Tether, Galaxy, Ledn Lead Crypto Lending Revival After Billions in Loans Were Wiped Out in 2023

ccn.comDipublikasikan tanggal 2025-04-14Terakhir diperbarui pada 2025-04-14

Key Takeaways

  • Tether, Galaxy and Ledn now dominate the centralized crypto lending market, accounting for 90% of CeFi loans.
  • The crypto lending market has recovered since its 2023 crash but remains 43% below its 2021 peak.
  • DeFi remains the sector’s backbone, with Ethereum leading the charge.

The crypto lending industry is on the rebound, clawing its way back after a brutal collapse in 2023 that wiped out billions in loans and shattered confidence in centralized players.

Now valued at $36.5 billion, the market remains well below its all-time high in late 2021 — but signs of resilience are beginning to show.

A new report by Galaxy Digital shows that a new cohort of centralized players — Tether, Galaxy and Ledn — has stepped in to fill the void left by failed lenders like Celsius, Genesis and BlockFi.

The trio accounts for roughly $9.9 billion in outstanding loans, or 90% of the current centralized lending market.

CeFi’s Comeback: Smaller, Sharper, Still Struggling

Centralized finance (CeFi) lenders have bounced back from a low of $6.4 billion in outstanding loans in early 2023 to $11.2 billion today — a 73% rebound.

However, that figure is still nearly two-thirds from the 2021 peak of $29.4 billion when CeFi lending was primarily controlled by the now-defunct trio of Genesis, Celsius and BlockFi.

Their downfall, catalyzed by overleveraged loans and exposure to the collapse of the Terra Luna ecosystem, triggered a liquidity crunch that rippled across the entire industry.

crypto lending market over the years.
DeFi dominates crypto lending. | Credit: Galaxy Research

However, the new wave of CeFi lenders appears more cautious, leaning on stricter lending terms and more conservative strategies. Tether, for example, remains focused on secured loans backed by excess collateral, while Galaxy and Ledn have honed in on institutional clients.

DeFi Reclaims Its Dominance

Despite the CeFi resurgence, decentralized finance (DeFi) remains the primary force in crypto lending.

DeFi now accounts for 63% of total borrowing, up from 33% during the previous bull run. This shift underscores growing confidence in permissionless, transparent protocols — especially in the wake of CeFi’s credibility crisis.

According to Galaxy’s data, DeFi lending platforms now manage over $19.1 billion in outstanding loans across 12 blockchains and 20 platforms — a staggering 10x jump from their Q4 2022 lows. At that time, DeFi borrowing had bottomed out at just $1.8 billion.

Ethereum remains the dominant chain for DeFi activity, hosting $33.9 billion in deposited assets as of March 2025 — far outpacing all competitors.

The sector’s growth is underpinned by smart contracts, which enforce overcollateralization and minimize default risk.

Unlike CeFi, where borrowers can walk away from bad loans, DeFi protocols liquidate positions automatically when collateral thresholds are breached.

Institutions Eye Bitcoin-Backed Lending

With signs of recovery across both CeFi and DeFi, institutional interest is once again growing. Traditional financial players, particularly those focused on Bitcoin financing, are exploring new lending strategies.

Cantor Fitzgerald — a key custodian of Tether’s reserve assets — recently revealed plans to expand into crypto lending, potentially opening the door to more Bitcoin-collateralized loan products from traditional finance firms.

As both centralized and decentralized platforms evolve, the crypto lending landscape in 2025 looks very different from its speculative, loosely governed past.

Whether the market can sustain this newfound stability remains to be seen.

Was this Article helpful? Yes No

Bacaan Terkait

Enam Keluhan dari Seorang Pengembang Ethereum

Sebagai pengembang dan pemegang ETH, penulis mengungkapkan enam keluhan utama terhadap arah pengembangan Ethereum: 1. **Mentalitas "mantan ketua" terlalu dini**: Fondasi Ethereum beralih dari "kami membangun" menjadi "kami adalah infrastruktur" sebelum benar-benar memenangkan pasar, menyebabkan kehilangan momentum. 2. **Narasi ESG yang salah sasaran**: Fokus pada pengurangan konsumsi energi (99,95%) alih-alih peningkatan pengalaman pengguna (kecepatan, biaya, hasil) tidak menjawab kebutuhan pasar. 3. **Waktu pengembangan yang lambat**: Proof-of-Stake (PoS) membutuhkan 7 tahun sejak peluncuran, memberikan kesempatan pada pesaing seperti Solana untuk berkembang. 4. **Pengalaman staking yang buruk**: Tidak ada aplikasi staking resmi yang ramah pengguna, mengandalkan pihak ketiga seperti Lido dan berisiko sentralisasi. 5. **Penurunan nilai yang dikelola**: Rute berbasis rollup melemahkan lapisan dasar, memindahkan pendapatan dan fragmentasi modal ke L2 seperti Arbitrum dan Base. 6. **Ideologi mengalahkan pengiriman produk**: Budaya Ethereum lebih mementingkan kemurnian filosofis (netralitas, barang publik) daripada kemenangan produk dan memenuhi keinginan pasar akan finansialisasi. Diagnosisnya adalah hutang eksekusi yang terakumulasi. Ethereum memiliki keunggulan struktural pada 2021 tetapi menghabiskan waktu untuk debat, sementara Solana berkolaborasi secara efisien. Penurunan kapitalisasi pasar ETH mencerminkan kegagalan eksekusi spesifik, bukan masalah koordinasi. Intinya: Ethereum telah berhenti berjuang untuk meningkatkan nilai asetnya.

链捕手1j yang lalu

Enam Keluhan dari Seorang Pengembang Ethereum

链捕手1j yang lalu

Perang Anggaran Token: AI Perusahaan Masuk ke 'Era Perhitungan'

Perang Anggaran Token: AI Perusahaan Masuki 'Era Pertanggungjawaban Biaya' Dua tahun terakhir, banyak perusahaan mendorong penggunaan AI untuk mengikuti tren. Namun, kini CEO dan CFO mulai mempertanyakan nilai riil dari setiap dolar yang dihabiskan untuk token AI. Perdebatan tentang anggaran token intinya bukan sekadar memotong tagihan, tetapi menilai ulang alokasi sumber daya kecerdasan. Fase pertama AI perusahaan membuktikan bahwa model dapat menyelesaikan pekerjaan. Fase berikutnya akan menentukan: pekerjaan mana yang benar-benar layak dibayar? Biaya inferensi AI kini menjadi biaya operasional berkelanjutan, bukan lagi anggaran eksperimen. Tagihan token yang tinggi bisa mencerminkan pekerjaan nyata, tetapi juga bisa berarti pemborosan karena prompt yang buruk, konteks yang tidak relevan, atau pemilihan model yang berlebihan. Utilitas token marjinal—nilai bisnis yang diciptakan per dolar tambahan biaya inferensi—menjadi angka kunci namun sulit dilihat. Penyebabnya antara lain ekor panjang percobaan ulang (retry), inflasi konteks yang meningkatkan biaya secara kuadratik, dan perutean yang tidak efisien ke model termahal. AI mengubah logika SaaS. Penggunaan SaaS mengindikasikan adopsi perangkat lunak, sementara penggunaan AI hanya menunjukkan "meteran berjalan", tanpa jaminan nilai. Perusahaan membutuhkan lapisan atribusi yang menghubungkan biaya token dengan hasil bisnis, seperti biaya per tiket layanan yang diselesaikan atau per klaim yang diproses. Mereka yang menguasai atribusi dari token ke hasil akan mengendalikan alokasi anggaran AI: alur kerja mana yang pantas mendapat daya komputasi lebih, mana yang harus dialihkan ke model lebih murah, atau mana yang tetap ditangani manusia. Ini adalah inti dari perang anggaran token dan masa depan AI perusahaan yang matang.

marsbit1j yang lalu

Perang Anggaran Token: AI Perusahaan Masuk ke 'Era Perhitungan'

marsbit1j yang lalu

Utang AS Melebihi $39 Triliun Pertama Kali Melebihi PDB: 'Gajah Abu-Abu' yang Harus Dihadapi Setiap Investor pada 2026

**Ringkasan: Utang AS Melewati Ambang Batas Berbahaya – Apa Artinya bagi Investor** Pada Maret 2026, utang publik yang dipegang oleh pihak eksternal AS melampaui total PDB negara itu untuk pertama kalinya sejak Perang Dunia II, mencapai rasio 100.2%. Total utang nasional kini melebihi $39 triliun dan terus bertambah sekitar $5-8 miliar per hari. Defisit tahunan sekitar $2 triliun, dan pembayaran bunga utang diperkirakan mencapai $1.039 triliun pada tahun fiskal 2026—menjadikannya pengeluaran federal terbesar ketiga. Masalah utang ini bersifat struktural, didorong oleh kombinasi pemotongan pajak, peningkatan belanja (terutama untuk Jaminan Sosial, Medicare, dan bunga utang), dan warisan defisit pandemi. Undang-undang baru seperti *One Big Beautiful Bill* (OBBB) diperkirakan akan menambah defisit sebesar $2.8 triliun dalam dekade mendatang. Kantor Anggaran Kongres (CBO) memperingatkan bahwa jalur fiskal saat ini "tidak berkelanjutan" dan memproyeksikan utang bisa mencapai 175% dari PDB pada 2056. Meskipun AS secara teknis tidak dapat bangkrut karena mencetak mata uangnya sendiri, konsekuensi dari jalur ini serius. Risiko utama adalah inflasi yang lebih tinggi, suku bunga yang terus meningkat, dan potensi krisis kepercayaan di pasar obligasi yang dapat mendorong yield melonjak tajam, meningkatkan biaya pinjaman untuk semua pihak. Agen pemeringkat seperti Moody's telah menurunkan peringkat kredit AS. **Implikasi bagi Investor:** * **Saham:** Lingkungan suku bunga tinggi yang berkelanjutan akan menekan saham pertumbuhan bernilai tinggi dan lebih menguntungkan sektor keuangan serta perusahaan dengan laba saat ini yang kuat. * **Obligasi:** Pasokan obligasi pemerintah yang besar akan terus memberi tekanan pada harga obligasi jangka panjang, menjaga yield tetap tinggi. Obligasi korporasi berkualitas tinggi dan obligasi pemerintah jangka menengah mungkin menawarkan keseimbangan risiko-imbalan yang lebih baik. * **Aset Riil & Emas:** Aset seperti emas, properti, dan komoditas dapat berfungsi sebagai lindung nilai terhadap potensi pelemahan daya beli mata uang. * **Investor Asia/Singapura:** Kenaikan suku bunga AS dapat menarik modal keluar dari pasar emerging, memberi tekanan pada mata uang dan pasar saham Asia. Gejolak di AS akan berdampak signifikan pada pusat keuangan seperti Singapura. Para ahli menggambarkan tiga skenario ke depan: reformasi fiskal yang stabil (tidak mungkin), "slow burn" dengan pertumbuhan tertekan dan suku bunga tinggi (skenario paling mungkin), atau keruntuhan kepercayaan yang tiba-tiba di pasar obligasi (risiko rendah tetapi meningkat). Kesimpulan bagi investor adalah era suku bunga sangat rendah telah berakhir. Portofolio perlu diatur ulang dengan mempertimbangkan durasi tetap yang lebih pendek, diversifikasi geografis, dan alokasi ke aset riil untuk melindungi dari risiko inflasi dan ketidakpastian fiskal yang berkelanjutan.

marsbit1j yang lalu

Utang AS Melebihi $39 Triliun Pertama Kali Melebihi PDB: 'Gajah Abu-Abu' yang Harus Dihadapi Setiap Investor pada 2026

marsbit1j yang lalu

Trading

Spot
Futures
活动图片