# Artikel Terkait AS-Iran

Pusat Berita HTX menyediakan artikel terbaru dan analisis mendalam mengenai "AS-Iran", mencakup tren pasar, pembaruan proyek, perkembangan teknologi, dan kebijakan regulasi di industri kripto.

Penandatanganan Memorandum AS-Iran Menjadi Katalis Makro bagi Trader Bitcoin

Pedagang Bitcoin memiliki katalis makro baru untuk dipantau pekan ini seiring persiapan Swiss menjadi tuan rumah penandatanganan nota kesepahaman AS-Iran yang dijadwalkan pada 19 Juni 2026. Upacara di Bürgenstock ini melibatkan Qatar dan Pakistan sebagai mediator. Kesepakatan ini bukan acara crypto. Relevansinya bagi Bitcoin melalui saluran makro: geopolitik, harga minyak, ekspektasi inflasi, dan selera risiko umum. Bitcoin sering diperdagangkan seperti aset makro ber-beta tinggi selama tekanan geopolitik. Penandatanganan MoU yang bertujuan membahas operasi militer, sanksi, dan pembukaan kembali Selat Hormuz untuk pengiriman laut ini berpotensi signifikan karena selat tersebut adalah jalur transit energi utama. Bingkai yang tepat untuk Bitcoin adalah hati-hati. Langkah diplomatik yang sukses dapat meningkatkan sentimen risiko global dan mengurangi tekanan pasar energi, yang mungkin membantu BTC. Namun, jika negosiasi macet atau pasar minyak tetap tegang, efeknya bisa memudar dengan cepat. Peristiwa ini termasuk dalam kategori yang sama dengan rilis inflasi, keputusan bank sentral, dan gejolak minyak. Bitcoin bereaksi terhadap peristiwa tersebut melalui ekspektasi likuiditas dan psikologi investor. Bagi trader, 19 Juni menjadi tanggal untuk dipantau dalam kalender makro. Uji pasar pertama kemungkinan akan datang melalui minyak, dolar, dan futures ekuitas. Jika harga energi mereda dan pasar bergerak risk-on, Bitcoin bisa diuntungkan secara tidak langsung. Jika penandatanganan menghasilkan ketidakpastian atau perubahan terukur yang kecil dalam ekspektasi pengiriman dan sanksi, dampak cryptonya mungkin terbatas.

bitcoinistKemarin 04:12

Penandatanganan Memorandum AS-Iran Menjadi Katalis Makro bagi Trader Bitcoin

bitcoinistKemarin 04:12

Kesepakatan Iran Bukanlah Akhir, Melainkan Napas Politik 60 Hari

Kesepakatan yang diumumkan akhir pekan ini antara AS dan Iran bukanlah perjanjian damai yang sebenarnya, melainkan memorandum saling pengertian (MoU) selama 60 hari. Dalam periode ini, Iran akan membersihkan ranjau di Selat Hormuz, AS mencabut blokade laut, dan Iran mendapat pengecualian sanksi untuk menjual minyak. Negosiasi lanjutan mengenai program nuklir Iran akan dimulai. Namun, analisis menunjukkan empat kontradiksi struktural utama yang belum terselesaikan dan akan muncul kembali setelah 60 hari: (1) **Isu Uranium**: Iran menolak menyerahkan stok uranium yang diperkaya 60% secara tertulis. (2) **Kedaulatan Selat Hormuz**: Iran bersikeras tetap mengontrol selat tersebut sebagai alat deterensi. (3) **Trap Urutan**: AS ingin penyerahan nuklir dulu, Iran ingin sanksi dicabut dulu. (4) **Kemampuan Veto Israel**: Israel dapat mengambil tindakan militer sepihak untuk menggagalkan kesepakatan. Di balik proses diplomatik, ada peran **China** yang aktif melalui perantara Pakistan, dengan kepentingan untuk memulihkan aliran minyak Iran dan membatasi dominasi AS. Sementara itu, **blokade AS memiliki celah** melalui rute logistik dari Pelabuhan Khasab di Oman dan jaringan perdagangan Dubai. Krisis energi global tidak akan serta-merta berakhir dengan ditandatanganinya MoU ini, karena gangguan pasokan minyak dan konsekuensinya terhadap rantai pasok bersifat struktural. Pada intinya, kesepakatan ini memberi **nafas politik jangka pendek** bagi Trump dan Tehran, tetapi ujian sebenarnya akan datang pada **hari ke-61**, ketika kontradiksi mendasar antara tuntutan nuklir AS dan alat deterensi Iran akan kembali muncul.

marsbit05/25 07:54

Kesepakatan Iran Bukanlah Akhir, Melainkan Napas Politik 60 Hari

marsbit05/25 07:54

Perundingan AS-Iran Berakhir Tanpa Hasil, Selat Hormuz Jadi Salah Satu Kendala Terbesar, Peringatan Penenggelaman AS oleh Iran atas Aksi 'Pembersihan Ranjau' yang Diumumkan Tinggi

Perundingan bersejarah tingkat tinggi antara AS dan Iran di Pakistan berakhir tanpa kesepakatan setelah 21 jam pembicaraan. Insiden utama yang memanas adalah konfrontasi militer di Selat Hormuz, jalur pelayaran vital global. Presiden AS Donald Trump mengklaim pasukannya "mulai membersihkan ranjau" dan menenggelamkan 28 kapal Iran, namun Iran membantah dan menyatakan masih mengendalikan penuh selat tersebut. Iran mengancam akan menenggelamkan kapal perang AS jika melanjutkan pelayaran, memaksa kapal tersebut berbalik arah. Perbedaan pendapat mendasar terlihat dari narasi kedua pihak: AS bersikeras pada hak lintas berdasarkan hukum internasional, sementara Iran memberlakukan pembatasan ketat dan sistem bayar untuk kapal yang melintas. Para analis menilai insiden ini sebagai uji coba dari AS untuk mengukur reaksi Iran, dengan kedua belah pihak masih menunjukkan pengekangan. Isu kendali atas Selat Hormuz menjadi titik sengketa paling mendesak, sementara perbedaan tradisional seperti program nuklir Iran dan dukungan kepada kelompok regional tetap tidak terselesaikan. Keikutsertaan pihak garis keras dalam delegasi Iran juga memperumit prospek perundingan. Stabilitas jalur energi global dan kelanjutan proses diplomatik lebih luas antara AS-Iran kini bergantung pada pengelolaan ketegangan di Selat Hormuz pasca-kegagalan perundingan ini.

marsbit04/12 05:45

Perundingan AS-Iran Berakhir Tanpa Hasil, Selat Hormuz Jadi Salah Satu Kendala Terbesar, Peringatan Penenggelaman AS oleh Iran atas Aksi 'Pembersihan Ranjau' yang Diumumkan Tinggi

marsbit04/12 05:45

活动图片