‘Crypto Cloud Reset’: Putin Adviser Accuses US Of Plot To Erase $35 Trillion Debt

bitcoinistDipublikasikan tanggal 2025-09-09Terakhir diperbarui pada 2025-09-09

Abstrak

A senior adviser to Russian President Vladimir Putin has alleged that the United States is preparing to use cryptocurrencies —specifically...

Trusted Editorial content, reviewed by leading industry experts and seasoned editors. Ad Disclosure

A senior adviser to Russian President Vladimir Putin has alleged that the United States is preparing to use cryptocurrencies —specifically US dollar stablecoins—alongside gold to “devalue” and ultimately reset its towering national liabilities. Speaking at the Eastern Economic Forum in Vladivostok, Anton Kobyakov framed crypto and gold as “alternative currencies” to the dollar-centric system and argued that Washington aims to harness them to address what he called a crisis of confidence in the greenback.

“Right now, the United States is trying to change the rules on the gold and cryptocurrency markets. Just think about their debt – $35 trillion. These are two alternative currencies to the global market,” Kobyakov said.
He added: “Washington’s actions in this direction clearly demonstrate one of the main American goals. They want to solve the problem of lowering the dollar’s trust. The United States, as it was in the 1930s and 1970s, will solve its financial problems at the expense of the whole world, driving everyone into the cryptocurrency cloud.”

Kobyakov’s most arresting claim was operational: “Over time, when part of the US government debt is placed in stablecoins, the US will devalue this debt. In other words, they have a $35 trillion debt, they drive it into the cryptocurrency cloud, devalue it and start from scratch.” The remarks, which were circulated by Russian state-adjacent outlets, did not include a detailed mechanism for how “placing” sovereign obligations into stablecoins would alter their real value.

Can Bitcoin And Crypto (Stablecoins) Erase The US Debt?

The accusation lands amid two relevant backdrops: a US debt load now measured in the mid-$30 trillions and a fast-expanding stablecoin and tokenized-Treasury ecosystem that nonetheless remains orders of magnitude smaller than public debt. Treasury data and Congressional dashboards put gross federal debt at roughly $37.4 trillion in early September, with about $30.1 trillion held by the public. By contrast, the entire stablecoin market stands in the high-$200 billions, and tokenized US Treasury products total about $7.4 billion—hardly a platform capable of “absorbing” sovereign liabilities at scale.

US policy developments complicate Kobyakov’s narrative in another way. In July, President Donald Trump signed the GENIUS Act, the first federal framework for payment stablecoins. The law requires 100% reserve backing in cash and short-term Treasuries and mandates regular public disclosures—design choices that, if anything, tie stablecoin growth to incremental demand for Treasury bills rather than a mechanism for extinguishing US obligations. That is, more regulated stablecoins typically mean more private-sector buying of T-bills to back those tokens, not fewer Treasuries outstanding.

Kobyakov’s historical analogy—invoking the 1930s and 1970s—references episodes when US authorities changed the monetary regime: FDR’s dollar devaluation against gold in 1933–34 and Nixon’s 1971 closure of the gold window. But translating that precedent into a “stablecoin devaluation” is tenuous.

Stablecoins are issued by private or specially licensed entities and are designed to be redeemed at par; moving government liabilities “into” them would neither novate the debt nor change its legal terms. Any genuine devaluation of dollar-denominated debt would still occur via familiar channels—higher inflation, negative real rates, buybacks at discounts, or maturity transformation—not by wrapping the debt in token form.

Beyond the stablecoin debate, Washington has already sketched an alternative pathway: a Strategic Bitcoin Reserve. On March 6, 2025, the White House issued an executive order establishing a federal bitcoin reserve alongside a US Digital Asset Stockpile to manage government-owned crypto (largely from forfeitures) on a long-term, “budget-neutral” basis; companion legislation—the BITCOIN Act introduced in both chambers—would codify governance and disclosure rules.

US President Donald Trump himself has floated the idea in blunt terms. In an Aug. 2024 Fox Business interview with Maria Bartiromo, he mused: “Who knows? Maybe we’ll pay off our $35 trillion, hand them a little crypto check, right? We’ll hand them a little Bitcoin and wipe out our $35 trillion.” The remark was rhetorical rather than an operational plan, but it prefigured the administration’s March 6, 2025 executive order establishing a Strategic Bitcoin Reserve.

At press time, Bitcoin traded at $113,237.

Bitcoin price
BTC rises back above $113,000, 1-day chart | Source: BTCUSDT on TradingView.com
Featured image created with DALL.E, chart from TradingView.com
Editorial Process for bitcoinist is centered on delivering thoroughly researched, accurate, and unbiased content. We uphold strict sourcing standards, and each page undergoes diligent review by our team of top technology experts and seasoned editors. This process ensures the integrity, relevance, and value of our content for our readers.

Jake Simmons has been a Bitcoin enthusiast since 2016. Ever since he heard about Bitcoin, he has been studying the topic every day and trying to share his knowledge with others. His goal is to contribute to Bitcoin's financial revolution, which will replace the fiat money system. Besides BTC and crypto, Jake studied Business Informatics at a university. After graduation in 2017, he has been working in the blockchain and crypto sector. You can follow Jake on Twitter at @realJakeSimmons.

Bacaan Terkait

Ternyata Beginilah Cara Karpathy Menggunakan Claude?

Sejak bergabung dengan Anthropic, aktivitas Andrej Karpathy di komunitas terbuka berkurang drastis. Baru-baru ini, sebuah dokumen bernama CLAUDE.md yang diklaim sebagai panduan penggunaan Claude milik Karpathy beredar di komunitas. Isinya berisi sejumlah prinsip ketat untuk memandu AI dalam menulis kode, yang bertujuan mengurangi kesalahan umum model bahasa besar (LLM). Prinsip-prinsip utama mencakup: 1) **Baca dahulu sebelum menulis** – pahami struktur dan gaya kode proyek yang ada. 2) **Berpikir sebelum menulis kode** – klarifikasi asumsi, pertimbangkan trade-off, dan uraikan rencana. 3) **Tetap sederhana** – hindari desain berlebihan, abstraksi prematur, dan fleksibilitas yang tidak diperlukan. 4) **Modifikasi terarah** – lakukan perubahan minimal yang sesuai dengan gaya kode asli, jangan melakukan reformatting atau pembersihan yang tidak relevan. 5) **Verifikasi dan uji** – pastikan kode berfungsi seperti yang diharapkan dengan pengujian yang tepat. 6) **Debug secara sistematis** – jangan menebak, selidiki akar masalahnya. 7) **Hati-hati dengan dependensi** – hindari menambah dependensi yang tidak perlu. 8) **Komunikasi yang jelas** – jelaskan apa yang dilakukan dan alasannya. Dokumen ini juga menyoroti pola kegagalan umum seperti abstraksi yang salah, "optimistic path", dan "halusinasi pengetahuan". Meskipun keaslian dokumen ini diragukan, isinya sangat selaras dengan pemikiran Karpathy yang telah banyak mengkritik kelemahan LLM dalam pemrograman. Prinsip-prinsip ini, yang juga telah dijadikan template populer di GitHub, dianggap dapat meningkatkan efektivitas dan mengurangi kesalahan saat menggunakan asisten AI seperti Claude untuk pengembangan perangkat lunak.

marsbit1j yang lalu

Ternyata Beginilah Cara Karpathy Menggunakan Claude?

marsbit1j yang lalu

Riset BIT: Halving 2028 Bukanlah Akhir, Perombakan Sejati Industri Pertambangan Bitcoin Baru Dimulai

Industri penambangan Bitcoin sedang mengalami penyesuaian struktural paling kompleks sejak kelahiran protokolnya. Meski harga Bitcoin bertahan di sekitar $61.000 dan hash rate global mendekati 1 ZH/s (hampir rekor tertinggi), profitabilitas penambang terus memburuk. Beberapa indikator—seperti biaya produksi, pendapatan dari biaya transaksi, ekspansi hash rate, dan anggaran keamanan industri—menunjukkan bahwa sektor ini beroperasi di ambang titik impas. Pengurangan hadiah blok (halving) 2028 diprediksi akan mempercepat proses konsolidasi ini. Masalah utamanya bukan hanya berasal dari penurunan subsidi blok pasca-halving, tetapi juga transisi yang belum tuntas ke model pendapatan berbasis biaya transaksi. Banyak perusahaan penambangan kini beralih dari sekadar memproduksi Bitcoin menjadi operator infrastruktur, operator energi, dan penyedia infrastruktur komputasi untuk AI/HPC. Dengan demikian, fokus kompetisi bergeser dari ekspansi hash rate menuju peningkatan model bisnis. Data menunjukkan bahwa dengan harga Bitcoin sekitar $61.000, pendapatan teoritis harian penambang seharusnya sekitar $78 juta, namun kenyataannya hanya sekitar $33 juta—terjadi selisih sekitar 136%. Pendapatan dari biaya transaksi juga rendah, hanya sekitar $220.000 per hari, jauh di bawah perkiraan historis sebesar $9,7 juta. Biaya listrik sendiri menyerap 71,5% dari total pendapatan industri pada tahun 2025. Setelah halving 2028, biaya produksi dasar Bitcoin diproyeksikan naik menjadi sekitar $93.289, yang akan mendorong konsolidasi industri ke perusahaan-perusahaan besar dengan modal kuat dan pendapatan yang terdiversifikasi. Masa depan industri ini terletak pada transformasi dari bisnis "penambangan" murni menjadi bisnis "infrastruktur", yang mengandalkan sumber pendapatan lain seperti manajemen energi dan layanan hosting komputasi AI/HPC. Bagi investor, pertanyaan kuncinya adalah perusahaan mana yang dapat berhasil bertransformasi dan membangun keunggulan kompetitif yang lebih tangguh dalam lanskap baru ini.

marsbit1j yang lalu

Riset BIT: Halving 2028 Bukanlah Akhir, Perombakan Sejati Industri Pertambangan Bitcoin Baru Dimulai

marsbit1j yang lalu

Gelombang PHK Melanda Dunia Kripto, Wall Street Membeli Aset Inti Sektor dengan Miliaran Dollar

Gelombang PHK melanda industri kripto, sementara Wall Street melakukan akuisisi besar-besaran terhadap aset infrastruktur inti senilai miliaran dolar. Harga Bitcoin yang terus rendah memicu pemutusan hubungan kerja dan otomatisasi di berbagai perusahaan kripto. Namun, berlawanan dengan tren tersebut, aktivitas merger dan akuisisi (M&A) justru meningkat pesat, dengan total transaksi mencapai $9.37 miliar pada paruh pertama 2026. Lembaga keuangan tradisional seperti bank dan penyedia pembayaran menjadi penggerak utama gelombang akuisisi ini. Mereka lebih memilih membeli perusahaan startup yang sudah memiliki lisensi, layanan kustodian, dan saluran pembayaran yang mapan daripada membangun sistem dari nol. Contohnya termasuk akuisisi BVNK senilai $1.8 miliar oleh Mastercard. Tren ini didorong oleh kerangka regulasi yang semakin jelas, seperti MiCA di Uni Eropa. Di sisi lain, pasar tenaga kerja kripto menyusut drastis, dengan hanya 2.932 lowongan aktif yang tersisa secara global pada Juni 2026. Banyak perusahaan seperti Coinbase dan Gemini melakukan PHK, didorong oleh tekanan harga dan efisiensi operasional dari AI. Permintaan talenta kini sangat terkonsentrasi pada posisi teknis dan kepatuhan (compliance). Perusahaan kripto yang kesulitan keuangan menjadi target akuisisi dengan harga diskon besar, seperti akuisisi Messari oleh Blockworks. Modal juga mengalir sangat selektif, hampir secara eksklusif ke bisnis yang menjembatani aset tradisional dan digital, seperti penyedia layanan tokenisasi (contoh: Superstate, Alpaca). Sektor keuangan terdesentralisasi (DeFi) murni dan protokol layer-1 baru hampir tidak menerima pendanaan. Intinya, pasar bearish ini telah menyaring industri: perusahaan dengan model bisnis lemah dan kurang kepatuhan bergabung atau menyusut, sementara mereka yang membangun infrastruktur keuangan yang mematuhi regulasi menarik minat akuisisi dan investasi.

Foresight News2j yang lalu

Gelombang PHK Melanda Dunia Kripto, Wall Street Membeli Aset Inti Sektor dengan Miliaran Dollar

Foresight News2j yang lalu

Trading

Spot
活动图片