Indian Banks to Pilot Tokenized Deposits as Finance Minister Hints at Regulation

ccn.comDipublikasikan tanggal 2025-08-06Terakhir diperbarui pada 2025-10-07

Key Takeaways
  • India’s central bank has sought to suppress crypto adoption and favors CBDCs over stablecoins.
  • In its latest pilot, the central bank is exploring tokenized deposits.
  • Finance Minister Nirmala Sitharaman has argued that India should adapt to new forms of money.

India’s courts and financial regulators have traditionally sought to suppress crypto in the country, restricting exchange activity and warning retail investors to stay away from digital assets. But in recent comments, Finance Minister Nirmala Sitharaman acknowledged that the government may have no choice but to adapt to stablecoins.

In another sign of the changing tide, the Reserve Bank of India (RBI) will join commercial banks in the country to pilot tokenized deposits, paving the way for new, blockchain-based payment rails.

Top Crypto Tax Accounting Software
Sponsored
Disclosure
We sometimes use affiliate links in our content, when clicking on those we might receive a commission at no extra cost to you. By using this website you agree to our terms and conditions and privacy policy.

Adapt to Stablecoins or Risk Exclusion, Sitharaman Warns

Speaking at the Kautilya Economic Conclave on Friday, Oct. 3, Sitharaman said stablecoins “are transforming the landscape of money and capital flows.”

“These shifts may force nations to make binary choices: adapt to new monetary architectures or risk exclusion,” she cautioned.

Sitharaman’s comments contrast with the position held by India’s central bank.

For years, the RBI has sought to suppress crypto adoption in the country. Although a 2018 circular prohibiting banks from servicing crypto companies was eventually struck down by the Supreme Court, the RBI remains broadly opposed to digital assets.

In a document recently cited by Reuters, the central bank warned that stablecoins risked fragmenting India’s financial infrastructure and weakening its existing digital payment system.

The report advised the government against creating legislation to regulate cryptocurrencies, which it said would grant them legitimacy and “may cause the sector to become systemic.”

Government officials generally align with this view. “While there is no ban [on crypto], we don’t encourage it,” Union Minister Piyush Goyal stated recently.

Stablecoins, CBDCs, and Tokenized Deposits

While the RBI takes a negative view of stablecoins, it doesn’t oppose digital money more generally.

India’s Central Bank Digital Currency (CBDC), the e-rupee, is already three years into a large-scale pilot spanning retail and wholesale transactions.

Meanwhile, the RBI’s latest pilot, revealed by Chief General Manager Suvendu Pati on Tuesday, Oct. 7, will see commercial banks explore tokenized deposits.

Tokenized deposits exist in the middle ground between stablecoins and CBDCs. They are privately owned and operated, but rather than treasuries and other financial instruments, they are entirely backed by bank deposits.

Other central banks also favor tokenized deposits over stablecoins.

Earlier this year, Bank of England (BoE) Governor Andrew Bailey said he would rather see banks tokenize deposits than issue stablecoins, which he warned could suppress the availability of credit.

In the end, however, Sitharaman may be right. With stablecoin adoption surging, countries that don’t adapt risk being excluded from a rapidly expanding digital economy that is already transforming how money moves around the globe.

Bacaan Terkait

Pidato Terbaru Dan Bin: Jangan Lewatkan Sebuah Era yang Hebat

**Intisari Pidato Dan Bin: Jangan Lewatkan Era Hebat (Generasi AI)** Pada 29 Juni, Dan Bin, Chairman Dongfang Harbor, menyampaikan pidato bertajuk "Jangan Lewatkan Era Hebat" di forum strategis Gelonghui. **Inti Argumen:** Daripada mengkhawatirkan gelembung jangka pendek di pasar AI, risiko terbesar adalah justru **kehilangan keseluruhan era teknologi ini.** AI dipandang sebagai gelombang disruptif yang lebih dahsyat daripada era elektronik, internet, dan mobile internet. **Perspektif Utama:** 1. **Siklus Industri Panjang:** Kemajuan teknologi, bukan suku bunga atau faktor makro jangka pendek, adalah pendorong utama pertumbuhan pasar. Era AI diperkirakan akan memiliki siklus panjang, berpotensi mengikuti ritme era internet (sekitar 10 tahun). Titik kritis risiko dapat muncul sekitar tahun 2033 (dihitung sejak peluncuran ChatGPT akhir 2022), bukan hanya dalam 3-4 tahun. 2. **Visi Peradaban "Kehidupan Silikon":** Dari sudut pandang peradaban jangka panjang, kecerdasan berbasis silikon (AI) memiliki kemungkinan besar untuk menggantikan atau menjadi tenaga produktif dominan dibandingkan kehidupan berbasis karbon (manusia), terutama untuk kelangsungan peradaban di masa depan yang sangat jauh. 3. **Persaingan Global & Aturan Baru:** Kompetisi AI antara AS dan Tiongkok dianggap sangat krusial sehingga tidak ada pihak yang boleh kalah. AI juga mengubah aturan perang, seperti terlihat dalam konflik terkini. 4. **Pelajaran dari Sejarah Investasi:** Dan Bin mengutip "penyesalan" figur seperti Charlie Munger yang melewatkan peluang besar di perusahaan teknologi (misalnya Microsoft) sebagai pengingat akan pentingnya memperluas batas kognitif dalam berinvestasi. **Kesimpulan & Seruan:** Investasi harus fokus pada penyebab utama (teknologi) dan menghormati inovasi serta common sense pasar. Di tengah fluktuasi jangka pendek, penting untuk menjaga perspektif jangka panjang. Kita hidup di era transformatif yang istimewa. Jangan biarkan keraguan dan pandangan sempit membuat kita melewatkan era besar yang penuh kemungkinan ini. "Gelombang tidak pernah mengalir mundur. Roda zaman bergerak maju tanpa suara... Jangan lewatkan era agung yang penuh gejolak dan milik kita ini."

marsbit1j yang lalu

Pidato Terbaru Dan Bin: Jangan Lewatkan Sebuah Era yang Hebat

marsbit1j yang lalu

Pidato Terbaru Dan Bin: Jangan Sia-siakan Era yang Hebat Ini

Dalam pidato bertajuk "Jangan Lewatkan Era yang Hebat" pada Konferensi Strategi "2026 – All in Era Silikon Baru" Glonghui, ketua Dongfang Harbor, Dan Bin, menekankan pentingnya menyikapi era kecerdasan buatan (AI) dari perspektif siklus industri jangka panjang. Ia berpendapat bahwa risiko kehilangan peluang di era AI jauh lebih besar daripada kekhawatiran atas gelembung jangka pendek. Menurut Dan Bin, kemajuan teknologi, bukan suku bunga atau kebijakan makro, adalah pendorong utama pertumbuhan pasar modal jangka panjang. Era AI, yang dimulai dengan peluncuran ChatGPT akhir 2022, dinilainya lebih mengganggu dan transformatif dibandingkan era elektronik, internet, atau ponsel. Ia memprediksi siklus industri AI kemungkinan akan berlangsung sekitar sepuluh tahun, dengan titik risiko potensial sekitar tahun 2033. Dari sudut pandang peradaban, Dan Bin menyatakan bahwa kehidupan berbasis silikon (AI/robot) pada akhirnya akan menggantikan atau mendominasi kehidupan berbasis karbon (manusia) sebagai kekuatan produktif utama, terutama untuk kelangsungan peradaban dalam skala waktu kosmik yang sangat panjang. Ia juga menyingkat persaingan AI antara AS dan Tiongkok, menyatakan kedua negara tidak akan mengalah karena implikasi strategisnya, termasuk dalam peperangan. Sambil merefleksikan "penyesalan" Warren Buffett dan Charlie Munger yang melewatkan saham teknologi seperti Microsoft, Dan Bin menekankan perlunya investor memperluas batas kognitif dan berfokus pada penyebab utama. Pidato ditutup dengan seruan untuk tetap tenang, menjaga perspektif luas, dan merangkul peluang yang ditawarkan era transformatif ini, karena melewatkannya akan menjadi kerugian besar.

链捕手1j yang lalu

Pidato Terbaru Dan Bin: Jangan Sia-siakan Era yang Hebat Ini

链捕手1j yang lalu

Trading

Spot
活动图片