Why Weakening Bearish Bitcoin Momentum Could Give Bulls The Upper Hand

newsbtcDipublikasikan tanggal 2022-07-09Terakhir diperbarui pada 2022-07-09

Abstrak

Bitcoin price has taken a beating over the last several months, resulting in the worst quarterly close since 2011. The bearish momentum has been brutal as crippling contagion spreads across...

Bitcoin price has taken a beating over the last several months, resulting in the worst quarterly close since 2011. The bearish momentum has been brutal as crippling contagion spreads across the cryptocurrency market.

However, bearish momentum on weekly timeframes has begun to weaken, providing bulls with their first opportunity to capitalize in some time.

Bitcoin Bearish Weekly Momentum Begins To Weaken, Can Bulls Capitalize?

In the real world, momentum is the measure of velocity and mass. In finance, the term describes the rate of speed at which an asset’s price changes. Considering that Bitcoin price plummeted from above $60,000 to $20,000 in a matter of six months, bearish momentum has been a force to be reckoned with.

However, on weekly timeframes, the first signs of waning bearish momentum have been spotted.

BTCUSD_2022-07-08_11-18-01

Bearish momentum is weakening according to the LMACD histogram | Source: BTCUSD on TradingView.com

On the MACD histogram, bearish momentum is weakening as can be seen by the histogram changing from red to pink.

The current situation is not an all-clear signal. Momentum will only be considered bullish when the histogram passes the zero line and turns green.

BTCUSD_2022-07-08_11-22-23

A green signal isn't always a worthwhile buy | Source: BTCUSD on TradingView.com

As the chart above demonstates, turning green doesn’t always confirm significant upside. So why then might bulls want to consider the current setup? As the saying goes, “when in doubt, zoom out.”

Upon zooming out, bearish weekly momentum waning becomes more significant when you consider the level at which the shift in momentum is occurring. The weekly MACD is currently giving a reading of -0.20. Past bear market bottoms came in a fraction of a point below at -0.21.

BTCUSD_2022-07-08_11-24-54

Momentum is turning where past bottoms have been put in | Source: BTCUSD on TradingView.com

This is still no guarantee that bulls will regain the upper hand. However, could a third bottom at this level end up being the charm crypto holders were hoping for? Bulls will need to capitalize on the potential momentum shift, and follow through – pushing the histogram into the green.

Reclaiming $29,000 would be a strong first step, but given the potential of a recession ahead, investors would likely need more convincing at a return to $50,000 or above.

If bearish momentum returns before the week is over and pushed the histogram into the red, bulls can forget about a rally for a little while longer.

Bacaan Terkait

Mengungkap Paus Besar Pasar Prediksi Piala Dunia: Uang Pintar Tersandung di Lapangan Hijau, “Beli Tidak” Ungguli “Beli Ya”

**Pasar Prediksi Piala Dunia: Uang Pintar Juga Bisa Salah, "Beli Tidak" Ungguli "Beli Ya"** Analisis PA Beacon terhadap data kontrak Piala Dunia di Polymarket mengungkap kinerja uang besar ("paus") dalam pasar prediksi. Dari 20 pertandingan grup yang telah selesai hingga 17 Juni 2026, total pembelian sebelum pertandingan sebesar $89.55 juta hanya mencapai *hit rate* tertimbang 48.5%. Jika posisi dibawa hingga penyelesaian, diperkirakan justru rugi sekitar $1.76 juta (ROI -2%). Kesimpulan utamanya: pasar prediksi bukanlah bola kristal, melainkan cermin yang memantulkan bias dan emosi kolektif. Hasil seri (8 dari 20 pertandingan) menjadi faktor risiko utama yang sering "menghabisi" taruhan pada tim favorit. Strategi "beli Tidak" (misal: "Tim A tidak menang") secara agregat lebih menguntungkan daripada "beli Ya" dalam sampel ini, dengan *hit rate* 62.4% vs 37.5%. Ini menunjukkan pasar sering memberi harga berlebih pada hasil favorit. Namun, keunggulan ini menyempit setelah beberapa tim besar seperti Prancis dan Argentina menang sesuai prediksi. Beberapa contoh ekstrem terlihat: alamat *mintblade* untung besar ~$6.77 juta dengan bertaruh melawan Iran, sementara *LEEEROYJENKINS* kehilangan ~$8.39 juta karena bertaruh pada kemenangan Belgia yang akhirnya seri. Pasar ini sangat volatil; taruhan yang salah bisa menghilangkan seluruh modal. Walau ada "paus" satu pertandingan, alamat yang konsisten di banyak pertandingan seperti *swisstony* (*hit rate* 73.3% di 16 laga) lebih menarik untuk diikuti. Analisis ini menunjukkan bahwa di tengah ketidakpastian sepak bola, "uang pintar" yang sesungguhnya adalah yang mampu mengidentifikasi kesalahan harga dan selalu menghormati risiko, bukan yang mengira bisa meramal masa depan.

marsbit13m yang lalu

Mengungkap Paus Besar Pasar Prediksi Piala Dunia: Uang Pintar Tersandung di Lapangan Hijau, “Beli Tidak” Ungguli “Beli Ya”

marsbit13m yang lalu

Bezos Memulai Startup Ketiganya, Tetap Tak Bisa Hindari Musk

Setelah pensiun dari CEO Amazon pada 2021, Jeff Bezos kembali terjun ke lapangan eksekutif dengan mendirikan startup AI Prometheus. Perusahaan yang berfokus pada pengembangan "Artificial General Engineer" ini, dalam waktu kurang dari setahun, telah meraih valuasi luar biasa sebesar $41 miliar melalui dua putaran pendanaan. Prometheus bertujuan menciptakan AI yang dapat berpartisipasi dalam seluruh siklus penemuan produk fisik kompleks – mulai dari desain, simulasi, pengujian, hingga manufaktur – untuk mempercepat inovasi di bidang seperti kedirgantaraan, chip, dan robotika. Ini merupakan keterlibatan langsung ketiga Bezos setelah Amazon dan Blue Origin. Pengalaman membangun platform digital Amazon dan mengatasi tantangan teknik fisik Blue Origin kini bertemu di Prometheus. Meski demikian, langkahnya kembali ke dunia startup di usia 61 tahun tetap mengundang perhatian, terlebih dalam percaturan AI fisik yang juga diincar oleh rival lamanya, Elon Musk, melalui Tesla, SpaceX, dan xAI. Perbedaan pendekatan terlihat: jika Musk fokus pada bagaimana AI menjalankan tugas di dunia nyata (seperti pada mobil otonom dan robot), Bezos lewat Prometheus menekankan pada peran AI dalam proses penciptaan dan rekayasa produk itu sendiri. Di tengah persaingan ketat di bidang AI industri yang melibatkan pemain seperti OpenAI, Anthropic, dan Nvidia, Bezos berupaya memimpin dengan mendefinisikan ulang masa depan rekayasa manusia di era AI.

marsbit16m yang lalu

Bezos Memulai Startup Ketiganya, Tetap Tak Bisa Hindari Musk

marsbit16m yang lalu

Apakah Saham AS Tidak Akan Turun Lagi? Jebakan "Melt-up" di Era Utang Tinggi

Judul yang menarik: "Apakah Saham AS Tidak Akan Turun Lagi? Jebakan 'Great Melt-up' di Era Utang Tinggi". Artikel ini membahas teori populer di Reddit yang menyatakan bahwa dengan utang pemerintah AS yang sangat besar (mencapai $40 triliun) dan defisit yang terus berlanjut, pasar saham secara matematis tidak mungkin turun lagi. Alasannya? Pemerintah diduga akan terus mencetak uang untuk membayar utang, menyebabkan inflasi yang pada gilirannya akan mengerek harga aset seperti saham. Ini disebut sebagai skenario "Great Melt-up" atau kenaikan harga aset yang didorong momentum dan FOMO (takut ketinggalan), bukan fundamental. Penulis, Graham Stephan, menganalisis teori ini dengan hati-hati. Dia mengingatkan bahwa fenomena serupa terjadi pada gelembung dot-com tahun 1990-an dan gelembung aset Jepang, yang akhirnya pecah dengan kerugian besar. Meski dalam dunia dengan utang tinggi, aset cenderung lebih baik daripada uang tunai, klaim bahwa saham "tidak mungkin turun" itu berbahaya dan keliru. Poin-poin kunci sanggahan: 1. Sejarah membuktikan, dalam hiperinflasi (seperti di Jerman, Zimbabwe), pasar saham bisa runtuh sebelum naik, dan banyak investor terpaksa menjual di titik terendah untuk memenuhi kebutuhan hidup. 2. Kenaikan harga nominal saham tidak sama dengan peningkatan kekayaan riil jika inflasi menggerus daya beli. 3. Indikator valuasi seperti CAPE Ratio menunjukkan pasar AS saat ini sangat mahal, sebanding dengan puncak gelembung internet tahun 1999. Kesimpulan penulis adalah skenario yang paling mungkin bukanlah default utang atau hiperinflasi, melainkan periode panjang "penindasan finansial" (financial repression), di mana inflasi sedikit lebih tinggi daripada suku bunga, sehingga utang terkikis perlahan dan daya beli uang tunai menurun. Saham mungkin terus naik dalam jangka panjang secara nominal, tetapi tetap berisiko mengalami koreksi besar (30-40% atau lebih) di tengah jalan, dan return riil (setelah inflasi) bisa jauh lebih rendah. Nasihat untuk investor: Jangan terpancing FOMO dan memasukkan semua modal ke saham yang paling mahal dengan leverage. Lebih baik menjaga portofolio yang terdiversifikasi (saham, properti, sebagian tunai, emas), memiliki rencana investasi rutin, dan menyimpan cukup cadangan likuiditas agar tidak terpaksa menjual di saat terburuk. Jangan jadikan harapan "pemerintah akan selalu menyelamatkan pasar" sebagai satu-satunya strategi keuangan Anda.

marsbit36m yang lalu

Apakah Saham AS Tidak Akan Turun Lagi? Jebakan "Melt-up" di Era Utang Tinggi

marsbit36m yang lalu

Nasib Bank Digital: Aplikasi yang Tercanggih Sekalipun Tak Ada Artinya Tanpa Izin Bank

**Nasib Bank Digital: Aplikasi Apapun yang Keren, Tidak Sebanding dengan Satu Lisensi Bank** Ratusan startup "bank baru" (neobank) meluncurkan layanan rekening, menarik miliaran pengguna dengan janji nol biaya. Namun, 76% dari mereka masih merugi. Rata-rata, neobank hanya menghasilkan $45 per pengguna per tahun, jauh di bawah $350 yang dicapai bank tradisional. Akar masalahnya adalah model bisnis inti. Neobank awal mengandalkan pendapatan dari biaya transaksi kartu debit, yang sangat kecil. Bank tradisional sebenarnya menghasilkan uang terutama dari **kredit** (pinjaman, hipotek) dan bunga yang dihasilkan. Tanpa lisensi bank penuh, neobank sangat dibatasi dalam menyalurkan kredit skala besar. Contoh sukses seperti **Nubank** di Brasil dan **Revolut** membuktikan titik ini. Nubank tumbuh besar karena bisnis kartu kredit dan pinjamannya, bukan dari rekening gratisnya. Revolut bertahan berkat pendapatan dari forex dan langganan sebelum akhirnya mengembangkan portofolio kreditnya yang tumbuh pesat. **Chime** butuh 12 tahun untuk pertama kali untung, dan titik baliknya adalah ketika produk pinjaman (gaji di muka, pinjaman kecil) meledak. Risiko sistemik juga mengancam. Runtuhnya perantara **Synapse** pada 2024 membekukan dana pengguna dan mengungkap kerapuhan model neobank yang bergantung pada infrastruktur pihak ketiga untuk penyimpanan dan penyelesaian dana. Satu-satunya perlindungan sejati terhadap risiko seperti ini adalah **memiliki lisensi bank sendiri**. Industri kripto kini menyadari hal ini. Banyak perusahaan seperti Paxos, Circle, dan Crypto.com kini mengajukan permohonan **Lisensi Trust Nasional** dari OCC AS. Lisensi ini memungkinkan mereka mengadakan aset, memproses pembayaran, dan beroperasi di bawah satu regulasi federal, menghilangkan ketergantungan pada bank mitra atau perantara yang berisiko. Kesimpulannya, bank digital yang bertahan akhirnya mengadopsi logika bisnis bank tradisional: profit sejati berasal dari kredit. Inovasi ada pada antarmuka yang lebih baik dan suku bunga yang lebih bersaing, tetapi intinya tetap sama. Untuk membangun bisnis keuangan yang tangguh dan menguntungkan dalam jangka panjang, **memegang lisensi bank ternyata lebih penting daripada sekadar memiliki aplikasi yang paling menarik.**

Foresight News44m yang lalu

Nasib Bank Digital: Aplikasi yang Tercanggih Sekalipun Tak Ada Artinya Tanpa Izin Bank

Foresight News44m yang lalu

Trading

Spot
Futures
活动图片