Selat Hormuz Terus Terhenti, Akankah Pasokan Minyak dan Gas Terancam Krisis?
Krisis Selat Hormuz, yang dipicu oleh konflik antara AS dan Iran, mengancam jalur pengiriman energi vital global. Sejak akhir Februari, lalu lintas kapal melalui selat tersebut turun drastis dari rata-rata 135 menjadi di bawah 10 kapal per hari akibat serangan dan pembatasan oleh Iran, yang menuntut pencabutan blokade laut AS. Meski gencatan senjata dicapai pada April, navigasi tetap terhambat.
AS meluncurkan "Proyek Kebebasan" untuk memandu kapal yang terperangkap, tetapi ketegangan justru meningkat dengan tuduhan serangan baru. Iran menunjukkan kemampuan untuk melumpuhkan selat dengan drone, kapal kecil, dan ranjau, serta berencana memberlakukan sistem bayaran untuk transit. Hal ini mendorong harga minyak mentah Brent mendekati $101 per barel.
Pembukaan kembali selat secara penuh memerlukan waktu, membutuhkan pembersihan ranjau dan jaminan keamanan. Negara-negara penghasil minyak seperti Arab Saudi dan Uni Emirat Arab mencoba rute alternatif, tetapi kapasitasnya terbatas dan juga rentan terhadap serangan. Krisis ini bukan hanya mengganggu pasokan minyak dan gas (20% dari pasokan global), tetapi juga secara permanen mengubah persepsi pasar tentang risiko dan biaya menggunakan Selat Hormuz, menjadikannya alat politik Iran.
marsbitKemarin 16:30