Schwab Warns Crypto Could Go to Zero – Solaxy ($SOLX) Is Proving Otherwise

bitcoinistDipublikasikan tanggal 2025-04-20Terakhir diperbarui pada 2025-04-20

Abstrak

Charles Schwab, a major U.S. financial services firm, is finally gearing up to let users trade crypto directly – but not...

Trusted Editorial content, reviewed by leading industry experts and seasoned editors. Ad Disclosure

Charles Schwab, a major U.S. financial services firm, is finally gearing up to let users trade crypto directly – but not without issuing a big, bold warning.

The legacy investment giant now says it expects to launch spot crypto trading by next year, including Bitcoin. That’s a huge shift from its long-held cautious stance.

At the same time, Schwab’s website still warns that crypto investments ‘could become entirely worthless,’ claiming that digital assets like Bitcoin have no intrinsic value.

So what gives? Is crypto the future or financial vapor? According to Schwab, it might be both – depending on who’s asking.

While TradFi plays both sides, Web3 platforms like Solaxy ($SOLX) are moving forward with purpose, clarity, and community at the core.

Schwab Dips in, But With a Disclaimer

After years of sitting on the sidelines, Schwab is joining the crypto party – slowly.

The goal? Tap into the new wave of millennial and Gen Z investors. In fact, Schwab’s own research shows that 62% of millennials plan to buy crypto in 2025, ahead of stocks and bonds. That’s a massive cultural shift.
But even as Schwab leans in, it’s keeping one foot on the brake.

Charles Schwab's research into how millenials invest
Source: Charles Schwab’s study

Its website still includes harsh warnings – that crypto is too volatile, could go to zero, and that Bitcoin lacks fundamentals like earnings or a P/E ratio. Basically: ‘We’re launching crypto trading… but don’t say we didn’t warn you.’

This cautious approach stands in sharp contrast to crypto-native players like Robinhood and Kraken.

Robinhood has seen a 700% jump in crypto revenue, while Kraken now lets users trade over 11K U.S. equities. These platforms aren’t hedging – they’re evolving fast and fusing traditional finance with Web3 functionality.

Which brings us to Solaxy, a project that fully embraces this new direction – without the institutional baggage.

Solaxy ($SOLX) – The First Solana Layer 2 With Real Utility

Solaxy ($SOLX) is a new crypto project and a next-gen Layer 2 blockchain built on Solana, designed to supercharge speed, scalability, and access to multichain DeFi.

If you’re looking to buy Solaxy, now is the time to do it – at just $0.0017 per token. With over $30M already raised in presale, Solaxy isn’t just gaining attention – it’s rewriting the rules of what a crypto project can be.

Solaxy raised $30M in presale

As the first-ever Solana Layer 2, Solaxy fixes what holds Solana back: congestion, scalability limits, and failed transactions. But it doesn’t stop there – it enhances Solana’s strengths too, offering more speed, scalability, and performance than ever before.

$SOLX is a multichain token that bridges the speed of Solana with the massive liquidity and reach of Ethereum.

It unlocks the full potential of both ecosystems, giving holders access to the best of DeFi across two of the biggest blockchains in the world.

The token is built for altcoin traders, DeFi degens, and serious builders alike – anyone looking for low fees and lightning-fast execution without sacrificing reach.

With analysts predicting $SOLX could hit $0.032 by 2025 and even reach $0.2 by 2026, this isn’t just a cool concept – it’s a serious contender for the next major Layer 2 breakout.

And in a market where giants like Schwab are still hesitating, Solaxy is already building the future of decentralized finance.

What Makes Solaxy Stand Out

Solaxy does what no one else has: it democratizes high-speed trading tools, putting the power of sniper bots into the hands of everyday users. While Ethereum offers liquidity and Solana brings speed, Solaxy unites both – without the friction.

It’s not just a faster blockchain – it’s a gateway to the future of DeFi, meme coins, and multichain ecosystems.
Developers, traders, and investors all win here.

Solaxy ($SOLX) multichain token

And as Schwab cautiously enters crypto, Solaxy is already sprinting ahead, showing what innovation really looks like in Web3.

Solaxy Builds While Wall Street Waits

Schwab’s cautious dip into crypto may comfort traditional investors, but it feels outdated in a world moving at Web3 speed. Digital natives aren’t looking for more disclaimers – they want real utility, ownership, and engagement.

That’s exactly what Solaxy ($SOLX) delivers. With its mission-based ecosystem and multichain reach, it’s not just another token – it’s an invitation to participate in the future of finance.

While Wall Street debates whether crypto is a risk or a revolution, Solaxy is already proving it’s both powerful and inevitable.

Before investing, always do your own research (DYOR). This article is for informational purposes only and doesn’t constitute financial advice.

Editorial Process for bitcoinist is centered on delivering thoroughly researched, accurate, and unbiased content. We uphold strict sourcing standards, and each page undergoes diligent review by our team of top technology experts and seasoned editors. This process ensures the integrity, relevance, and value of our content for our readers.

Bitcoinist is the ultimate news and review site for the crypto currency community!

Bacaan Terkait

Baru Saja, Model Dunia Pertama di Dunia dengan Frame Tinggi Super Lahir, Konten NVIDIA 0, Melaju 50 FPS

MoWorld, model dunia "Flash World Model" pertama di dunia yang dikembangkan oleh MoXin Tech bersama tim akademisi Pan Yunhao dari Universitas Zhejiang, telah mencapai terobosan signifikan dalam kecepatan dan efisiensi. Model ini mampu melakukan inferensi real-time dengan kecepatan >50 FPS, mengatasi tantangan utama model dunia sebelumnya yang sering terhambat pada 5-10 FPS. Yang membedakan, MoWorld dibangun sepenuhnya menggunakan platform NPU (Neural Processing Unit) dalam negeri Tiongkok (seperti Huawei Ascend), tanpa bergantung pada GPU Nvidia. Pendekatan "full-stack" ini—mulai dari pelatihan, distilasi, hingga penyebaran—telah menurunkan biaya inferensi hingga 70% dibandingkan solusi GPU skala sebanding. Model 14B parameter ini didukung oleh pipeline data yang dikumpulkan dan diberi anotasi 3D secara mandiri, serta optimasi sistem seperti perhatian paralel ultra-padat dan kuantisasi presisi campuran dinamis untuk NPU. Kemampuannya termasuk kontrol kamera 6-DoF, konsistensi geometri tinggi, dan pembangkit adegan hingga 2000 frame. Aplikasi potensialnya mencakup: * **Game & Hiburan Interaktif:** Eksplorasi imersif real-time. * **Kecerdasan Berwujud & Mobil Otonom:** Simulator dunia virtual untuk pelatihan. * **Pembuatan Film:** Pra-preview real-time dan pengeditan lensa. * **Kembaran Digital & Rekonstruksi 3D:** Solusi rekonstruksi spasial yang presisi dan hemat biaya. Pencapaian MoWorld membuktikan kelayakan platform komputasi domestik untuk model dunia canggih dan membuka peluang untuk standar teknologi kecerdasan spasial generasi berikutnya. Model ini menandai pergeseran industri dari sekadar "kemampuan" menuju "keterjangkauan dan penerapan praktis" dalam interaksi real-time dengan dunia.

marsbit56m yang lalu

Baru Saja, Model Dunia Pertama di Dunia dengan Frame Tinggi Super Lahir, Konten NVIDIA 0, Melaju 50 FPS

marsbit56m yang lalu

Samudera Pasifik 'Demam', Bagaimana Cuaca Ekstrem Menjadi Mesin Uang bagi Wall Street?

**Ringkasan:** Suhu pasifik yang menghangat akibat fenomena El Nino memicu cuaca ekstrem global pada tahun 2026, seperti banjir di China, kekeringan di Asia Tenggara, dan gangguan perikanan di Peru. Perubahan iklim ini tidak hanya berdampak pada kehidupan sehari-hari, tetapi juga menciptakan peluang finansial besar di Wall Street. Para investor dan hedge fund, seperti Moreton Capital Partners, mulai mengumpulkan dana miliaran dolar untuk bertaruh pada komoditas pertanian seperti minyak sawit Malaysia, gandum Australia, dan jagung Afrika Selatan yang diperkirakan akan terdampak. Strategi ini terbukti menguntungkan secara historis, seperti yang dilakukan oleh legenda trader Richard Dennis pada tahun 1970-an dan Anthony Ward ("Chocfinger") di pasar kakao. Meskipun data stok aktual untuk komoditas seperti minyak sawit dan gula masih tinggi, harga telah naik karena antisipasi dampak El Nino yang akan mengurangi produksi 6-12 bulan ke depan. Fenomena ini memiliki efek berbeda di berbagai wilayah: menyebabkan kekeringan dan mengurangi hasil panen di Asia, tetapi dapat meningkatkan curah hujan dan produksi di Amerika Selatan. Pasar memantau beberapa indikator kunci seperti indeks suhu laut Niño3.4, data musim hujan India, dan laporan stok minyak sawit Malaysia untuk mengonfirmasi tren. Sementara peluang trading berfokus pada 2026-2027, narasi yang lebih luas memperingatkan potensi risiko ketahanan pangan global akibat kombinasi El Nino, kelangkaan pupuk, dan gangguan rantai pasokan energi, yang pada akhirnya dapat memengaruhi biaya hidup semua orang.

marsbit56m yang lalu

Samudera Pasifik 'Demam', Bagaimana Cuaca Ekstrem Menjadi Mesin Uang bagi Wall Street?

marsbit56m yang lalu

Samudra Pasifik "Demam", Bagaimana Cuaca Ekstrem Menjadi Mesin Pencetak Uang Wall Street?

**Laut Pasifik 'Demam', Cuaca Ekstrem Jadi Mesin Uang Wall Street** Musim panas 2026 diawali cuaca ekstrem di berbagai belahan dunia, dari banjir besar di Cina hingga kekeringan di Asia Tenggara. Pola cuaca tak biasa ini didorong oleh fenomena El Niño yang kuat, di mana suhu permukaan laut di Pasifik tengah-timur menghangat secara signifikan, mengganggu pola iklim global. El Niño kali ini diprediksi bisa menjadi salah satu yang terkuat sejak 1950. Dampaknya beragam: menyebabkan kekeringan yang mengurangi produksi kelapa sawit dan karet di Asia Tenggara, melemahkan muson di India (mengancam gula dan kapas), serta menghangatkan perairan Peru sehingga mengganggu tangkapan ikan anchovy. Namun, di Brasil dan Argentina, El Niño justru bisa mendatangkan hujan yang baik untuk tanaman. Perubahan cuaca ini telah menjadi peluang finansial besar. Dana lindung nilai seperti Moreton Capital Partners mengumpulkan miliaran dolar untuk bertaruh pada komoditas pertanian yang terdampak. Kisah sukses serupa telah terjadi sejak 1970-an, seperti trader legendaris Richard Dennis yang meraup keuntungan dari lonjakan harga kedelai akibat El Niño. Baru-baru ini pada 2024, cuaca kering di Afrika Barat mendorong harga kakao meroket, menghasilkan keuntungan besar bagi dana-dana tren. Meskipun pasar telah bereaksi lebih dulu dengan kenaikan harga beberapa komoditas seperti minyak sawit dan gula, data riil penurunan produksi biasanya baru terlihat setelah puncak El Niño. Para pelaku pasar kini memantau ketat indikator kunci seperti indeks Niño3.4, data hujan muson India, dan laporan stok minyak sawit Malaysia. Di balik peluang trading, narasi yang lebih besar muncul: kombinasi El Niño yang ekstrem, kelangkaan pupuk, dan ketegangan geopolitik di jalur suplai energi berpotensi memicu risiko kekurangan pangan global dalam beberapa bulan ke depan. Badai cuaca yang awalnya diabaikan ini pada akhirnya berdampak pada kehidupan banyak orang, dari harga pangan hingga biaya hidup sehari-hari.

链捕手1j yang lalu

Samudra Pasifik "Demam", Bagaimana Cuaca Ekstrem Menjadi Mesin Pencetak Uang Wall Street?

链捕手1j yang lalu

Trading

Spot
活动图片