JPMorgan Chase Plans Crypto-Backed Loans Using Client Assets

TheCryptoTimesDipublikasikan tanggal 2025-07-10Terakhir diperbarui pada 2025-07-22

JPMorgan Chase is rolling out a crypto-backed lending program that is tentatively scheduled to debut early 2026. The bank is looking into loan products that would be secured by digital assets such as Bitcoin and Ethereum. If all goes as planned, this would be JPMorgan’s first foray into crypto-secured lending.

As reported by the Financial Times, the new offering comes shortly after the U.S. approved Bitcoin-backed mortgages and spot ETFs. JPMorgan has already accepted Bitcoin ETF exposure as collateral for select loans. Now, the bank aims to go further by directly accepting actual crypto like BTC and ETH. 

Besides, third-party custodians would likely handle the digital assets to reduce risk and secure compliance.

From Critic to Builder: JPMorgan’s View on Crypto

JPMorgan’s pivot comes after years of skepticism from CEO Jamie Dimon. Back in 2017, Dimon called Bitcoin a fraud. However, things have since changed. While he continues to warn about illegal crypto uses, he does accept now that digital assets are here to stay. He recently admitted clients should have the freedom to invest in crypto if they choose.

Resultingly, JPMorgan is building the infrastructure to support crypto-based financial products. In June, it allowed clients to use BlackRock’s iShares Bitcoin Trust (IBIT) as loan collateral. That ETF now manages over $70 billion in assets.

Policy Tailwinds Fuel Adoption

This news comes just a few days after the U.S. officially enacted the GENIUS Act. This new legislation lays out guidelines for stablecoins, which may boost confidence among crypto investors. The discussions around this bill sparked a buzz in the finance world with the President Donald Trump himself hailed it as a win for the entire crypto community.

However, JPMorgan has remained grounded with it predicting the stablecoin market to hit $500 billion by 2028 while warning against overly optimistic forecasts.

Also Read: Mexico’s Grupo Murano to Invest $1B in Bitcoin, Aims $10B Treasury



Bacaan Terkait

Menghitung Mundur Q-Day: Akankah Komputasi Kuantum Mengakhiri Mata Uang Kripto?

**Ringkasan: Ancaman Komputasi Kuantum terhadap Dunia Kripto dan Upaya Menghadapinya** Komputasi kuantum, yang diwakili oleh algoritme seperti Shor, berpotensi meruntuhkan fondasi kriptografi kunci publik (seperti ECC dan RSA) yang menjadi tulang punggung blockchain dan cryptocurrency. Momen ketika hal ini menjadi kenyataan dikenal sebagai "Q-Day", diprediksi terjadi sekitar tahun 2035–2045. Menggunakan ketidaksetaraan Mosca (X + Y > Z), terlihat bahwa proses migrasi ke sistem tahan-kuantum harus dimulai sekarang, mengingat data sensitif hari ini dapat dikumpukan dan dipecahkan di masa depan. Solusi praktis yang sedang dikembangkan adalah **Kriptografi Pasca-Kuantum (PQC)**, yaitu algoritme yang berjalan di komputer klasik namun tahan terhadap serangan kuantum. NIST telah menstandarisasi algoritme inti seperti ML-KEM, ML-DSA, dan SLH-DSA. Strategi migrasi melibatkan **penerapan hybrid** (menggabungkan algoritme lama dan baru) dan meningkatkan **kelincahan kriptografi** sistem. **Dampak pada Blockchain** bersifat sistemik. Bitcoin menghadapi risiko tinggi pada aset di alamat lama yang kunci publiknya sudah terpapar di chain, serta tantangan teknis (seperti pembengkakan ukuran tanda tangan) dan **tantangan politik** yang kompleks terkait bagaimana menangani aset warisan (legacy) yang tidak bermigrasi. Ethereum, dengan strategi "Lean", berencana melakukan migrasi bertahap di seluruh lapisan (eksekusi, konsensus, data) dengan memanfaatkan **abstraksi akun** dan **lapisan-2** sebagai tempat uji coba. Kesimpulannya, komputasi kuantum bukanlah "hari kiamat" bagi cryptocurrency, melainkan **ujian tekanan ekstrem** yang memaksa seluruh ekosistem untuk bermigrasi. Bitcoin diuji pada konsensus sosial dan tata kelola propertinya, sementara Ethereum diuji pada kompleksitas rekayasa seluruh tumpukan teknologinya. Jendela waktu untuk melakukan transisi yang terkoordinasi dengan baik diperkirakan hanya tersisa **5-8 tahun**, sehingga persiapan dan aksi kolaboratif dari seluruh pemangku kepentingan (pengembang, bursa, dompet, dan pengguna) sangat mendesak.

marsbit3m yang lalu

Menghitung Mundur Q-Day: Akankah Komputasi Kuantum Mengakhiri Mata Uang Kripto?

marsbit3m yang lalu

Kerugian $55 Juta Demi Jual Koin, Keyakinan Strategy Sampai di Hari Bayar Bunga

**Rangkuman:** Michael Saylor dan MicroStrategy menjual 3.588 BTC dengan kerugian $55 juta untuk membayar dividen, menandai perubahan signifikan dari strategi "tidak pernah menjual" yang sebelumnya dipegang teguh. Pada 6 Juli, MicroStrategy mengumumkan telah menjual 3.588 BTC (senilai ~$216 juta) dengan harga rata-rata $60.197 per koin. Karena harga beli rata-rata perusahaan adalah $75.651, penjualan ini menghasilkan kerugian realisasi sekitar $55,45 juta. Ini merupakan penjualan pertama yang signifikan sejak 2022, menyusul "uji coba" penjualan 32 BTC pada akhir Mei. Alasan utama penjualan adalah untuk memenuhi kewajiban pembayaran dividen dan bunga pada sekuritas utang digitalnya (seperti saham preferen STRC), yang berjumlah sekitar $1,76 miliar per tahun. MicroStrategy telah mengubah anggaran dasarnya untuk mengizinkan penjualan BTC hingga $1,25 miliar guna menutupi kewajiban ini, membangun cadangan tunai $2,55 miliar, dan meningkatkan dividen STRC menjadi 12%. Perubahan ini dipicu oleh terhentinya "roda gila" pertumbuhan perusahaan. Model bisnis MicroStrategy bergantung pada premium sahamnya (MSTR) di atas nilai aset bersih Bitcoin-nya (mNAV >1) untuk menerbitkan saham baru dan membeli lebih banyak BTC. Namun, dengan mNAV mendekati titik kritis 1,22x dan harga saham turun, penerbitan saham baru justru merugikan pemegang saham lama. Sementara itu, saluran pendanaan alternatif melalui saham preferen (STRC) juga terhambat karena harganya jauh di bawah nilai nominal $100. Dampaknya, MicroStrategy yang selama ini dikenal sebagai pembeli Bitcoin terbesar dan paling konsisten, kini berpotensi menjadi penjual teratur. Jika semua kewajiban tahunan dibayar dengan menjual BTC, bisa menciptakan tekanan jual sekitar 29.000 BTC per tahun. Hal ini mengubah ekspektasi pasar dan dapat mempengaruhi seluruh sektor perusahaan treasury aset digital (DAT) yang meniru model MicroStrategy. Perusahaan masih memiliki cadangan tunai yang cukup untuk menutupi kewajiban selama ~17 bulan, sehingga risiko kebangkrutan mendadak rendah. Namun, solusi jangka panjangnya bergantung pada pemulihan harga Bitcoin, yang akan membantu STRC kembali ke nilai nominal $100 dan membuka kembali saluran pendanaan, sehingga "roda gila" pembelian BTC dapat berputar lagi.

链捕手54m yang lalu

Kerugian $55 Juta Demi Jual Koin, Keyakinan Strategy Sampai di Hari Bayar Bunga

链捕手54m yang lalu

Trading

Spot
活动图片