Her's Why Bitcoin (BTC) May Bounce To New All Time High Soon

CoingapeDipublikasikan tanggal 2022-03-23Terakhir diperbarui pada 2022-03-24

Abstrak

Bitcoin has also managed to avoid the near-term weakness experienced by stocks, after the Fed said it would be more aggressive in its moves to curb inflation.

Bitcoin jumped to nearly $44,000 this week, amid increased institutional trading and as a large number of tokens were moved off exchanges. Recent data suggests that these outflows could herald more strength for the world’s largest cryptocurrency.
The token is up nearly 7% over the past seven days, with its latest bounce coming just after the U.S. Federal Reserve hiked interest rates as expected. A bulk of this strength has been attributed to institutional trading, with growing interest from major Wall Street firms.
Bitcoin has also managed to avoid the near-term weakness experienced by stocks, after the Fed said it would be more aggressive in its moves to curb inflation. As of Wednesday, it was trading around $42,000.
Recent outflows could signal more Bitcoin strength
According to data from crypto researched Intotheblock, the token had its largest exchange outflow in over one month on Monday, with over 15,000 units being moved off exchanges. Historically, large outflows have always preceded a significant jump in the token’s price.

In late-January, the last time that over 14,000 tokens were moved off exchanges, Bitcoin’s price surged nearly 20% in a week to cross $44,000.
The case for a BTC bounce is bolstered by the fact that lower token supply usually makes for higher prices. And with a large amount of tokens being taken off active exchanges, BTC supply is bound to come down, supporting prices.
Crypto sentiment still on the ropes
Even with recent gains, sentiment towards the crypto market is largely constrained. The economic ructions from the Russia-Ukraine conflict are a key detractor of optimism, especially with inflation set to surge in their wake.
While Bitcoin dodged the initial market weakness from a hawkish Fed, it is eventually also expected to come under pressure from tighter monetary policy this year. The token has faltered at the $44,000 level several times this year, and has stuck to a tight range for a month.

Bacaan Terkait

Momen Ballmer Ethereum: Saat Semua Meragukan, Pasokan yang Beredar Mulai Menghilang

**Ringkasan: Saat Semua Meremehkan Ethereum, Pasokan yang Beredar Justru Menyusut** Narasi bearish tentang Ethereum kini mendominasi: pendiri Bankless menjual ETH, developer muda beralih ke Solana, dan Ethereum Foundation dianggap menghindari risiko. Situasi ini disebut sebagai "Era Ballmer" Ethereum, mengacu pada periode Microsoft di bawah Steve Ballmer yang dianggap stagnan, namun sebenarnya fondasi bisnisnya terus tumbuh solid di balik layar. Di balik narasi permukaan, dasar fundamental Ethereum menunjukkan tren positif: * **30% dari total pasokan ETH telah di-staking**, mengunci likuiditas. * Perusahaan seperti BitMine dan calon ETF spot terus menyerap ETH dari pasar. * Regulasi yang semakin jelas (seperti keputusan SEC tentang staking, GENIUS Act, CLARITY Act) mengubah crypto dari ancaman menjadi kerangka hukum yang diakui, membuka jalan bagi modal institusional. Sementara dominasi Ethereum dalam aset tokenisasi (seperti stablecoin USDC) dan DeFi berkurang dibandingkan pesaing seperti Solana, Ethereum tetap menjadi *settlement layer* netral tepercaya pilihan utama untuk aset tokenisasi institusional. Kompresi pasokan yang beredar, permintaan akan yield staking, dan statusnya sebagai pilihan default institusi dapat mendorong penilaian ulang harga ETH, bahkan tanpa kemenangan dalam "perang fee". Kesimpulannya, meskipun energi budaya dan inovasi mungkin bergeser ke chain lain, lanskap crypto secara keseluruhan sedang mengadopsi bentuk yang lebih terlembaga. Ethereum, dengan efek jaringan dan netralitasnya, diposisikan dengan baik untuk menangkap nilai dari gelombang institusional ini. Narasi bearish yang telah menjadi konsensus justru menciptakan peluang saat fondasi sebenarnya sedang diperkuat.

marsbit11m yang lalu

Momen Ballmer Ethereum: Saat Semua Meragukan, Pasokan yang Beredar Mulai Menghilang

marsbit11m yang lalu

Bloomberg Mengungkap: Bagaimana Orang Kaya China Mengatasi Batas 50.000 Dolar per Tahun untuk Memindahkan Aset?

Penelitian Bloomberg mengungkap cara orang kaya China menghindari batas penukaran valuta asing sebesar $50.000 per tahun. Meski kontrol modal ketat diterapkan sejak 1994 dan diperkuat pasca 2015, diperkirakan $150 miliar masih bocor setiap tahun melalui lima jalur utama: 1. **Jaringan Hawala/“Duiqiao”**: Transfer terbesar tanpa dana fisik melintasi batas. Uang RMB disetor ke rekening dalam negeri, dan mitra luar negeri menyetorkan mata uang asing ke rekening klien di luar negeri. 2. **“Semut Pindah”**: Menggunakan kuota $50.000 legal banyak orang untuk dikirim ke satu rekening luar negeri, namun kini diburu algoritma. 3. **Pemalsuan Faktur Perdagangan**: Perusahaan menaikkan nilai faktur impor atau menurunkan nilai ekspor untuk mengalirkan dana ke perusahaan shell luar negeri. 4. **Migrasi Saluran**: Beralih dari broker online yang dilarang ke jalur manajemen kekayaan lintas batas bank besar (seperti BOC Hong Kong) atau program QDII yang disetujui negara. 5. **Pengaturan Struktural**: Menggunakan kombinasi perwalian keluarga lepas pantai, asuransi jiwa Hong Kong, dan program investasi imigrasi. Regulator merespons dengan fokus baru pada individu, bukan hanya perusahaan. Penerapan CRS sejak 2024 membuat rekening luar negeri warga China di 100+ negara menjadi transparan bagi otoritas pajak. Cryptocurrency seperti USDT juga telah menjadi target penindakan hukum. Dengan lebih dari 6,2 juta rumah tangga kaya di China, tekanan untuk mendiversifikasi aset ke luar negeri tetap kuat di tengah ketidakpastian ekonomi dan geopolitik.

marsbit13m yang lalu

Bloomberg Mengungkap: Bagaimana Orang Kaya China Mengatasi Batas 50.000 Dolar per Tahun untuk Memindahkan Aset?

marsbit13m yang lalu

Trading

Spot
Futures
活动图片