Luna Foundation's BTC Stash Nears Tesla's — But Is Terra's Buying Enough For BTC To Go Higher?

zycryptoDipublikasikan tanggal 2022-04-18Terakhir diperbarui pada 2022-04-18

Abstrak

The current aggressive accumulation of Bitcoin by Terra has no doubt been a positive catalyst for the cryptocurrency’s price.

The current aggressive accumulation of Bitcoin by Terra has no doubt been a positive catalyst for the cryptocurrency’s price. So far, through The Luna Foundation Guard (LFG), over $1.7 billion of Bitcoin has been purchased to backstop Terra’s algorithmic UST stablecoin.

LFG added another 2,500 BTC, worth approximately $100.4 million at the time of the transaction, to its reserves on April 13 and 123 BTC yesterday. Thus, Terra now owns 42,530 BTC, which is approximately $1.72 billion at the time of this writing — just 700 BTC less than Tesla’s corporate treasury holdings.

Despite the massive purchases, there are lingering questions as to whether Terra can sustain a move higher by Bitcoin. According to a report by “IntoTheBlock” a crypto data research company, despite LFG being one of the most avid Bitcoin buyers, scooping over 40,000 BTC in the last 30 days, those investments still make up a very small portion of Bitcoin’s daily volume.

As per the report, the $67M daily average inflow into Terra’s reserves represents just 0.27% of Bitcoins’ daily volume as per data by CoinGecko. Further, Terra’s highest purchase of $223M worth of Bitcoin on April 6 made up only 0.88% of that day’s trading volume signaling that Terra’s market conviction still has a long way to go.

“This suggests that impact in Bitcoin’s price throughout late March is likely more due to the psychological factor of having a large whale such as Terra avidly accumulating deterring sellers, rather than the actual buying propelling the rise.” Read the report.

Screen Shot 2022-04-07 at 5.15.47 PM

Furthermore, a dive deeper into whale address activity also seems to paint a picture contrary to Terra’s. In the past three months, the total Bitcoin balance held by addresses with 1k to 10k BTC dropped to its lowest. It is worthy to note that this click of whales is considered the real market movers, given that they hold over a quarter of Bitcoin’s total supply.

On-chain data shows that this group has gone mute, with groups holding over 100 BTC mostly decreasing their positions.

This liquidity, however, seems to be flowing into smaller addresses, particularly the group holding between 0.001 BTC and 0.01 BTC which has had the fastest growth in the past 30 days.

Although Bitcoin’s bearish plumb has been attributed to a list of other issues including the Federal Reserves’ slipups as well as other microeconomic concerns which are believed to impede investor decisions, it seems that large investors are still pondering on what could go worst with Terra’s BTC purchases.

That said, Bitcoin continues to recede, losing close to 13% since April 1, and is trading at $40,390 as of reporting with investors such as Peter Brandt, a lionized trader speculating that Bitcoin’s next rocket stage may not be ignited until 2024.

Bacaan Terkait

Pengamatan Kepatuhan Laporan BIS: Risiko Sebenarnya Stablecoin, Bukan Hanya "Pelepasan Jangkar"

Laporan BIS mengingatkan bahwa risiko utama stablecoin tidak hanya terletak pada kemungkinan "depegging" (kehilangan patokan nilai), tetapi pada tantangan untuk memasukkannya ke dalam sistem keuangan yang dapat diidentifikasi, dipantau, dipertanggungjawabkan, dan diregulasi. Laporan berjudul "Anchoring Trust in Money" menekankan bahwa uang bukan sekadar produk teknologi. Kepercayaan datang dari kerangka hukum, likuiditas, unit akun bersama, dan integritas keuangan. Dalam sistem tradisional, bank bertanggung jawab atas KYC, pemantauan transaksi, dan pelaporan. Sebaliknya, stablecoin yang beredar di blockchain tanpa izin menghadapi risiko kombinasi: anonimitas semu, dompet non-kustodial, jembatan lintas rantai, dan kurangnya kejelasan subjek hukum. Transparansi pada rantai (on-chain) tidak sama dengan transparansi kepatuhan. Alamat yang terlihat tidak berarti identitas terungkap. Risiko stablecoin dapat merembes kembali ke keuangan tradisional melalui pintu masuk/keluar dana (on/off-ramp), platform perdagangan, dan akun pelanggan. Masa depan regulasi bukan melarang inovasi, tetapi "menanamkan aturan" ke dalam infrastruktur. Sistem keuangan token masa depan harus menyematkan identifikasi pelanggan, penyaringan risiko pra-transaksi, jejak data yang dapat diaudit, dan mekanisme kolaborasi lintas yurisdiksi sejak awal. Kepatuhan bukanlah penghalang, melainkan infrastruktur dasar yang memungkinkan inovasi keuangan berkelanjutan dan aman.

marsbit1j yang lalu

Pengamatan Kepatuhan Laporan BIS: Risiko Sebenarnya Stablecoin, Bukan Hanya "Pelepasan Jangkar"

marsbit1j yang lalu

Laporan BIS: Risiko Nyata Stablecoin Bukan Hanya 'Decoupling'

Laporan BIS mengingatkan bahwa risiko utama stablecoin bukan hanya ketidakstabilan nilai (de-pegging), tetapi kemampuan untuk diintegrasikan ke dalam sistem keuangan yang teridentifikasi, termonitor, dapat dipertanggungjawabkan, dan teregulasi. Dari perspektif kepatuhan, uang memerlukan kerangka institusional yang menjamin unit akun, pembayaran pasti, likuiditas, regulasi, dan integritas keuangan. Stablecoin, yang banyak beredar di blockchain tanpa izin, menghadapi tantangan dalam KYC, AML/CFT, dan kejelasan tanggung jawab karena pseudo-anonimitas, dompet non-tahanan, dan bridging antar-rantai. Transparansi data rantai-blok (on-chain) tidak secara otomatis berarti transparansi kepatuhan. Alamat yang terlihat tidak sama dengan identitas yang diketahui. Risiko dari ekosistem stablecoin dapat berpindah kembali ke keuangan tradisional melalui titik on-ramp/off-ramp (pintu masuk/keluar dana). Oleh karena itu, arah masa depan yang diusulkan BIS adalah mengintegrasikan teknologi tokenisasi ke dalam sistem moneter berbasis bank sentral dan lembaga teratur, dengan menanamkan aturan sejak awal ("embedded rules"). Ini termasuk identifikasi klien, pra-skrining transaksi, penilaian risiko, jejak data yang dapat diaudit, serta mekanisme kolaborasi lintas lembaga dan yurisdiksi. Intinya, bagi profesional kepatuhan, setiap inovasi keuangan baru harus menjawab pertanyaan mendasar: Siapa yang mengidentifikasi klien, memantau transaksi, menangani anomali, dan bertanggung jawab? Kepatuhan bukanlah penghalang inovasi, melainkan infrastruktur dasar agar inovasi keuangan dapat berkelanjutan dan aman.

链捕手1j yang lalu

Laporan BIS: Risiko Nyata Stablecoin Bukan Hanya 'Decoupling'

链捕手1j yang lalu

Trading

Spot
活动图片