Bitcoin Enjoys Growing Favorable Conditions, Top Analyst Says

newsbtcDipublikasikan tanggal 2023-09-21Terakhir diperbarui pada 2023-09-22

Abstrak

Bitcoin analyst and fervent BTC advocate, Will Clemente, has recently shed light on a compelling macroeconomic landscape unfolding, potentially favoring the world's leading cryptocurrency.  Clemente suggests that the United States...

Bitcoin analyst and fervent BTC advocate, Will Clemente, has recently shed light on a compelling macroeconomic landscape unfolding, potentially favoring the world’s leading cryptocurrency. 
Clemente suggests that the United States is currently facing an unavoidable predicament, where it must increase its money supply significantly to manage its mounting debt burden. This, he argues, sets the stage for substantial currency debasement in the near future.
Clemente’s analysis hinges on the growing probability of the United States further expanding its money supply over the coming years. With the relentless trend of rapid money printing, he raises a critical question: Which assets will emerge as the top performers in this volatile financial landscape? Among the contenders, including the stock market, commodities, real estate, and venture/angel investing, Clemente’s resounding answer is Bitcoin.
Despite being down nearly 70% from its 2021 highs, there is still a high likelihood that Bitcoin succeeds.
With the market going sideways, Bitcoin volatility near all time lows, and me losing my mind, decided to compile a few thoughts on why:
It is widely known that Bitcoin… pic.twitter.com/kNo9RBvyiR
— Will Clemente (@WClementeIII) September 19, 2023
Related Reading: How Cross-Chain Bridges Facilitate Dirty Money For Crypto Criminals
Bitcoin: The Digital Safe Haven
As Clemente delves into his rationale, he highlights the unique attributes that make Bitcoin stand out in this tumultuous economic climate. He emphasizes that while gold has long been considered the go-to asset during periods of currency debasement, Bitcoin’s upcoming halving event will significantly bolster its stock-to-flow ratio, surpassing even that of gold and silver. 
Furthermore, Bitcoin’s advantages of being highly transportable, divisible, verifiable, and provably scarce position it as a superior alternative to traditional commodities.

BTC market cap pegged at $521 billion today. Chart: TradingView.com
The sentiment surrounding Bitcoin’s potential is not limited to crypto enthusiasts and analysts. Best-selling author of “Rich Dad Poor Dad,” Robert Kiyosaki, has echoed similar sentiments. Kiyosaki emphasizes the urgency of taking action in the current economic climate. 
He dismisses questions about future price predictions for Bitcoin, gold, and silver in 2025 as “silly.” Instead, he urges individuals to focus on their present holdings, emphasizing that time is running out to seize the opportunities presented by these assets.
Related Reading: TikTok Faces Challenge As Elon Musk Crypto Scams Multiply
Act Now Before Prices Surge
Kiyosaki contends that Bitcoin, gold, and silver remain relatively affordable investments at present but warns that this window of opportunity is closing fast. He predicts that as more people recognize the potential of these assets and rush to acquire them, prices will inevitably surge. 
I am constantly asked “What price will gold, silver, or Bitcoin be in 2025. My reply is that is a silly question. More important question is how many gold, silver, Bitcoins do you have TODAY? Gold, silver, Bitcoin are bargains today… but not tommow. America is broke. Buy GSBC…
— Robert Kiyosaki (@theRealKiyosaki) September 19, 2023
As Bitcoin’s current price hovers around $27,028.81, the recent 2.8% seven-day increase underscores the growing interest in these digital and precious metal assets.
The macroeconomic stage appears to be set for Bitcoin to shine amidst concerns about the U.S. economy. Analysts like Will Clemente and financial experts like Robert Kiyosaki are sending a clear message: the time to act is now, as the future of Bitcoin and precious metals becomes increasingly promising in an uncertain financial world.

Bacaan Terkait

IOSG: Utang AS, AI, dan Inflasi Tak Bisa Digabungkan, BTC Bertaruh pada Sisi Mana?

**Inti Artikel: IOSG - Utang AS, AI, dan Inflasi Tidak Bisa Dipenuhi Bersamaan, BTC Bertaruh di Sisi Mana?** Analisis ini berargumen bahwa pemerintah AS kemungkinan akan memprioritaskan stabilitas pasar obligasi pemerintah (Treasury) dan siklus investasi AI, dengan konsekuensi membiarkan inflasi tetap tinggi lebih lama. Ini akan menjadi angin pendukung berkelanjutan bagi emas dan Bitcoin (BTC). **Tekanan pada Obligasi AS (US Treasury):** Yield obligasi AS jangka panjang (10 dan 30 tahun) mendekati level tertinggi dalam dua dekade, didorong oleh: * Risiko inflasi yang persisten. * Pasokan utang pemerintah yang tinggi. * Menipisnya permintaan dari pembeli jangka panjang. * **Kompetisi pendanaan baru dari perusahaan teknologi besar** yang membutuhkan modal besar untuk infrastruktur AI (diperkirakan ratusan miliar dolar dalam penerbitan obligasi). **Dilema Tiga Arah (Trilemma):** AS menghadapi pilihan sulit antara: (1) Mengontrol inflasi, (2) Menjaga stabilitas pasar Treasury, dan (3) Mendukung siklus investasi AI. Kontrol inflasi dipandang sebagai tujuan yang paling mungkin dikorbankan secara politis. **Respons Departemen Keuangan AS:** Untuk menstabilkan pasar, Departemen Keuangan diprediksi akan: * Meningkatkan operasi repo (pinjaman jangka pendek) untuk mendukung likuiditas obligasi jangka panjang. * Beralih ke penerbitan lebih banyak utang jangka pendek (T-bills). Strategi ini, disebut "penerbitan agresif" atau "QE terselubung," menyuntikkan likuiditas ke sistem dengan menggeser risiko durasi (jangka panjang) dari sektor privat. **Implikasi untuk Aset:** * **Emas:** Telah menguat kuat (~90% dalam 2 tahun), didorong oleh penurunan kepercayaan pada USD, kekhawatiran inflasi, dan logika depresiasi mata uang. * **Bitcoin (BTC):** Perilaku harga baru-baru ini (BTC naik 22.2% dalam seminggu, mengalahkan kenaikan emas 5.9%) mulai menunjukkan korelasi dengan ekspektasi likuiditas global yang lebih longgar ("QE terselubung"). Jika tren pergeseran durasi dan penyuntikan likuiditas oleh Departemen Keuangan berlanjut, BTC bisa mendapatkan angin pendukung yang lebih persisten sebagai lindung nilai terhadap depresiasi. **Kesimpulan:** Jika inflasi tetap tinggi, defisit fiskal besar, dan permintaan pendanaan AI kuat, maka harga untuk menjaga stabilitas pasar Treasury dan pertumbuhan AI akan berupa: struktur utang yang lebih pendek, dukungan likuiditas terus-menerus, dan toleransi terhadap inflasi yang lebih tinggi. Situasi ini menguntungkan emas dan BTC. Tesis ini akan melemah jika inflasi turun signifikan, ada konsolidasi fiskal, atau AI menjadi mandiri secara pendanaan.

marsbit17m yang lalu

IOSG: Utang AS, AI, dan Inflasi Tak Bisa Digabungkan, BTC Bertaruh pada Sisi Mana?

marsbit17m yang lalu

Bagaimana 5G akan Diluncurkan di Rusia: Usulan Kementerian Digital dan Peta Jalan hingga 2035

Kementerian Digital Rusia mengusulkan agar operator "empat besar" - Beeline, MegaFon, MTS, dan T2 - diizinkan untuk menggelar jaringan 5G di menara BTS dan frekuensi yang sudah ada (sebelumnya untuk LTE), serta dialokasikan pita frekuensi baru 4.630–4.990 MHz. Usulan ini akan dibahas oleh Komisi Negara untuk Frekuensi Radio (GKChR). Inti usulan adalah **prinsip netralitas teknologi**, yang memungkinkan operator menggunakan frekuensi LTE untuk 5G dan peralatan asing yang terpasang hingga 1 September 2026. Pita frekuensi baru 4,63–4,99 GHz akan memungkinkan jaringan yang lebih kuat untuk layanan industri. Sejak 2027, akan dimulai transisi bertahap ke peralatan domestik, yang harus mencapai minimal 50% pada 2030. **Jadwal Peluncuran 5G:** * Akhir 2026: 4 pusat regional pertama. * 2027: 16 kota (semua kota berpenduduk >1 juta jiwa). * 2030: 40 kota. * 2035: 84 kota. Awalnya, 5G akan berjalan dalam mode **"5G Ready"** di atas infrastruktur existing, sehingga peningkatan kecepatan belum signifikan. Kecepatan sebenarnya (4-10x LTE) baru akan terasa setelah pita frekuensi baru dengan peralatan khusus dioperasikan. Frekuensi 4,63–4,99 GHz memiliki tantangan: sinyal mudah terhalang, membutuhkan BTS yang lebih padat, dan tidak semua ponsel mendukungnya. Penundaan panjang 5G di Rusia disebabkan oleh blokade Kementerian Pertahanan terhadap pita "emas" 3,4–3,8 GHz sejak 2018. Pita yang dipilih sekarang memiliki kesamaan dengan rentang 4,8–5,0 GHz di Cina, sehingga peralatan dari Huawei dan ZTE bisa menjadi solusi transisi. **Risiko dan Tantangan:** Keberhasilan tergantung pada kecepatan pasokan peralatan dan produksi dalam negeri. Tantangan lain adalah dukungan ponsel terhadap pita frekuensi 4,63–4,99 GHz yang tidak umum digunakan di pasar global, yang dapat membatasi pilihan perangkat pengguna.

cryptonews.ru2j yang lalu

Bagaimana 5G akan Diluncurkan di Rusia: Usulan Kementerian Digital dan Peta Jalan hingga 2035

cryptonews.ru2j yang lalu

Trading

Spot
活动图片