Plasma Teams Up with Trust Wallet to Expand in Stablecoin Market

TheCryptoTimesDipublikasikan tanggal 2025-10-07Terakhir diperbarui pada 2025-10-07

Plasma, a stablecoin-focused blockchain firm building infrastructure for what it calls “Money 2.0,” shared today that it is partnering with Trust Wallet, one of the world’s largest non-custodial crypto wallets to expand access to stablecoins worldwide. 

The integration enables millions of users to send, receive, and manage digital dollars directly through Trust Wallet, powered by Plasma’s fast and low-cost technology. “With Plasma, everyone using Trust Wallet can use stablecoins on their most efficient rails and infrastructure.” the announcement said. 

According to the announcement shared on X, Trust Wallet will soon support Plasma Chain natively, allowing users to move and manage stablecoins like USDT with greater speed, lower fees, and improved reliability.

Building a Bridge for Global Payments

Plasma explained that stablecoins are often viewed as “fintech tools, but in emerging markets, they serve as a financial lifeline”. Many people use them to store value, send money to family members, or make daily payments without relying on traditional banks. 

The company added that the biggest challenge has been distribution, and this partnership plans to solve that by connecting Plasma’s infrastructure to Trust Wallet’s global user base of over 210 million people. Plasma’s mainnet went live on September 25, while it has a close integration with the USDT issuer firm Tether. 

Trust Wallet, known as one of the first crypto wallets, started by helping users buy and hold digital assets. As the crypto market evolved, it became a platform for everyday finance, allowing people to hold, earn, and spend digital dollars. With this integration with Plasma, the wallet can continue this evolution, while offering zero-fee USDT transfers, and instant settlement directly to its app.

Also Read: S&P Global Launches Hybrid Crypto and Stock Index for Broader Exposure


Mobile Only Image

Bacaan Terkait

Upaya Menteri Keuangan AS Tekan Yield Obligasi Memicu 'Trading Depresiasi Mata Uang'! Emas Sentuh Level Tertinggi Tiga Bulan, Bitcoin Tembus Naik Lebih 25% Pekan Ini

Menteri Keuangan AS Janet Yellen berusaha menekan imbal hasil obligasi pemerintah AS jangka panjang, tetapi dampaknya hanya bertahan singkat. Namun, upaya ini memicu pelemahan dolar AS dan menguatkan logika perdagangan "penurunan nilai mata uang". Emas mencapai level tertinggi dalam tiga bulan, sementara Bitcoin melonjak lebih dari 25% dalam seminggu, dengan korelasinya terhadap emas berada di level tertinggi sejak pandemi. Reaksi pasar ini mencerminkan kekhawatiran mendalam tentang defisit fiskal AS yang membengkak (mendekati $2 triliun) dan tekanan struktural pada suku bunga jangka panjang. Tekanan ini berasal dari persaingan global untuk modal, termasuk pembiayaan defisit pemerintah besar-besaran, kebutuhan pendanaan AI, dan penerbitan obligasi korporasi. Pasar melihat aset seperti emas dan Bitcoin sebagai lindung nilai terhadap risiko ini. Meskipun pemerintah berupaya menurunkan biaya pinjaman, inflasi yang persisten membatasi ruang gerak Federal Reserve. Sementara itu, pasar saham tampak tangguh didukung oleh ekspektasi laba yang kuat, khususnya dari sektor teknologi AI. Namun, imbal hasil obligasi yang mendekati 5% tetap menjadi tantangan bagi saham bernilai tinggi. Peringatan datang dari Ray Dalio yang menyarankan untuk mengurangi eksposur obligasi dan memegang emas serta Bitcoin sebagai proteksi terhadap potensi krisis utang AS. Ke depan, pasar akan menguji ketegangan antara keinginan Washington untuk kondisi finansial yang longgar dan realitas ekonomi yang mendorong suku bunga lebih tinggi, dengan fokus pada laporan laba Nvidia dan pertemuan Federal Reserve di Jackson Hole.

华尔街日报4m yang lalu

Upaya Menteri Keuangan AS Tekan Yield Obligasi Memicu 'Trading Depresiasi Mata Uang'! Emas Sentuh Level Tertinggi Tiga Bulan, Bitcoin Tembus Naik Lebih 25% Pekan Ini

华尔街日报4m yang lalu

Trading

Spot
活动图片