GENIUS Act Ready Or Not? BitGo Says Here Are The 5 Fixes For Successful Rollout

bitcoinistDipublikasikan tanggal 2026-04-28Terakhir diperbarui pada 2026-04-28

Following the US Treasury Department and the Office of the Comptroller of the Currency (OCC) proposal rules for the GENIUS Act—the country’s first stablecoin bill—Bitcoin (BTC) custodian BitGo has submitted its formal comments to the OCC.

BitGo Pushes OCC On GENIUS Act Changes

In a social media post on Monday, BitGo called the GENIUS Act a landmark, but emphasized that landmark bills still need careful implementation to succeed.

The company argued that several parts of the OCC’s proposed rules would benefit from adjustments, listing five areas in which it believes the draft approach needs refinement.

First, BitGo said the rules should recognize that banks already operate a structure for co-branded financial products under a single legal entity.

In its comments, the firm argued that forcing a separate legal entity for every brand would create additional compliance burdens, while not necessarily improving consumer protections.

Second, BitGo said the interest prohibition in the GENIUS Act needs clearer safe harbors. While the law is designed to prevent stablecoins from paying interest, BitGo argued that the OCC’s current proposed rules could unintentionally sweep in arrangements that are not really about yield.

BitGo is therefore asking for explicit safe harbors, a 30-day review timeline, and clear appeal rights so that routine commercial programs are not caught up in interpretations that regulators did not intend.

Stablecoin Oversight Concerns

Third, the Bitcoin custodian pushed back on the proposed reserve concentration limit, arguing that the rule should not require reserves to be placed in “riskier” banking institutions.

Under the OCC’s draft approach, a 40% single-institution concentration limit would apply equally to Federal Reserve (Fed) Banks and to Global Systemically Important Banks (G-SIBs), which BitGo described as among the safest counterparties in the US financial system.

BitGo warned that exempting Fed accounts and G-SIBs from the cap entirely would better align with risk reduction, contending that forcing major issuers to shift reserves into smaller regional banks would increase risk rather than lower it.

Fourth, the company said the proposed automatic redemption freeze mechanism in the GENIUS Act framework could actually trigger the kind of market stress it is meant to prevent.

Under the OCC’s proposal, if an issuer receives redemption requests that exceed 10% of outstanding issuance within 24 hours, the issuer would face an automatic seven-day freeze, even if it already has sufficient liquidity to meet redemption demand within the normal timeframe.

BitGo argued that, for a fully liquid issuer capable of satisfying redemption requests on schedule, the freeze would be unnecessary and could manufacture panic in situations where the issuer could have handled redemptions without disruption.

Fifth, BitGo said a proposed reporting requirement about identifying stablecoin holders on public blockchains is not technically feasible in a way that would satisfy regulatory goals without creating additional enforcement risk.

The OCC’s GENIUS Act proposal includes weekly reporting on the top 100 holders and traders, and BitGo argued that permissionless networks use pseudonymous wallet addresses by design.

BitGo said compliance would likely force issuers to provide speculative, probabilistic estimates, which could mislead regulators and expose companies to liability for errors outside their control. In the company’s view, the requirement should be limited to KYC-onboarded customers only.

The daily chart shows the total crypto market cap drop to $2.54 trillion on Monday. Source: TOTAL on TradingView.com

Featured image from OpenArt, chart from TradingView.com

Bacaan Terkait

The Impossible Triad Is Fundamentally a Pseudo-Problem

**Judul: Segitiga Mustahil Sebenarnya Masalah Palsu** Industri crypto telah membangun sistem kriptografi paling kuat, tetapi ironisnya gagal melindungi privasi keuangan pengguna. Setiap transaksi dan kepemilikan terpapar secara publik. Blokchain pada dasarnya adalah komputer bersama yang lambat dan mahal, yang nilainya terletak pada akses tanpa izin dan konsensus terdesentralisasi. Selama satu dekade, industri terobsesi dengan "trilema" skalabilitas, keamanan, dan desentralisasi. Namun, kendala sebenarnya yang menghalangi masuknya modal triliunan dolar justru adalah **legalitas** dan **privasi**. 1. **Legalitas:** Sifat tanpa izin menciptakan ketidakpastian hukum. Namun, perkembangan regulasi seperti Undang-Undang GENIUS di AS mulai memberikan kejelasan kerangka hukum. 2. **Privasi:** Transparansi rantai publik bukanlah fitur, melainkan **pajak**. Setiap posisi dan transaksi yang terbuka mengundang eksploitasi seperti MEV (Miner Extractable Value), yang telah menyedot miliaran dolar dari pengguna biasa. Modal institusional besar tidak akan pernah menempatkan neracanya di tempat yang bisa dibaca pesaing secara real-time. Solusinya bukan transparansi penuh atau penyembunyian total. Kriptografi modern memungkinkan **privasi yang patuh (compliant privacy)**. Kita dapat membuktikan suatu pernyataan (misalnya, kecukupan cadangan, kepatuhan KYC, transaksi bersih) tanpa membongkar data dasarnya. Audit dan kepatuhan tetap terjaga, tetapi kebocoran informasi dan "pajak transparansi" dihilangkan. Dengan menutup dua cacat ini—melalui kemajuan regulasi dan adopsi privasi yang dapat dibuktikan—blokchain akan mengalami peningkatan murni. Ia akan berubah dari "spreadsheet Google yang mahal dan terbuka" menjadi mesin bersama yang dapat dipercaya yang akhirnya dapat menjaga rahasia. Inilah jembatan yang akan membawa sistem keuangan bernilai triliunan dolar ke dalam dunia yang sebenarnya dirancang untuknya sejak awal.

marsbit9j yang lalu

The Impossible Triad Is Fundamentally a Pseudo-Problem

marsbit9j yang lalu

Chip Optik, Perluasan Kapasitas Produksi Secara Kolektif

Kebutuhan chip optik sedang melonjak, memicu gelombang ekspansi kapasitas global di seluruh rantai pasokan. Di AS, Coherent memperluas pabrik 6 inci InP di Texas dengan pendanaan pemerintah, didukung investasi strategis dari Nvidia. Nokia menambah kapasitas pengujian dan pengemasan chip fotonik. Di Jepang, JX Advanced Metals berinvestasi besar untuk meningkatkan produksi substrat InP hingga 7-10 kali lipat. Di Eropa, IQE dan Tower Semiconductor menyepakati kesepakatan pasokan wafer epitaksial InP jangka panjang, menandakan konvergensi antara platform silicon photonics dan material III-V. Di Cina, perusahaan seperti Suzhou Ray Technology (Soluxe) dan San'an Optoelectronics secara agresif memperluas produksi chip optik dan bahan baku seperti InP. Ekspansi ini didorong oleh permintaan bandwidth yang meledak dari pusat data AI, terlepas dari jalur arsitektur masa depan seperti CPO (Co-Packaged Optics). Laporan Morgan Stanley menekankan bahwa kebutuhan konten optik akan terus tumbuh, baik dengan modul pluggable tradisional, NPO, CPO, atau arsitektur hybrid. Berbagai rute sumber cahaya seperti SiPh + Laser CW, VCSEL, dan MicroLED diperkirakan akan hidup berdampingan untuk aplikasi jarak berbeda dalam pusat data. Pada dasarnya, ini adalah perlombaan kapasitas global di mana AS membangun kembali manufaktur domestik, Jepang menguasai bahan baku, Eropa mendorong integrasi heterogen, dan Cina dengan cepat mengembangkan rantai pasokan terintegrasi secara vertikal. Perlombaan senjata di era fotonik telah memasuki tahap intensif.

marsbit12j yang lalu

Chip Optik, Perluasan Kapasitas Produksi Secara Kolektif

marsbit12j yang lalu

1996 atau 1999? Ujian Pertama Wash adalah 'Bagaimana Melihat AI'

Artikel ini membahas dilema utama yang dihadapi ketua Federal Reserve terbaru, Christopher Warsh, dalam menanggapi ledakan AI. Inti persoalannya adalah apakah kemajuan AI saat ini mirip dengan situasi 1996 — di mana Alan Greenspan membiarkan ekonomi tumbuh tanpa menaikkan suku bunga karena percaya pada pertumbuhan produktivitas — atau lebih mirip 1999, ketika Greenspan akhirnya menaikkan suku bunga secara agresif untuk mencegah overheating ekonomi. Warsh cenderung pada pendekatan 1996, berargumen bahwa manfaat produktivitas AI membutuhkan waktu untuk terlihat dalam data resmi, dan menaikkan suku bunga terlalu dini justru dapat meredam pertumbuhan yang sebenarnya membantu menekan inflasi. Namun, konteks makroekonominya berbeda: tekanan tarif, defisit fiskal yang membesar, dan memudarnya manfaat globalisasi membuat risiko inflasi lebih tinggi daripada era 1990-an. Di sisi lain, kritikus seperti Austan Goolsbee dari Bank Sentral Chicago berpendapat bahwa ledakan AI yang sudah diantisipasi banyak orang justru dapat memicu kenaikan pengeluaran di muka, mendorong overheating ekonomi dan mengharuskan kenaikan suku bunga yang lebih tajam nantinya. Perdebatan ini mencerminkan perpecahan internal di Fed. Paradoks terakhir bagi Warsh adalah keinginannya untuk menghapus "forward guidance" (panduan kebijakan ke depan), suatu praktik yang justru dibuat pada 1999. Jika ekonomi memburuk, ia harus memilih antara menggunakan alat yang ingin dihapusnya atau menghadapi gejolak pasar akibat ketidakpastian. Jawaban atas semua ini bergantung pada penilaiannya: apakah kita berada di tahun 1996 atau 1999?

marsbit14j yang lalu

1996 atau 1999? Ujian Pertama Wash adalah 'Bagaimana Melihat AI'

marsbit14j yang lalu

Trading

Spot
Futures
活动图片