Bitcoin bulls ignore the recent regulatory FUD by aiming to flip $25K to support

CointelegraphDipublikasikan tanggal 2023-02-21Terakhir diperbarui pada 2023-02-21

Abstrak

Bitcoin’s upward momentum can continue, according to Asian stablecoin demand and the BTC futures premium.

It might seem like forever and a day ago when the Bitcoin (BTC) price was trading below $18,000, but in reality, it was 40 days ago. Generally, cryptocurrency traders tend to have a short-term memory and, more importantly, they attribute less importance to negative news during bull runs. A great example of this behavior is BTC’s 15% gain since Feb. 13, despite a steady flow of bad news in the crypto market.


For instance, on Feb. 13, the New York State Department of Financial Services (NYDFS) ordered Paxos to "cease minting" the Paxos-issued Binance USD (BUSD) dollar-pegged stablecoin. Similarly, Reuters reported on Feb. 16 that a bank account controlled by Binance.US moved over $400 million to the trading firm Merit Peak — which is supposedly an independent entity also controlled by Binance CEO Changpeng Zhao.


The regulatory pressure wave continued on Feb. 17 as The United States Securities and Exchange Commission (SEC) announced a $1.4-million settlement with former NBA player Paul Pierce for allegedly promoting "false and misleading statements" regarding EthereumMax tokens on social media.


None of those adverse events were able to break investors' optimism after weak economic data signaled that the U.S. Federal Reserve (FED) has less room to keep raising interest rates. The Philadelphia FED Manufacturing Survey displayed a 24% decrease on Feb. 16 and U.S. housing starts increased by 1.31 million versus the previous month, which is softer than the 1.36 million expectation.


Let's take a look at Bitcoin derivatives metrics to better understand how professional traders are positioned in the current market conditions.


Asia-based stablecoin demand remains ‘modest’


Traders should refer to the USD Coin (USDC) premium to measure the demand for cryptocurrency in Asia. The index measures the difference between China-based peer-to-peer stablecoin trades and the United States dollar.


Excessive cryptocurrency buying demand can pressure the indicator above fair value at 104%. On the other hand, the stablecoin's market offer is flooded during bearish markets, causing a 4% or higher discount.

USDC peer-to-peer vs. USD/CNY. Source: OKX

“”

Currently, the USDC premium stands at 2.7%, which is flat versus the previous week on Feb. 13 andindicates modest demand for stablecoin buying in Asia. However, the positive indicator shows retail traders were not frightened by the recent newsflow or Bitcoin’s rejecection at $25,000.


The futures premium shows bullish momentum


Retail traders usually avoid quarterly futures due to their price difference from spot markets. Meanwhile, professional traders prefer these instruments because they prevent the fluctuation of funding rates in a perpetual futures contract.


The two-month futures annualized premium should trade between +4% to +8% in healthy markets to cover costs and associated risks. Thus, when the futures trade below this range, it shows a lack of confidence from leverage buyers. This is typically a bearish indicator.

Bitcoin 2-month futures annualized premium. Source: Laevitas.ch

“”

The chart shows bullish momentum as the Bitcoin futures premium broke above the 4% neutral threshold on Feb. 16. This movement represents a return to a neutral-to-bullish sentiment that prevailed until early February. As a result, it’s clear that pro traders are becoming more comfortable with Bitcoin price trading above $24,000.

The limited impact of rgulatory action is a positive sign


While Bitcoin's 15% price gain since Feb. 13 is encouraging, the regulatory newsflow has been primarily negative. Investors are excited by the U.S. FED's decreased ability to curb the economy and contain inflation. Hence, one can understand how those bearish events could not break cryptocurrency traders' spirit.


Ultimately, the correlation with the S&P 500 50-day futures remains high, at 83%. Correlation stats above 70% indicate that asset classes are moving in tandem, meaning the macroeconomic scenario has likely determined the overall trend.


At the moment, both retail and pro traders are showing signs of confidence according to the stablecoin premium and BTC futures metrics. Consequently, the odds favor a continuation of the rally because the absence of a price correction typically marks bull markets despite the presence of bearish events,especially regulatory ones.

Bacaan Terkait

Saat Miliaran Orang Mulai Terbiasa Mengendalikan Segalanya dengan Suara, Seberapa Jauh "Seluruh Aset Naik ke Rantai"?

Teks ini membahas peran penting AI Agent dalam perkembangan internet, dengan fokus pada peluncuran asisten AI "Xiaowei" di WeChat pada Juni 2026. Meski tampak seperti chatbot biasa, Xiaowei dianggap sebagai langkah kunci menuju "aset terhubung secara penuh" (*full asset on-chain*). AI Agent seperti Xiaowei mengubah cara interaksi pengguna dari antarmuka grafis (GUI) menjadi antarmuka bahasa (LUI), memungkinkan pengguna mengontrol berbagai fungsi dan layanan hanya dengan perintah suara atau teks. Ini menurunkan hambatan penggunaan AI untuk miliaran pengguna biasa. Sementara itu, tren lain sedang berjalan: tokenisasi aset dunia nyata (RWA) menjadi aset digital di *blockchain*. Meski RWA sering dikaitkan dengan properti atau obligasi, konsep "aset terhubung secara penuh" lebih luas, mencakup segala nilai yang dapat ditetapkan haknya, diukur, dan diperdagangkan, seperti perhatian (*attention*), pengaruh sosial, dan data kredit pribadi. Pertemuan kedua tren ini—AI Agent yang mudah digunakan dan tokenisasi aset—dapat membentuk paradigma baru dalam manajemen kekayaan. Di masa depan, AI Agent pribadi Anda tidak hanya mengatur jadwal, tetapi juga dapat menganalisis profil risiko Anda dan secara otomatis mengalokasikan dana ke berbagai aset token (seperti obligasi pemerintah atau emas) di *blockchain*. Kesimpulannya, peluncuran Xiaowei menandai transisi AI Agent dari konsep teknis menjadi utilitas sehari-hari bagi masyarakat umum. Ini merupakan langkah penting dalam perjalanan internet: dari menghubungkan orang, ke menghubungkan layanan, dan sekarang menuju tahap di mana semua jenis aset bernilai dapat diwakili dan diakses secara digital. AI Agent akan menjadi penghubung utama dalam era baru ini.

marsbit50m yang lalu

Saat Miliaran Orang Mulai Terbiasa Mengendalikan Segalanya dengan Suara, Seberapa Jauh "Seluruh Aset Naik ke Rantai"?

marsbit50m yang lalu

Taruhan Triliun Baru Son Masayoshi

Pada saat mendekati penawaran umum perdana (IPO), OpenAI terus dilaporkan mengalami krisis keuangan, menambah ketidakpastian pada "taruhan triliunan" baru Masayoshi Son. OpenAI dikabarkan mencatat kerugian bersih sekitar $85 miliar hingga kuartal pertama 2026, dengan biaya pendapatan mencapai $35 miliar. Sebelumnya, juga beredar laporan bahwa pendapatan OpenAI tahun 2025 adalah $131 miliar dengan kerugian $385 miliar. Angka-angka ini langsung berdampak pada visi Son yang meyakini OpenAI bisa menjadi perusahaan dengan kapitalisasi pasar tertinggi di dunia, dengan valuasi saat ini sekitar $850 miliar. SoftBank telah terikat dalam dengan memegang sekitar 13% saham OpenAI. Jika OpenAI berhasil IPO dengan valuasi triliunan dolar, ini akan menjadi pencapaian legendaris kedua bagi Son. Namun, sebelum kepastian IPO OpenAI, Son sudah memulai "taruhan triliunan" berikutnya. Ia menyatakan bahwa Physical AI dan robot humanoid akan menjadi ladang emas berikutnya bagi perusahaan bernilai triliunan dolar. Untuk itu, SoftBank dilaporkan sedang membentuk perusahaan bernama "Roze" di AS yang menggabungkan aset AI dan robotik, dengan target IPO pada paruh kedua 2026 dan valuasi $100 miliar. Son berani terus bertaruh karena telah merasakan manisnya investasi di AI. Kembalinya Son sebagai orang terkaya Asia, meski singkat, dan melonjaknya harga saham SoftBank didorong oleh investasi besar di OpenAI. SoftBank diperkirakan telah menginvestasikan total $64,6 miliar di OpenAI. Namun, tekanan juga muncul karena ketergantungan yang besar pada OpenAI dan persaingan ketat dari perusahaan seperti Anthropic yang sudah lebih dulu mengajukan dokumen IPO. Di sisi lain, Son telah lama menyiapkan langkah di Physical AI dan robot humanoid, dengan berbagai akuisisi dan investasi selama lebih dari satu dekade. Kini, ia berambisi membangun kawasan industri bernilai $1 triliun di AS untuk produksi robot humanoid skala besar. Latar belakang ambisi triliunan dolar Son berasal dari janjinya pada 2017 kepada Pangeran Mohammed bin Salman dari Arab Saudi untuk memberikan imbal hasil $1 triliun atas investasi $100 miliar. Janji ini belum terpenuhi, mendorong Son untuk terus mencari kemenangan besar melalui AI. Roze dirancang sebagai platform infrastruktur AI yang mencakup pusat data, chip, dan robotika, merealisasikan konsep Physical AI Son. Namun, rencana IPO Roze menghadapi skeptisisme internal mengenai valuasi dan waktu yang ambisius. Selain itu, pasar robot humanoid masih dianggap belum matang secara komersial dibandingkan model AI besar, dengan valuasi yang jauh lebih rendah dan tantangan integrasi serta implementasi di dunia fisik. Son, yang pernah menunggu lama untuk kesuksesan Alibaba dan Arm, mungkin harus kembali bersabar untuk mewujudkan visi triliunan dolar berikutnya di Physical AI.

marsbit56m yang lalu

Taruhan Triliun Baru Son Masayoshi

marsbit56m yang lalu

Kelompok Katolik dan Penegak Hukum Peringatkan UU CLARITY Dapat Melemahkan Pengamanan Kejahatan Kripto

Sebuah koalisi yang terdiri dari pemimpin Katolik, kelompok yang sejalan dengan penegak hukum, dan advokat anti-penjualan manusia memperingatkan bahwa RUU CLARITY Act berpotensi melemahkan pengamanan yang digunakan untuk memerangi kejahatan yang dimungkinkan oleh crypto. Kritik ini berfokus pada ketentuan yang akan melindungi pengembang perangkat lunak non-kustodial agar tidak diperlakukan seperti penyedia pengiriman uang. Perdebatan ini menyentuh salah satu pertanyaan tersulit dalam regulasi crypto: bagaimana membedakan perangkat lunak netral dari perantara keuangan. Para pendukung crypto berargumen bahwa pengembang yang menerbitkan kode non-kustodial tidak boleh diregulasi seperti bursa atau prosesor pembayaran. Sementara para pengkritik khawatir pengecualian yang terlalu luas dapat menyulitkan pelacakan keuangan ilegal. Perangkat lunak non-kustodial adalah inti dari DeFi. Arsitektur ini menciptakan tantangan penegakan hukum ketika aktor jahat menggunakan alat yang sama. Meski RUU CLARITY Act bertujuan menciptakan aturan struktur pasar yang lebih jelas, penentangan ini menunjukkan bahwa perdebatan kebijakan juga menyangkut isu seperti perdagangan manusia, pengelakan sanksi, dan visibilitas bagi penegak hukum. Tekanan ini tidak berarti RUU tersebut mati, tetapi mungkin membutuhkan amandemen, perlindungan yang lebih sempit, atau persyaratan pelaporan tambahan untuk mengatasi kekhawatiran tentang celah bagi keuangan ilegal. Bagi perusahaan crypto, aturan yang lebih jelas dapat membuka investasi, namun jika RUU ini dianggap melemahkan pencegahan kejahatan, jalur politisnya bisa menjadi lebih sulit.

bitcoinist6j yang lalu

Kelompok Katolik dan Penegak Hukum Peringatkan UU CLARITY Dapat Melemahkan Pengamanan Kejahatan Kripto

bitcoinist6j yang lalu

Trading

Spot
Futures
活动图片