Kenaikan emas pada bulan Agustus bukanlah pergerakan mendadak yang terisolasi. Sampai berita ini ditulis CNBC-TV18, kenaikan harga emas dalam sebulan telah mencapai sekitar 11%, hanya kalah dari kenaikan sekitar 13% pada bulan Januari. Perubahan inti yang mendorong pergerakan ini adalah penurunan drastis ekspektasi pasar terhadap kemungkinan kenaikan suku bunga oleh Federal Reserve (The Fed) pada bulan September.
Data ketenagakerjaan ubah ekspektasi suku bunga terlebih dahulu
Awal Agustus, pasar sempat memperkirakan kemungkinan The Fed menaikkan suku bunga di bulan September lebih dari 70%. Namun, laporan ketenagakerjaan AS yang dirilis kemudian ternyata lebih lemah dari perkiraan, membuat investor meragukan kemampuan ekonomi menahan pengetatan lebih lanjut. Akibatnya, probabilitas kenaikan suku bunga turun dengan cepat.
Dampak pelemahan ketenagakerjaan terhadap emas tidak langsung berasal dari sentimen safe-haven, melainkan ditransmisikan melalui ekspektasi suku bunga. Pasar melihat The Fed semakin sulit menaikkan suku bunga, sehingga imbal hasil obligasi turun dan daya tarik relatif emas dibandingkan obligasi meningkat.
Pendinginan inflasi berikan dorongan kedua untuk emas
Data indeks harga konsumen (CPI) dan produsen (PPI) yang dirilis kemudian menunjukkan tekanan inflasi inti (di luar energi) lebih rendah dari yang dikhawatirkan pasar sebelumnya. Sampai saat laporan ini dirilis, probabilitas kenaikan suku bunga September telah turun menjadi sekitar 32%. Dolar AS dan imbal hasil obligasi pemerintah AS (Treasury yield) sekaligus melemah, semakin memperbesar kenaikan harga emas.
Pelemahan dolar akan mengurangi biaya pembelian emas bagi pembeli di luar AS, sementara penurunan imbal hasil mengurangi biaya peluang (opportunity cost) memegang emas. Munculnya dua jalur transmisi ini secara bersamaan menjelaskan mengapa harga emas mampu menembus level-level kunci secara berturut-turut dalam waktu singkat.
Harga minyak bisa berpengaruh positif atau negatif bagi emas
Harga minyak yang tinggi dan risiko di Timur Tengah biasanya meningkatkan permintaan safe-haven, juga memperkuat perdagangan stagflasi, yang tampaknya menguntungkan emas. Namun, kenaikan harga minyak yang berkelanjutan juga dapat mendorong inflasi secara keseluruhan, memaksa The Fed mempertimbangkan kembali kenaikan suku bunga. Jika imbal hasil dan dolar AS kemudian menguat akibatnya, emas justru akan terbebani.
Ini juga menjadi kontradiksi terpenting untuk pergerakan selanjutnya: data ekonomi yang melemah dan pendinginan inflasi inti mendukung The Fed untuk tidak bergerak, sementara harga energi dan risiko geopolitik berpotensi membuat inflasi muncul kembali.
Kenaikan emas di bulan Agustus memiliki dasar makro yang jelas, tetapi pasar telah bergerak dari perdagangan 'penurunan probabilitas kenaikan suku bunga' ke level harga yang lebih tinggi. Selanjutnya, data harus terus mendukung kebijakan yang lunak agar harga emas dapat bertahan di level terobosan; jika inflasi kembali naik di luar perkiraan atau sikap The Fed berubah menjadi lebih hawkish, profit-taking di level tinggi dapat dengan cepat keluar dari pasar. Bagi investor, kenaikan harga minyak tidak boleh hanya dipahami sebagai faktor pendorong safe-haven, tetapi juga harus diamati secara bersamaan apakah hal itu kembali menyulut ekspektasi kenaikan suku bunga.





