/tahan) jangka panjang mereka. STRC yang terus terdiskonto akan melemahkan kemampuan pendanaan MicroStrategy. Jika situasi ini berlanjut sementara cadangan tunai terkuras, kekhawatiran akan penjualan Bitcoin lebih lanjut untuk membayar dividen akan meningkat. Sebagai pembeli besar Bitcoin, pergeseran potensial MicroStrategy dari pembeli menjadi penjual dapat memberikan tekanan signifikan pada harga Bitcoin.

marsbit51m yang lalu

STRC Saham Preferen Terlepas dari Patokan 11%, Akankah Mesin Abadi Strategy Tetap Berputar?

marsbit51m yang lalu

Baru Saja, Pemenang Nobel Bergabung sebagai Karyawan Baru Anthropic

Baru-baru ini, John Jumper, pemenang Hadiah Nobel Kimia dan pemimpin inti AlphaFold, mengumumkan keluar dari Google DeepMind setelah hampir 9 tahun untuk bergabung dengan Anthropic. Langkah ini terjadi hanya dua hari setelah Noam Shazeer, salah satu penulis kunci makalah "Attention Is All You Need", meninggalkan Google untuk OpenAI. Kedua kepindahan ini menjadi pukulan besar bagi Google, dengan para pengamat menilai perusahaan kehilangan dua aset berharga dalam 72 jam. Jumper bergabung dengan DeepMind pada 2017, hanya 6 bulan setelah meraih gelar PhD, dan langsung ditunjuk untuk memimpin tim AlphaFold. Di bawah kepemimpinannya, AlphaFold 2 pada 2020 memecahkan masalah pelipatan protein yang telah berlangsung 50 tahun. Pada 2024, ia dan Demis Hassabis memenangkan Hadiah Nobel Kimia atas karyanya. Prestasinya dikatakan mempercepat penemuan struktur protein hingga 1000 kali lipat. Kepindahan Jumper ke Anthropic memperkuat ambisi perusahaan tersebut di bidang ilmu kehidupan. Sebelumnya, Anthropic telah mengakuisisi Coefficient Bio seharga $400 juta dan meluncurkan produk khusus seperti Claude for Life Sciences. Di sisi lain, OpenAI juga gencar berinvestasi di sektor ini dengan model GPT-Rosalind dan komitmen dana miliaran dolar. Sementara itu, Google DeepMind melalui Isomorphic Labs tetap menjadi pemain kuat berkat teknologi AlphaFold. Perpindahan para peneliti top dari Google memicu pertanyaan tentang daya tarik perusahaan besar versus lab AI yang lebih gesit. Seorang investor berkomentar bahwa lab AI frontier menawarkan sesuatu yang tidak dimiliki Google: perasaan bahwa satu orang dapat mengubah jalur perusahaan. Industri kini menyaksikan persaingan sengit antara Anthropic, OpenAI, dan Google DeepMind untuk mendominasi revolusi AI di bidang ilmu kehidupan.

marsbit56m yang lalu

Baru Saja, Pemenang Nobel Bergabung sebagai Karyawan Baru Anthropic

marsbit56m yang lalu

Trading

Spot
Futures
活动图片