Plasma Hires Senior Staffs After $373M Raise Ahead of Mainnet

TheCryptoTimesDipublikasikan tanggal 2025-09-09Terakhir diperbarui pada 2025-09-09

Plasma, a new blockchain built only for stablecoins, has hired three new senior leaders as it prepares for its mainnet launch.

According to the announcement on X, the company has brought in Murat Firat as head of product, Adam Jacobs as head of global payments, and Usmann Khan as head of protocol security. 

The appointments came shortly after the startup raised $373 million in a large token sale. The project is backed by well-known investor Peter Thiel, adding to its credibility in the industry.

Plasma has not shared the date for its mainnet launch, but the network is being designed with special features for stablecoins. Public documents show it will process over 1,000 transactions per second, and offer confidential transactions. It also allows custom gas tokens, and enables zero-fee transfers for USDT. 

The zero-fee transfers are possible through an in-protocol paymaster, which means people using Plasma will not need to hold its native token to send stablecoins.

The company has close ties with Tether, the issuer of USDT. Tether’s chief executive, Paolo Ardoino, is listed on the company’s cap table, while Bitfinex, where Ardoino serve as chief technology officer, led Plasma’s seed and Series A funding rounds. Other investors include USDT0 and Framework Ventures.

“We will work closely with Tether to ensure Plasma becomes a key distribution channel for the most liquid and dominant stablecoin,” Plasma founder and CEO Paul Faecks said.

Moveover, the new executives bring different experience to the project. Firat previously founded BiLira, a Turkish crypto exchange and Lira-pegged stablecoin issuer. Jacobs worked as global head of payments at FTX and later joined Canadian fintech firm Nuvei, while Khan, recognized as a top security researcher on bug-bounty platform ImmuneFi, will oversee protocol security. 

Also Read: SharpLink begins $1.5B buyback amid ETH valuation gap


Mobile Only ImageMobile Only Image

Bacaan Terkait

Gelombang PHK Melanda Dunia Kripto, Wall Street Membeli Aset Inti Sektor dengan Miliaran Dollar

Gelombang PHK melanda industri kripto, sementara Wall Street melakukan akuisisi besar-besaran terhadap aset infrastruktur inti senilai miliaran dolar. Harga Bitcoin yang terus rendah memicu pemutusan hubungan kerja dan otomatisasi di berbagai perusahaan kripto. Namun, berlawanan dengan tren tersebut, aktivitas merger dan akuisisi (M&A) justru meningkat pesat, dengan total transaksi mencapai $9.37 miliar pada paruh pertama 2026. Lembaga keuangan tradisional seperti bank dan penyedia pembayaran menjadi penggerak utama gelombang akuisisi ini. Mereka lebih memilih membeli perusahaan startup yang sudah memiliki lisensi, layanan kustodian, dan saluran pembayaran yang mapan daripada membangun sistem dari nol. Contohnya termasuk akuisisi BVNK senilai $1.8 miliar oleh Mastercard. Tren ini didorong oleh kerangka regulasi yang semakin jelas, seperti MiCA di Uni Eropa. Di sisi lain, pasar tenaga kerja kripto menyusut drastis, dengan hanya 2.932 lowongan aktif yang tersisa secara global pada Juni 2026. Banyak perusahaan seperti Coinbase dan Gemini melakukan PHK, didorong oleh tekanan harga dan efisiensi operasional dari AI. Permintaan talenta kini sangat terkonsentrasi pada posisi teknis dan kepatuhan (compliance). Perusahaan kripto yang kesulitan keuangan menjadi target akuisisi dengan harga diskon besar, seperti akuisisi Messari oleh Blockworks. Modal juga mengalir sangat selektif, hampir secara eksklusif ke bisnis yang menjembatani aset tradisional dan digital, seperti penyedia layanan tokenisasi (contoh: Superstate, Alpaca). Sektor keuangan terdesentralisasi (DeFi) murni dan protokol layer-1 baru hampir tidak menerima pendanaan. Intinya, pasar bearish ini telah menyaring industri: perusahaan dengan model bisnis lemah dan kurang kepatuhan bergabung atau menyusut, sementara mereka yang membangun infrastruktur keuangan yang mematuhi regulasi menarik minat akuisisi dan investasi.

Foresight News7m yang lalu

Gelombang PHK Melanda Dunia Kripto, Wall Street Membeli Aset Inti Sektor dengan Miliaran Dollar

Foresight News7m yang lalu

Mengapa Asuransi DeFi Tidak Laku?

"DeFi Asuransi: Mengapa Tidak Ada yang Membelinya?" Asuransi DeFi dirancang untuk menghilangkan perantara dengan pembayaran klaim otomatis melalui kontrak pintar. Namun, pada kenyataannya, hampir tidak ada yang membelinya. Alasan utamanya adalah biaya premi yang terlalu tinggi. Premi asuransi bisa mencapai 1.5%–6%, yang secara signifikan menggerus keuntungan tahunan dari platform seperti Aave atau Compound (biasanya 3%-4%). Akibatnya, laba bersih pengguna menjadi sangat rendah, bahkan bisa negatif. Risiko di DeFi juga sangat terkait. Satu insiden keamanan (seperti peretasan protokol atau kegagalan oracle) dapat mempengaruhi banyak platform sekaligus. Kolam asuransi DeFi saat ini, dengan total aset hanya sekitar puluhan juta dolar, tidak cukup untuk menanggung kerugian besar seperti peretasan miliaran dolar. Selain itu, model keputusan klaim seperti di Nexus Mutual, di mana pemegang token memutuskan klaim, dapat menciptakan bias untuk menolak pembayaran. Kapasitas asuransi seluruh industri sangat kecil dibandingkan dengan total aset terkunci di DeFi yang mencapai ratusan miliar dolar. Solusi yang muncul berfokus pada pencegahan (seperti program bug bounty) dan mencoba menarik modal reasuransi tradisional, mengakui bahwa dana di dalam ekosistem saja tidak cukup. Intinya, asuransi DeFi saat ini menghadapi paradoks: semua orang butuh perlindungan, tetapi biayanya membuatnya tidak menarik, dan tidak ada yang bisa memaksa pengguna untuk membelinya, sehingga meninggalkan pasar rentan terhadap risiko sistemik.

marsbit3j yang lalu

Mengapa Asuransi DeFi Tidak Laku?

marsbit3j yang lalu

Trading

Spot
活动图片