Loopring Ends Its Pioneer zk-Rollup DEX After Years of Limited User Adoption

TheNewsCryptoDipublikasikan tanggal 2026-06-29Terakhir diperbarui pada 2026-06-29

Abstrak

Loopring has officially shut down its decentralized exchange, ending one of Ethereum's earliest zk-rollup platforms. The project, which raised $45 million in 2017, pioneered scaling solutions but ultimately failed to achieve significant user adoption. The team cited several reasons for the closure: the platform's lack of a virtual machine limited developer innovation, business execution was insufficient, and new zkEVM networks like zkSync and StarkNet surpassed its technology. User funds remain safe, with a two-week balance verification period before direct distribution to wallets begins. This follows the discontinuation of its wallet services in 2025, marking Loopring's complete exit from the DEX business.

Loopring officially shut down its decentralized exchange, marking the end of one of Ethereum’s earliest zk-rollup platforms. All trading functionalities were immediately stopped, and the relayer was turned off right after the official announcement made via Loopring’s X account.

The shutdown ends a project that once demonstrated how zero-knowledge rollups could efficiently scale Ethereum. Loopring raised $45 million through its initial coin offering in 2017.

Despite its technical merits, Loopring acknowledged that users never adopted the platform on a meaningful scale. The team pointed out that the lack of a virtual machine on the platform did not allow developers to compose and develop more advanced real-world applications. Without payment use cases and an evolving ecosystem, Loopring found it difficult to compete with new infrastructure built for blockchain technology.

Source: X Article

Additionally, Loopring admitted it was good at the software but failed to build the business acumen needed to drive adoption. Furthermore, it mentioned that the delisting of the LRC token throughout 2026 only worsened the problems.

New zkEVM Networks Outperformed Loopring’s Technology

Finally, the development team admitted that modern zkEVM-based networks were able to surpass its proprietary technology. New projects such as zkSync, Scroll, and StarkNet created Ethereum-based environments that allowed deploying smart contracts more easily and developing a decentralized applications ecosystem.

The team admitted that it simply did not make sense anymore to continue working on Loopring. This is why the exchange was closed down in an orderly fashion. The project had earlier ended wallet services in July 2025 owing to scaling issues. The latest update marks Loopring’s eventual exit from the original decentralized exchange business.

Direct Distribution of Assets by Team

The Loopring team made assurances that all user funds are still safe despite the imminent closure. Final balances will be computed, an inventory of assets provided, and two weeks allocated to check balances before any distribution can take place.

Distributions will follow after the two-week period, whereby the Loopring team will distribute assets directly to the wallets in batches. The team will automatically convert liquidity pool holdings to the respective token, take care of all gas fees, and undertake the whole process without the need for Merkle proofs.

Highlighted Crypto News:

$3M Exploit Hits Polymarket: Users to Receive Full Refunds After Third-Party Breach

TagsBlockchainCryptocurrencyDEXETHEREUMEthereum (ETH)LoopringZK-rollupszkrollup

Kripto yang Sedang Tren

Pertanyaan Terkait

QWhat was the official reason given by Loopring for shutting down its decentralized exchange?

ALoopring officially shut down its DEX due to years of limited user adoption. The team acknowledged a lack of business acumen to drive growth, the technical limitation of not having a virtual machine for advanced applications, and the inability to compete with newer zkEVM-based networks like zkSync, Scroll, and StarkNet.

QAccording to the article, what key technological feature did newer zk-rollup projects have that Loopring lacked?

ANewer zk-rollup projects like zkSync, Scroll, and StarkNet are based on zkEVM (Zero-Knowledge Ethereum Virtual Machine) technology. This allowed them to create environments where developers could easily deploy smart contracts and build a decentralized applications ecosystem, surpassing Loopring's proprietary technology which did not include a virtual machine.

QHow will the Loopring team handle the distribution of user assets after the shutdown?

AThe Loopring team will compute final user balances, provide an asset inventory, and allow a two-week period for balance verification. After this, they will distribute assets directly to user wallets in batches. They will automatically convert liquidity pool holdings, cover all gas fees, and conduct the process without requiring Merkle proofs.

QWhat earlier service did Loopring end in July 2025, and why?

ALoopring ended its wallet services in July 2025 due to scaling issues.

QHow much funding did Loopring raise in its 2017 initial coin offering (ICO)?

ALoopring raised $45 million through its initial coin offering (ICO) in 2017.

Bacaan Terkait

Di Era AI, Apa Lagi yang Tersisa dari Bitcoin?

**Era AI: Apa yang Tersisa dari Bitcoin?** Penulis merenungkan hubungan antara AI dan Bitcoin. AI telah membuat produksi konten—seperti teks, gambar, dan video—semakin murah dan mudah didapat. Namun, hal ini menyebabkan banjir informasi, di mana yang asli dan palsu semakin sulit dibedakan. Nilai "keterverifikasian" menjadi sangat berharga. Di sinilah peran Bitcoin dilihat kembali. Kritik bahwa Bitcoin "membuang-buang listrik" dipertimbangkan ulang. Jika AI menghabiskan energi untuk "kemampuan" (menghasilkan konten), Bitcoin menghabiskannya untuk "keterverifikasian." Jaringan Bitcoin, yang diamankan oleh bukti kerja (proof-of-work), membuat biaya untuk memanipulasi catatan transaksi menjadi sangat tinggi. Ini menciptakan sistem buku besar yang tidak bergantung pada kepercayaan terhadap pihak manapun, melainkan pada verifikasi kriptografis yang independen. Penulis menarik analogi dengan sejarah: mesin cetak Gutenberg (seperti AI) mengurangi biaya reproduksi pengetahuan, sementara pembukuan double-entry (seperti blockchain) mengurangi biaya kepercayaan dalam bisnis. Saat ini, AI mendorong biaya produksi konten mendekati nol, sementara blockchain berupaya mengurangi biaya verifikasi dalam dunia digital. Kesimpulannya, AI dan blockchain bukanlah pesaing. AI berfokus pada **penciptaan** (mengurangi biaya produksi), sementara blockchain seperti Bitcoin berfokus pada **pembuktian** (mengurangi biaya verifikasi). Di era di mana AI dapat menghasilkan segalanya, yang menjadi langka bukanlah lebih banyak konten, melainkan lebih banyak fakta yang dapat diverifikasi secara independen. Bitcoin, dalam pandangan ini, adalah "mesin penghasil keterverifikasian."

marsbit17m yang lalu

Di Era AI, Apa Lagi yang Tersisa dari Bitcoin?

marsbit17m yang lalu

Era AI, Apa yang Tersisa dari Bitcoin?

Dalam era AI, kemampuan untuk menghasilkan konten palsu menjadi semakin mudah dan murah, sehingga meragukan keaslian informasi. Hal ini menggeser nilai dari kelimpahan informasi menjadi kemampuan untuk memverifikasi keasliannya. Bitcoin, yang sering dikritik karena konsumsi energinya yang besar, sekarang dapat dilihat dari sudut pandang yang berbeda: energi itu digunakan untuk menciptakan "keterverifikasian," bukan sekadar mempertahankan buku besar. Bitcoin tidak memerlukan kepercayaan pada pihak ketiga; ia mengandalkan matematika, kriptografi, dan jaringan node global untuk memverifikasi setiap transaksi. Dalam dunia di mana AI dapat memalsukan konten dengan mudah, kemampuan Bitcoin untuk menyediakan catatan yang tidak dapat dimanipulasi menjadi sangat berharga. Konsumsi energinya secara efektif meningkatkan biaya untuk memanipulasi sejarah transaksi, sehingga menjamin integritasnya. AI dan Bitcoin bukanlah pesaing; mereka adalah dua sisi dari mata uang yang sama. AI menurunkan biaya produksi konten, sementara blockchain (dengan Bitcoin sebagai contoh utama) menurunkan biaya verifikasi dan membangun kepercayaan dalam dunia digital. Seperti mesin cetak dan pembukuan double-entry pada masa Renaissance, keduanya memainkan peran pelengkap: satu menciptakan, yang lain membuktikan. Dalam era kelebihan informasi ini, apa yang menjadi langka dan berharga adalah fakta yang dapat diverifikasi secara independen.

链捕手25m yang lalu

Era AI, Apa yang Tersisa dari Bitcoin?

链捕手25m yang lalu

Label 'ghain hantu' Cardano terbantahkan? Mengapa 34 dApp ADA tidak menggambarkan keseluruhan cerita

Judul artikel membantah label "rantai hantu" yang dilekatkan pada Cardano, dengan menjelaskan mengapa hanya memiliki 34 dApps tidak menggambarkan situasi sebenarnya. Artikel ini mendefinisikan "rantai hantu" sebagai blockchain yang berjalan secara teknis namun memiliki aktivitas on-chain dan pengembangan yang sangat minimal. Sementara Cardano menunjukkan aktivitas pengembangan yang kuat (tertinggi kedua di antara Layer-1 utama), metrik seperti jumlah dApps, transaksi, dan pengguna aktifnya jauh di bawah pesaing seperti Ethereum, Solana, atau TRON. Penulis mengakui faktor-faktor yang dikritik, seperti penutupan explorer TapTools dan peringatan pendiri Charles Hoskinson mengenai tantangan proyek dApp. Namun, penjelasan utama untuk kesenjangan aktivitas ini terletak pada model Extended Unspent Transaction Output (EUTXO) Cardano. Model ini memungkinkan protokol "batcher" menggabungkan banyak pesanan menjadi satu transaksi teroptimasi sebelum dicatat di ledger, yang mengakibatkan perkiraan aktivitas on-chain yang lebih rendah secara statistik. Kesimpulannya, meskipun aktivitas jaringan Cardano lebih rendah, hal itu tidak serta-merta membuatnya menjadi "rantai hantu". Perbedaan arsitektur (EUTXO) dan fokusnya pada keamanan, keberlanjutan, serta metodologi pengembangan yang ketat menempatkannya dalam ceruk yang unik untuk kepatuhan institusional dan kebutuhan perusahaan, dibandingkan dengan blockchain lain yang mengutamakan throughput tinggi atau volume DeFi.

ambcrypto1j yang lalu

Label 'ghain hantu' Cardano terbantahkan? Mengapa 34 dApp ADA tidak menggambarkan keseluruhan cerita

ambcrypto1j yang lalu

Trading

Spot

Artikel Populer

Cara Membeli ZK

Selamat datang di HTX.com! Kami telah membuat pembelian ZKsync (ZK) menjadi mudah dan nyaman. Ikuti panduan langkah demi langkah kami untuk memulai perjalanan kripto Anda.Langkah 1: Buat Akun HTX AndaGunakan alamat email atau nomor ponsel Anda untuk mendaftar akun gratis di HTX. Rasakan perjalanan pendaftaran yang mudah dan buka semua fitur.Dapatkan Akun SayaLangkah 2: Buka Beli Kripto, lalu Pilih Metode Pembayaran AndaKartu Kredit/Debit: Gunakan Visa atau Mastercard Anda untuk membeli ZKsync (ZK) secara instan.Saldo: Gunakan dana dari saldo akun HTX Anda untuk melakukan trading dengan lancar.Pihak Ketiga: Kami telah menambahkan metode pembayaran populer seperti Google Pay dan Apple Pay untuk meningkatkan kenyamanan.P2P: Lakukan trading langsung dengan pengguna lain di HTX.Over-the-Counter (OTC): Kami menawarkan layanan yang dibuat khusus dan kurs yang kompetitif bagi para trader.Langkah 3: Simpan ZKsync (ZK) AndaSetelah melakukan pembelian, simpan ZKsync (ZK) di akun HTX Anda. Selain itu, Anda dapat mengirimkannya ke tempat lain melalui transfer blockchain atau menggunakannya untuk memperdagangkan mata uang kripto lainnya.Langkah 4: Lakukan trading ZKsync (ZK)Lakukan trading ZKsync (ZK) dengan mudah di pasar spot HTX. Cukup akses akun Anda, pilih pasangan perdagangan, jalankan trading, lalu pantau secara real-time. Kami menawarkan pengalaman yang ramah pengguna baik untuk pemula maupun trader berpengalaman.

358 Total TayanganDipublikasikan pada 2024.12.13Diperbarui pada 2026.06.02

Cara Membeli ZK

Diskusi

Selamat datang di Komunitas HTX. Di sini, Anda bisa terus mendapatkan informasi terbaru tentang perkembangan platform terkini dan mendapatkan akses ke wawasan pasar profesional. Pendapat pengguna mengenai harga ZK (ZK) disajikan di bawah ini.

活动图片