US Treasury Secretary Believes CBDC Could Outcompete Bitcoin as Means of Exchange

CryptoPotatoDipublikasikan tanggal 2022-04-09Terakhir diperbarui pada 2022-04-09

Abstrak

Janet Yellen covered crypto, CBDCs, and responsible regulation of the industry in a speech on Thursday.

Janet Yellen – Treasury Secretary of the United States – recently delivered her first speech solely dedicated to cryptocurrencies. While discussing the risks and benefits of crypto and CBDCs, the secretary listed five historical lessons she’ll be following as she regulates the space.
A More Balanced Tone
The speech was delivered before American University’s Kogod School of Business Center for Innovation on Thursday. Her words reflect significant evolution in how the Treasury Secretary views digital assets.
On one hand, she maintains a level of long-standing skepticism of stability risks they could pose to the financial system. On the other hand, she recognizes that they can produce reduced reliance on centralized intermediaries like banks and credit card companies.
She also notes that crypto proponents praise the capabilities of smart contracts, which can offer trading, borrowing, and lending of financial products in a decentralized way.
“To the extent that setup is more convenient, and costs are competitive with those required for traditional financial services, digital assets offer the potential to expand access,” she said.
With this in mind, the Treasury and other agencies will work to produce policy recommendations around the objectives outlined in President Biden’s crypto Executive Order last month.
As such, the Treasury will be applying certain historical lessons as a “compass” to navigate the task. The first is that the financial system “benefits” from “responsible innovation”. For example, she notes that digital assets could deliver the promise of cheaper cross-border remittance payments, especially for members of non- G7 countries.
Secondly, she urged caution about how innovation in this space could harm the most vulnerable in society if not regulated fast enough. She cited the 2008 financial crisis caused by overly risky shadow banks as evidence of this, which the OCC chief has also compared to the crypto boom.
Thirdly, Yellen calls for a “tech neutral” regulatory approach, which specifically targets risks and fraud rather than blockchain technology more broadly. This is a term frequently floated by SEC Chairman Gary Gensler when discussing the legal status of cryptocurrencies.
Praise of the CBDC
Yellen’s fourth lesson argues for the importance of the dollar’s role as a world reserve currency. In that context, she claims that a CBDC could be the dollar’s next “evolution” towards expanding that position.
“Could [a CBDC] make the financial system more equitable, accessible, and inclusive?” she asked. “How might a US CBDC interact with existing national currencies, foreign CBDCs or private stablecoins?”
Biden’s Executive Order called for “urgent” CBDC research and development for similar reasons. If made interoperable with other national CBDCs, he said it could “help support the continued centrality of the United States within the international financial system”.
Furthermore, Yellen noted that a CBDC and other stablecoins could achieve further adoption as a means of payment than Bitcoin, due to Bitcoin’s price instability, “high fees and slower processing times”.
Though Federal Reserve Chairman Jerome Powell has made the same claim in the past, it may be outdated. Strike CEO Jack Mallers announced yesterday that his company had partnered with Shopify, alongside point-of-sale giants NCR and Blackhawk. This will allow Americans to make instant and free Bitcoin payments through the lightning network to retailers like Mcdonald’s and Walmart.
Yellen’s final lesson is to push for responsible innovation, ensuring “competitiveness and growth” while also protecting national security interests. She notes the radical divergence of viewpoints on crypto to be reminiscent of previous “new and transformative technologies”.

Bacaan Terkait

Rial Iran Jatuh ke Level Terendah Rekor di Tengah Sanksi Baru yang Menargetkan 'Lifeline'-nya – Penambangan Bitcoin

Rial Iran jatuh ke rekor terendah, menyentuh sekitar 2,02 juta rial per dolar, menyusul paket sanksi AS baru yang dinamai "Economic Outcast." Sanksi ini untuk pertama kalinya secara eksplisit menyasar aset digital, bersama sektor teknologi, emas, penerbangan, dan pelayaran. Menteri Keuangan AS Scott Bessent menegaskan tujuan untuk mengisolasi Bank Sentral Iran dari sistem keuangan global. Iran telah lama mengandalkan cryptocurrency, terutama penambangan Bitcoin, sebagai "jalur penyelamatan" untuk mengatasi tekanan ekonomi. Sejak legalisasi tahun 2019, operasi penambangan terkait negara, banyak dikendalikan oleh Korps Pengawal Revolusi Islam (IRGC), diperkirakan menyumbang 3-7% dari hash rate global Bitcoin. Ekosistem kripto Iran bernilai miliaran dolar, membantu bank sentral menimbun stablecoin seperti USDT untuk mendukung rial. Washington telah mengambil langkah-langkah untuk membongkar jaringan ini, termasuk menjatuhkan sanksi pada sejumlah bursa kripto Iran seperti Nobitex dan menyita aset kripto terkait Iran. Peretasan terhadap Nobitex pada 2025 dan pembekuan dana Tether lebih lanjut mengganggu aliran modal. Meskipun tekanan meningkat, dengan sistem kelistrikan Iran yang sudah tegang dan ancaman sanksi sekunder, laporan menunjukkan bahwa Iran secara konsisten menemukan cara baru untuk menghindari pembatasan. Penurunan nilai rial dan sanksi terbaru merupakan babak terbaru dalam perjuangan panjang ini.

cryptonews.ru8m yang lalu

Rial Iran Jatuh ke Level Terendah Rekor di Tengah Sanksi Baru yang Menargetkan 'Lifeline'-nya – Penambangan Bitcoin

cryptonews.ru8m yang lalu

Hubei State-Owned Assets Menikmati Pengembalian Terbesar dalam Sejarah

Momen yang telah lama ditunggu akhirnya tiba. Perusahaan patungan memori terkemuka China, Changcun Konggu (diulas sebagai "Changcun Holdings" dalam artikel), telah mengajukan IPO di Papan Sains dan Teknologi STAR dengan target pendanaan 33 miliar yuan, berpotensi menjadi IPO terbesar dalam sejarah pasar tersebut. Ini akan menggeser rekor yang baru dibuat oleh Changxin Technology dari Hefei. Didirikan pada 2016, kedua perusahaan ini dijuluki "Bintang Kembar Memori Dalam Negeri". Keberhasilan IPO Changxin Technology, dengan valuasi melonjak hingga 4 triliun yuan, telah membawa imbal hasil triliunan yuan bagi modal negara Hefei. Kini, giliran Wuhan dan modal negara Hubei. Changcun Holdings berakar dari pendirian Wuhan Xinxin pada 2006. Pada 2016, dengan dukungan dana industri negara, perusahaan ini dibentuk sebagai basis memori nasional. Perjalanannya cepat: dari terobosan chip memori 3D NAND, arsitektur Xtacking, hingga chip flash 3D 128-layer. Data Q1 2026 menunjukkan pendapatan 47,042 miliar yuan dan laba bersih 33,379 miliar yuan. Dalam prospektus IPO terungkap, lima dari tujuh pemegang saham utama (memegang >1%) adalah entitas milik negara Hubei, seperti Hubei Changsheng, Xintek, Guochuang Fund, Guanggu Chantou, dan Changjiang Industry Group. Mereka telah mendampingi perusahaan selama satu dekade, dengan total dukungan dana melebihi 30 miliar yuan, bahkan saat perusahaan merugi. Jika valuasi pasca-IPO mencapai triliunan yuan seperti perkiraan pasar, nilai kepemilikan modal negara Hubei akan bernilai ratusan miliar yuan. Kisah keberhasilan serupa terlihat pada Huagong Tech (kini bernilai >100 miliar yuan), yang sebelumnya diakuisisi oleh dana negara Wuhan. Pendampingan jangka panjang dan investasi strategis di titik terendah kini menuai hasil. Di balik ledakan perusahaan unggulan ini, muncul klaster industri raksasa. Lembah Optik dan Elektronik (Optics Valley) Wuhan kini menjadi rumah bagi 16.000 perusahaan di bidang ini, dengan total skala industri melampaui 850 miliar yuan dan menuju target triliunan yuan. Gelombang IPO tahun ini juga mengubah peta kota. Hefei, dengan keberhasilan Changxin Technology, melompat dari peringkat ke-19 ke peringkat ke-4 dalam total valuasi pasar perusahaan A-shares di China, melampaui 15 kota besar. Anhui, provinsi tempat Hefei berada, juga kembali masuk 10 besar ekonomi nasional. Kisah Changcun Konggu dan Changxin Technology membuktikan bahwa transformasi industri membutuhkan visi jangka panjang, kesabaran, dan keberanian untuk bertanggung jawab dari investor negara. Satu perusahaan dapat mengubah sebuah industri, dan satu industri dapat mengubah nasib sebuah kota.

marsbit26m yang lalu

Hubei State-Owned Assets Menikmati Pengembalian Terbesar dalam Sejarah

marsbit26m yang lalu

Mitos Investasi AI Runtuh

**Investasi AI yang Dianggap Mitos, Ambruk: Kisah Dana SA Situational Awareness** Dana lindung nilai Situational Awareness (SA), yang didirikan oleh mantan peneliti OpenAI Leopold Aschenbrenner, nyaris runtuh total pada akhir Juli. Dana yang pernah menjadi legenda dengan aset kelolaan melesat dari $1,5 miliar menjadi $45 miliar dalam setahun itu, kehilangan 67% keuntungannya hanya dalam seminggu selama koreksi pasar semikonduktor. Strategi SA sangat sederhana: membeli saham perusahaan perangkat keras dan komputasi AI (seperti SK Hynix, CoreWeave) dan menjual short saham perusahaan perangkat lunak yang dianggap akan tergantikan AI (seperti Adobe). Namun, strategi ini bukan lindung nilai sebenarnya, melainkan taruhan satu arah yang diperkuat leverage. Baik posisi long maupun short sama-sama bergantung pada satu faktor: keyakinan pasar terhadap AI. Ketika sentimen berbalik, dana mengalami kerugian dari kedua sisi sekaligus. Dengan leverage tinggi (menggunakan $1 modal untuk mengendalikan $3 aset), konsentrasi portofolio yang berat pada sedikit saham AI, dan kepemilikan aset privat (Anthropic) yang tidak likuid, SA sangat rentan. Saat pasar berbalik, mereka langsung menghadapi krisis margin dan terpaksa menjual seluruh portofolio publiknya kepada Citadel dengan diskon, hanya 20 menit sebelum pasar dibuka, untuk menghindari likuidasi paksa oleh bank. Kegagalan SA menjadi peringatan keras tentang risiko sistemik dalam euforia investasi AI. Ini menunjukkan bagaimana strategi "lindung nilai palsu" (Texas hedge), leverage berlebihan, dan ketergantungan pada narasi tunggal dapat dengan cepat melumatkan dana, bahkan jika logika investasi jangka panjangnya mungkin benar. Kisah ini mengingatkan pada pepatah pasar: pasar bisa tetap irasional lebih lama dari kemampuan Anda untuk tetap solvent (mampu bayar).

marsbit27m yang lalu

Mitos Investasi AI Runtuh

marsbit27m yang lalu

Trading

Spot
活动图片