U.S. Regulators Do Have Some Control Over Stablecoin Tether: JPMorgan

CoinDeskPolicyDipublikasikan tanggal 2024-02-15Terakhir diperbarui pada 2024-02-16

Abstrak

USDT's appeal relative to other stablecoins will likely diminish as regulations will require more transparency and compliance with new anti-money laundering standards, the rep...

  • The U.S. Treasury Department’s Office of Foreign Assets Control (OFAC) can exert some control over the stablecoin issuer’s offshore usage.
  • Tether’s association with crypto-mixer Tornado Cash is one such example.
  • International cooperation could hinder the usage of USDT.

Tether’s (USDT) dominant position as the largest stablecoin is vulnerable due to its dependence on the American market and pending regulations, JPMorgan (JPM) said in a research report Thursday.

Despite Tether not being based in the U.S., regulators are able to exert some control on the stablecoin issuer’s offshore usage through the Office of Foreign Assets Control (OFAC), the report said.

The stablecoin's association with Tornado Cash is one such example, the bank said, noting that OFAC blacklisted the crypto-mixer that ran on the Ethereum network in August 2022, accusing it of facilitating money laundering.

Advertisement
Advertisement

“While direct legal actions against offshore entities and decentralized firms are complex, indirect measures and international cooperation could potentially hinder the usage of tether,” analysts led by Nikolaos Panigirtzoglou wrote.

Forthcoming stablecoin regulation will probably put “indirect pressure on tether as its attractiveness would diminish relative to stablecoins with more transparency and greater compliance with new regulatory KYC/AML standards,” the authors wrote, adding that this issue would also apply to decentralized finance (DeFi), where USDT is used as a source of collateral and liquidity. KYC refers to customer identification and AML to anti-money laundering regulations.

“Stablecoin regulations, in particular, are set to be coordinated globally via the Financial Stability Board (FSB) across the G20, further constraining the usage of unregulated stablecoins such as tether,” the report added.

Tether has come under pressure to be more transparent about how its reserves are invested, and has been working toward publishing real-time data. Still, JPMorgan says the latest disclosures by the stablecoin issuer are not enough to reduce concerns.

The Wall Street giant previously argued that USDT’s dominance was bad for the wider crypto ecosystem, a claim that was rebutted by Tether’s CEO Paolo Ardoino who said in emailed comments that it “seems hypocritical to talk about growing concentration from the biggest bank in the world.”

Advertisement
Advertisement

Bacaan Terkait

Pendapat: Trilemma Sama Sekali Bukanlah Masalah Nyata

Penulis berpendapat bahwa blockchain, pada dasarnya, adalah komputer lambat dan mahal yang dimiliki secara kolektif. Meski demikian, blockchain unggul karena bersifat tanpa izin (permissionless) dan tidak memerlukan kepercayaan pada pihak ketiga. Aplikasi utamanya adalah untuk aset keuangan, seperti stablecoin, di mana catatan di buku besar adalah aset itu sendiri. Namun, adopsi besar-besaran terhambat oleh dua kelemahan utama. Pertama, masalah legitimasi hukum yang timbul dari sifat tanpa izin, meski regulasi seperti GENIUS Act mulai mengatasinya. Kedua, dan yang paling kritis, adalah masalah transparansi total. Transparansi ini justru menjadi "pajak" karena semua transaksi dan posisi terbuka untuk umum, memungkinkan eksploitasi seperti MEV (Miner Extractable Value) yang telah merugikan pengguna miliaran dolar. Penulis menekankan bahwa privasi tidak bertentangan dengan kepatuhan. Dengan kriptografi modern seperti bukti pengetahuan nol (zero-knowledge proofs), seseorang dapat membuktikan kepatuhan (seperti solvensi atau KYC) tanpa mengungkapkan data pribadi atau posisi keuangan mereka. Ini menghilangkan "kebocoran" informasi sekaligus mempertahankan kemampuan audit. Solusi privasi default dengan bukti kepatuhan yang dapat diverifikasi bukanlah fitur tambahan, melainkan peningkatan mendasar. Ini akan membuka pintu bagi lembaga keuangan besar dan dana institusional yang selama ini enggan karena risiko paparan keuangan mereka. Dengan mengatasi defisit legitimasi dan privasi, blockchain akhirnya dapat memenuhi janjinya untuk menjadi infrastruktur keuangan global yang andal dan inklusif.

marsbit44m yang lalu

Pendapat: Trilemma Sama Sekali Bukanlah Masalah Nyata

marsbit44m yang lalu

OpenAI Melakukan Paling "Terbuka", Codex Tidak Lagi Eksklusif untuk GPT

OpenAI telah membuat langkah yang dianggap sebagai "yang paling terbuka" dengan mengintegrasikan kemampuan untuk menggunakan model sumber terbuka ke dalam Codex, asisten pemrograman berbasis AI mereka. Sebelumnya, Codex hanya dapat digunakan dengan model GPT milik OpenAI. Kini, pengembang dapat menggunakan baris konfigurasi sederhana seperti `--oss` untuk menjalankan model dari penyedia layanan lokal seperti Ollama dan LM Studio, atau bahkan mengonfigurasi penyedia model pihak ketiga. Perubahan ini memberikan fleksibilitas besar bagi pengembang. Mereka dapat mengatur arsitektur "campuran" di mana model OpenAI (seperti GPT) menangani perencanaan tugas yang kompleks, sementara model sumber terbuka yang lebih ringan dan hemat biaya mengeksekusi pembuatan kode. Selain itu, penggunaan model lokal memungkinkan pemrosesan offline, meningkatkan privasi, dan mengendalikan biaya. Namun, integrasi yang mulus tidak selalu langsung tercapai. Codex menggunakan protokol API "Responses" OpenAI, sedangkan banyak model sumber terbuka menggunakan standar "Chat Completions". Komunitas pengembang merespons dengan menciptakan lapisan penerjemah atau router (misalnya, CC Switch, LiteLLM) untuk menjembatani perbedaan protokol ini. Langkah OpenAI ini dilihat sebagai pergeseran strategi: dari sekadar penyedia model menjadi pengendali platform dan standar antarmuka. Dengan membuka lapisan integrasi model, OpenAI memperkuat posisi Codex sebagai pintu masuk utama bagi pengembang untuk pemrograman berbasis AI, terlepas dari model yang digunakan di baliknya.

marsbit1j yang lalu

OpenAI Melakukan Paling "Terbuka", Codex Tidak Lagi Eksklusif untuk GPT

marsbit1j yang lalu

Ketika 500 Juta Orang Meninggalkan ChatGPT

Dalam tiga setengah tahun sejak ChatGPT diluncurkan, aplikasi yang pernah menjadi yang tercepat mencapai 1 miliar pengguna bulanan ini kini mencapai titik balik: pangsa pasarnya di pasar asisten AI global pertama kali turun di bawah 50% (menjadi 46,4% pada Mei 2026), menurut laporan Sensor Tower. Pesaing utama, Gemini (27,7%) dan Claude (10,3%), telah mengambil alih sebagian pasar. Pertumbuhan Gemini didorong oleh integrasi dengan ekosistem Google, sementara Claude unggul dalam skenario produktivitas seperti penulisan dan pengkodean. Ini menunjukkan pergeseran pengguna yang lebih pragmatis, yang memilih alat berdasarkan kemampuan spesifik, integrasi ekosistem, dan kepercayaan merek, bukan hanya pada kekuatan model. Industri ini juga memasuki fase komersialisasi yang lebih matang. Pengguna semakin bersedia membayar untuk fitur premium (13% pengguna Claude berlangganan), sementara ChatGPT mulai menguji iklan untuk mendukung biaya komputasi yang sangat besar. Meskipun pengunduhan dan pengeluaran aplikasi AI global terus tumbuh, laju pertumbuhannya melambat, dengan fokus yang lebih besar pada monetisasi. Meskipun kehilangan dominasi absolut, ChatGPT tetap menjadi asisten AI terbesar. Namun, pasar sekarang lebih terdiversifikasi, dengan pemain seperti Grok, Perplexity, dan DeepSeek yang bersaing di ceruk tertentu. Pergeseran ini menandai transisi AI dari teknologi yang menakjubkan menjadi alat sehari-hari yang dinilai berdasarkan kegunaan, efisiensi, dan nilai praktisnya. AI semakin tertanam dalam kehidupan, di mana pengguna dengan bebas bermigrasi untuk menemukan alat terbaik.

marsbit1j yang lalu

Ketika 500 Juta Orang Meninggalkan ChatGPT

marsbit1j yang lalu

Trading

Spot
Futures
活动图片