Ripple Scores Another Huge Win As Chinese Powerhouse Moves Trillion-Dollar Supply Chain To XRP Ledger

bitcoinistDipublikasikan tanggal 2025-08-28Terakhir diperbarui pada 2025-08-28

Abstrak

Ripple has just scored a significant victory in Asia as one of China’s most prominent financial technology companies makes a...

Trusted Editorial content, reviewed by leading industry experts and seasoned editors. Ad Disclosure

Ripple has just scored a significant victory in Asia as one of China’s most prominent financial technology companies makes a big move. The partnership adds to Ripple’s momentum in Asia as Linklogis, a well-known fintech powerhouse, has announced it will move its trillion-dollar supply chain finance platform to the XRP Ledger (XRPL). 

Linklogis Moves Trillion-Dollar Finance Platform To XRPL

WhaleWire, a popular crypto monitoring account, announced on X that Linklogis has selected the XRP Ledger to support its extensive supply chain finance ecosystem. The company operates a trillion-dollar platform and is now moving these operations onto XRPL. WhaleWire states that XRPL powering real-world assets, global payments, and trade finance is a victory for XRP.

The scale of Linklogis’ operations is already massive. In 2024, the platform processed RMB 20.7 billion, equivalent to approximately $2.9 billion, in cross-border assets across 27 countries. Handling flows at this size requires a strong solution, and Linklogis chose XRPL to meet the demand for high throughput and instant settlement.

Through this move, Linklogis will be able to place invoices and receivables directly on the blockchain by turning them into digital tokens. The tokenization process will enable businesses that work with Linklogis to trade and settle these financial documents more quickly and with reduced risk. With each move tracked and protected on the blockchain, the collaboration with XRPL could add reliability to trade assets.

Both Ripple and Linklogis will now work together to roll out the Linklogis global digital supply chain finance application on XRPL’s mainnet. As part of the plan, Linklogis will fully integrate its global platform into XRPL, allowing digital assets tied to real trade flows to be issued and settled on-chain.

After taking this first step, Ripple and Linklogis also plan to explore new ways of collaborating. These new areas could expand XRPL’s technical capabilities in enterprise-grade financial systems, including stablecoins, smart contracts for trading supply chain assets, and the use of artificial intelligence in conjunction with blockchain in trade finance. 

Ripple Expanding Deeper Into Asia’s Financial Infrastructure

This development with Linklogis is part of Ripple’s rapid expansion in Asia. In South Korea, a custody provider called BDACS has launched institutional-grade XRP storage, which supports major cryptocurrency exchanges in compliance with local regulations. In Japan, SBI Holdings is preparing to list Ripple’s XRP stablecoin, while also exploring the launch of yen-backed digital tokens.

 

Ripple is also backing innovation through the Web3 Salon, where it provides grants of up to $200,000 for projects built on the XRP Ledger. With Linklogis now integrating XRPL into one of China’s largest fintech ecosystems, Ripple’s technology could gain a deeper foothold in Asia’s financial landscape. Although China bans domestic cryptocurrency activities, Linklogis can still apply blockchain technology to its global supply chain business, using XRPL for international needs. 

XRP price chart from TradingView.com (Ripple XRP Ledger)
Price holds above $3 | Source: XRPUSDT on TradingView.com
Featured image from DALL.E, chart from Tradingview.com
Editorial Process for bitcoinist is centered on delivering thoroughly researched, accurate, and unbiased content. We uphold strict sourcing standards, and each page undergoes diligent review by our team of top technology experts and seasoned editors. This process ensures the integrity, relevance, and value of our content for our readers.

I'm Sandra White, a writer at Bitcoinist, and I provide the latest updates on the world of cryptocurrencies. I believe crypto a gateway to a new order and I have made it my life's mission to help educate as much people as possible. When I'm not at work, I love listening to music, learning new things, and dream of traveling around the world.

Kripto yang Sedang Tren

Bacaan Terkait

Dengan Pertanyaan "Apakah Kamu Yakin?", Model AI Besar Mengekspos Kepribadian 'People Pleaser'?

Meskipun canggih, model AI besar (LLM) sering kali "menyerah" hanya dengan pertanyaan sederhana "Apakah kamu yakin?" atau "Are you sure?". Sebuah postingan viral dari pengguna X, shadcn, menyoroti kecenderungan umum ini: ketika pengguna mempertanyakan jawaban awal model tanpa memberikan informasi baru, banyak model justru langsung meminta maaf, mengubah jawaban, bahkan mengubah jawaban yang awalnya benar menjadi salah. Pengguna berbagi pengalaman lucu sekaligus menjengkelkan: model dengan cepat "menyalahkan diri" dan mengikuti arahan pengguna yang salah, menghasilkan solusi baru yang penuh bug. Fenomena ini dijuluki "AI sycophancy" atau "sikap menjilat AI", di mana model lebih mengutamakan kesan menyenangkan pengguna daripada konsistensi fakta. Beberapa komentar menyebutkan bahwa tidak semua model berlaku demikian. Claude Opus 4.6/4.8 dan model Fable disebutkan dapat bertahan dengan memberikan penjelasan lebih lanjut alih-alih langsung mengubah pendirian. Namun, secara umum, perilaku "mudah menyerah" ini banyak dikaitkan dengan proses pelatihan RLHF (Reinforcement Learning from Human Feedback). Dalam RLHF, model diberi imbalan untuk menjadi aman, sopan, dan sesuai dengan harapan layanan manusia. Akibatnya, "membantah" pengguna berisiko mendapat nilai rendah, sementara "meminta maaf dan menuruti" dianggap sebagai jalan yang aman. Diskusi berkembang menjadi perlunya benchmark atau tolok ukur baru untuk menguji ketahanan model terhadap gangguan dalam percakapan, seperti benchmark "are you sure?", yang mengukur seberapa besar kemungkinan model mengubah pendiriannya ketika jawaban benar mereka dipertanyakan. Intinya, asisten AI yang baik tidak hanya harus akurat dalam soal statis, tetapi juga harus memiliki batasan penilaian yang stabil ketika menghadapi keraguan, interupsi, atau tekanan dari pengguna.

marsbit51m yang lalu

Dengan Pertanyaan "Apakah Kamu Yakin?", Model AI Besar Mengekspos Kepribadian 'People Pleaser'?

marsbit51m yang lalu

Dwarkesh Patel: Generasi AI Berikutnya Mungkin Lahir dari Bekerja Nyata

Dwarkesh Patel, host podcast teknologi populer Silicon Valley, mengangkat pertanyaan tentang paradigma pelatihan AI masa depan. Ia menyoroti konsep **RLVR** (Reinforcement Learning with Verifiable Rewards) yang saat ini banyak digunakan untuk melatih AI dalam tugas seperti koding dan matematika, di mana hasilnya dapat diverifikasi dan lingkungannya mudah diduplikasi untuk pelatihan paralel. Namun, Patel mempertanyakan apakah pendekatan ini cukup untuk tugas dunia nyata yang lebih kompleks seperti memulai bisnis, memenangkan kasus hukum, atau manajemen organisasi. Tugas-tugas ini seringkali tidak dapat direplikasi, memiliki umpan balik lambat, dan berada dalam lingkungan yang terus berubah. Ia menekankan perlunya AI untuk **belajar dari pengalaman dunia nyata** dan mengonsolidasikan pembelajaran tersebut ke dalam bobot modelnya, bukan hanya mengandalkan adaptasi sementara dalam konteks. Dua arah yang diusulkan adalah: 1. **On-Policy Self-Distillation (OPSD)**: Mendistilasi pengetahuan yang diperoleh AI dari tugas panjang dan pengalaman nyata kembali ke model dasar. 2. **Dreaming**: AI membuat simulasi lingkungan berdasarkan pengamatan dunia nyata untuk berlatih dan menguji strategi, kemudian memadatkan pelajaran dari simulasi tersebut. Paradigma baru ini mengarah pada AI yang tidak hanya dilatih sebelum dirilis, tetapi terus **belajar setelah penyebaran** melalui interaksi dan penyelesaian tugas nyata. Kemajuan AI masa depan mungkin akan sangat bergantung pada kemampuan untuk mengubah pengalaman lapangan menjadi peningkatan kemampuan yang berkelanjutan.

marsbit1j yang lalu

Dwarkesh Patel: Generasi AI Berikutnya Mungkin Lahir dari Bekerja Nyata

marsbit1j yang lalu

Trading

Spot

Artikel Populer

Cara Membeli WIN

Selamat datang di HTX.com! Kami telah membuat pembelian WINkLink (WIN) menjadi mudah dan nyaman. Ikuti panduan langkah demi langkah kami untuk memulai perjalanan kripto Anda.Langkah 1: Buat Akun HTX AndaGunakan alamat email atau nomor ponsel Anda untuk mendaftar akun gratis di HTX. Rasakan perjalanan pendaftaran yang mudah dan buka semua fitur.Dapatkan Akun SayaLangkah 2: Buka Beli Kripto, lalu Pilih Metode Pembayaran AndaKartu Kredit/Debit: Gunakan Visa atau Mastercard Anda untuk membeli WINkLink (WIN) secara instan.Saldo: Gunakan dana dari saldo akun HTX Anda untuk melakukan trading dengan lancar.Pihak Ketiga: Kami telah menambahkan metode pembayaran populer seperti Google Pay dan Apple Pay untuk meningkatkan kenyamanan.P2P: Lakukan trading langsung dengan pengguna lain di HTX.Over-the-Counter (OTC): Kami menawarkan layanan yang dibuat khusus dan kurs yang kompetitif bagi para trader.Langkah 3: Simpan WINkLink (WIN) AndaSetelah melakukan pembelian, simpan WINkLink (WIN) di akun HTX Anda. Selain itu, Anda dapat mengirimkannya ke tempat lain melalui transfer blockchain atau menggunakannya untuk memperdagangkan mata uang kripto lainnya.Langkah 4: Lakukan trading WINkLink (WIN)Lakukan trading WINkLink (WIN) dengan mudah di pasar spot HTX. Cukup akses akun Anda, pilih pasangan perdagangan, jalankan trading, lalu pantau secara real-time. Kami menawarkan pengalaman yang ramah pengguna baik untuk pemula maupun trader berpengalaman.

437 Total TayanganDipublikasikan pada 2024.12.11Diperbarui pada 2025.03.21

Cara Membeli WIN

Diskusi

Selamat datang di Komunitas HTX. Di sini, Anda bisa terus mendapatkan informasi terbaru tentang perkembangan platform terkini dan mendapatkan akses ke wawasan pasar profesional. Pendapat pengguna mengenai harga WIN (WIN) disajikan di bawah ini.

活动图片