The Shanghai Upgrade Could Spark Decentralization In Staking As Big Guns Are Forced To Step Back

zycryptoDipublikasikan tanggal 2023-04-24Terakhir diperbarui pada 2023-04-24

Abstrak

In a nutshell, some commentators argue that the SEC is trying to make staking completely decentralized, where users deal directly with the protocols without staking pools.


The Hotly-Anticipated Ethereum Shanghai Hard Fork Has An Official Kick-Off Date; Will ETH Break $2,000?


  • The Shanghai update has been implemented in the Ethereum blockchain giving validators access to their staked assets and rewards.
  • The SEC and CFTC hounding down on the staking arm of digital asset companies will lead to decentralization in the wake of the Shanghai upgrade.
  • Analysts and users on most centralized trading platforms express mixed feelings concerning the new developments in staking.

The Shanghai upgrade has been lauded in several quarters around the cryptocurrency space and is billed to spark new regulatory concerns as users begin to withdraw their staked assets.
After the much anticipated Merge which hit the Ethereum (ETH) network last year, the blockchain transitioned to a proof-of-stake (PoS) consensus mechanism replacing miners with validators. With a minimum staking threshold of 32 ETH, average ETH holders were not able to become validators until the emergence of centralized staking through exchanges.
Over 30% of staked ETH is facilitated by exchanges, with Kraken, Coinbase, and Binance leading the pack. Despite being the game-change in attracting over 18 million ETH in months, it raised centralization concerns coupled with the Securities and Exchange Commission (SEC) going after exchanges regarding their staking activities.
In February, Kraken reached an agreement with the SEC to halt its staking service in the US as part of its $30 million settlement with the Commission. Marco Santori, Kraken’s legal officer, stated that the settlement would be completed after locked assets became available. 
Users outside the United States can keep their assets with Kraken and continue staking on Ethereum, as the settlement only applies within the US. The SEC has also expressed that its staked assets could be categorized as securities because they are locked up in anticipation of a profit-making.

Is there a silver lining to this decentralization approach?
Most users would prefer validation on the blockchain to be completely decentralized without entities dictating the pace with their centralized staking pools. However, this is not attainable at least for now, because the minimum requirement to become a validator is 32 ETH, a sum too high for the average user.
Kraken is not the only platform to be affected by regulatory bodies, as Coinbase and Binance face their own with the SEC and the Commodity Futures Trading Commission (CFTC), respectively. Coinbase received a Wells Notice in March raising concerns over some products, including its staking program, Coinbase Earn.
Although a lawsuit has not been filed, the company says it is ready for anything while informing customers that there is a need for patience while expecting their assets after the Shanghai upgrade.
Customers may need to remain patient. We anticipate the Ethereum protocol will take weeks to months to process unstaking requests immediately following the upgrade,” the company wrote.
In a nutshell, some commentators argue that the SEC is trying to make staking completely decentralized, where users deal directly with the protocols without staking pools.

Bacaan Terkait

Mengapa Staking Ethereum Akan Berubah pada Tahun 2026

Staking Ethereum (ETH) semakin menjadi topik praktis bagi penasihat keuangan dan investor institusional, bukan hanya sekadar ceruk bagi para penggemar kripto. Ini berubah menjadi alat untuk menghasilkan pendapatan dari aset ETH yang dimiliki, yang tercermin dalam laporan keuangan perusahaan seperti Bitmine, di mana 98% pendapatannya berasal dari staking. **Cara Kerja dan Potensi Pendapatan:** Staking ETH melibatkan penempatan aset untuk berpartisipasi dalam jaringan Proof-of-Stake sebagai validator, dengan imbalan sekitar 2–5% per tahun. Pilihan termasuk menjalankan validator mandiri (memerlukan 32 ETH), bergabung dengan pool staking, atau menggunakan bursa dan protokol likuid. **Tantangan dan Model Likuiditas:** Staking asli membatasi likuiditas karena ETH terkunci, sementara staking likuid memberikan token representatif yang dapat diperdagangkan sambil tetap mendapatkan imbalan. **Perkembangan Penting 2026:** Pembaruan jaringan yang diantisipasi, seperti "Glamsterdam" pada paruh kedua 2026, bertujuan meningkatkan skalabilitas, desentralisasi, dan ketahanan pasca-kuantum. Hal ini akan semakin menarik bagi partisipasi institusional. Perkembangan peraturan mengenai penyimpanan aset digital dan perlindungan dari serangan kuantum juga perlu dipantau. **Pertimbangan bagi Penasihat:** Sebelum merekomendasikan produk staking, penting untuk mengevaluasi: siapa yang menanggung risiko jika validator dihukum, bagaimana penyedia memastikan keandalan, struktur likuiditas, sumber dan prediktabilitas imbalan, serta keamanan penyimpanan aset. Singkatnya, staking ETH berkembang dari aktivitas khusus menjadi sumber pendapatan yang sah dan terintegrasi dalam strategi keuangan, menghadirkan peluang sekaligus kompleksitas yang perlu dipahami dengan baik.

cryptonews.ru56m yang lalu

Mengapa Staking Ethereum Akan Berubah pada Tahun 2026

cryptonews.ru56m yang lalu

Operasi Berisiko Pembelian Obligasi oleh Bessent Dapat Memicu Kenaikan Harga Bitcoin

Bitcoin kembali mencapai level USD 80.000 pada Kamis, mengatasi level resistensi kunci di USD 79.000. Pemulihan ini terjadi menjelang lelang surat utang Treasury AS senilai USD 92 miliar yang dijadwalkan pada 31 Agustus. Harga sempat menyentuh USD 80.808 sebelum dikoreksi, dan kini diperdagangkan di atas USD 80.400 dengan peningkatan kapitalisasi pasar menjadi USD 1,61 triliun. Volatilitas menyebabkan likuidasi posisi leveraged Bitcoin senilai USD 105 juta dalam 24 jam, sebagian besar adalah posisi short. Analis pasar memperkirakan lelang Treasury skala besar dapat mengurangi likuiditas jangka pendek dan berpotensi menekan aset digital jika permintaannya lemah. Sementara itu, sebuah artikel di The Economist memperingatkan bahwa kebijakan Menteri Keuangan AS Scott Bessent berisiko merusak kepercayaan terhadap sistem keuangan AS. Kebijakan tersebut, seperti menggandakan batas pembelian obligasi untuk menekan hasil imbal hasil jangka panjang dan mengalihkan struktur utang baru ke surat utang jangka pendek, diduga membuat AS rentan terhadap kenaikan suku bunga di masa depan. Langkah-langkah ini juga dikritik karena berpotensi mendistorsi mekanisme harga pasar dan menggeser kepercayaan investor jangka panjang. Tokoh seperti Ray Dalio berpendapat bahwa kebijakan tersebut mengurangi daya tarik imbal hasil obligasi tradisional, sehingga dapat mengalihkan modal ke aset safe-haven alternatif seperti emas dan Bitcoin, yang harganya memang telah menunjukkan tren naik sejak pengumuman kebijakan Kementerian Keuangan AS.

cryptonews.ru57m yang lalu

Operasi Berisiko Pembelian Obligasi oleh Bessent Dapat Memicu Kenaikan Harga Bitcoin

cryptonews.ru57m yang lalu

Trading

Spot
活动图片