Dogecoin Price Reaches An RSI Of 59 After Dropping To $0.31, Here’s What Happened The Last Time

bitcoinistDipublikasikan tanggal 2024-12-28Terakhir diperbarui pada 2024-12-29

Abstrak

The Dogecoin price has continued its decline over the past two weeks into the last 24 hours. Particularly, Dogecoin has...

The Dogecoin price has continued its decline over the past two weeks into the last 24 hours. Particularly, Dogecoin has yet to start a notable momentum above the $0.30 threshold, although it has largely held up above $0.31. Amidst this price decline, the Relative Strength Index (RSI) indicator has relayed a similar decline, which was noted on social media platform X by crypto analyst KrissPax. He points to Dogecoin’s RSI reaching 59, a level associated with bullish potential in the current market cycle.

Dogecoin RSI At 59: Historical Context

According to crypto analyst KrissPax on social media platform X, Dogecoin’s RSI at 59 is a key technical signal. Notably, the technical analysis is based on the Dogecoin weekly timeframe chart. According to the chart, Dogecoin’s weekly RSI has been in a downward trajectory since early December, following a peak above 90.

During this time, the meme coin was under extreme buying pressure, leading to overbought conditions. From here, Dogecoin experienced a sharp decline in the RSI triggered by intense selling pressure from holders, which caused Dogecoin’s price to drop significantly. The correction pushed the RSI below the 70 and 60 levels, reinforcing bearish sentiment during this period.

Interestingly, Dogecoin’s weekly RSI has now stabilized at 59 and has been holding around this level since December 16. While this stabilization might suggest a temporary pause in selling pressure, it could also signify something more significant for Dogecoin’s price trajectory. Historical data shared by KrissPax underscores this possibility.

The last time Dogecoin’s weekly RSI hovered at 59 was on October 29, when the meme coin was priced at approximately $0.15. What followed was a remarkable rally. Dogecoin’s price surged over the subsequent weeks, culminating in a peak of $0.475. 

Bullish Breakout Potential Amid Bearish Sentiment

Dogecoin’s weekly RSI at 59 suggests that Dogecoin could be gearing up for another surge in the coming weeks. As KrissPax speculated, this suggests that the Dogecoin price could break out from here up to $0.6.However, the unpredictable nature of the crypto market also points to the possibility of a retracement after hitting this peak to cause a retest around $0.45 before resuming its upward trajectory.

Dogecoin price RSI
Source: X

At the time of writing, Dogecoin is trading at $0.316, and a rally to $0.60 would mark an impressive 90% increase from the current price. Interestingly, Dogecoin has shown resilience at $0.31, bouncing back from this level multiple times over the past 24 hours.

However, it has yet to display the strong upward momentum needed to initiate an upward move. If Dogecoin struggles to surpass $0.316, it risks experiencing another short-term decline. In terms of support, $0.31 and $0.30 are the two major levels to keep an eye on. Resistance levels are around $0.33, $0.35, and $0.40.

Dogecoin price chart from Tradingview.com
DOGE price recovers from low | Source: DOGEUSDT on Tradingview.com
Featured image created with Dall.E, chart from Tradingview.com
Scott Matherson

Scott Matherson

Scott Matherson is a leading crypto writer at Bitcoinist, who possesses a sharp analytical mind and a deep understanding of the digital currency landscape. Scott has earned a reputation for delivering thought-provoking and well-researched articles that resonate with both newcomers and seasoned crypto enthusiasts. Outside of his writing, Scott is passionate about promoting crypto literacy and often works to educate the public on the potential of blockchain.

Bacaan Terkait

Microsoft Kehilangan Arah dalam Persaingan AI, Bisakah Copilot Membawa Mereka Kembali ke Jalur?

Microsoft, yang pernah menjadi pemimpin awal dalam perlombaan AI berkat kemitraan dengan OpenAI, kini menghadapi tantangan signifikan. Keunggulan awal mereka tergerus oleh persaingan langsung dari OpenAI sendiri, kemajuan cepat model seperti Claude dan Gemini, serta munculnya AI Agent yang mengganggu model bisnis SaaS tradisional Microsoft. Penetrasi berbayar Copilot yang lebih lambat dari perkiraan dan kehilangan kepemimpinan di alat pemrograman AI menambah tekanan. Artikel ini berfokus pada pergeseran strategi Microsoft di bawah CEO Satya Nadella. Daripada hanya bergantung pada satu model (seperti GPT dari OpenAI), Microsoft kini beralih ke strategi platform AI perusahaan yang "tidak terikat model". Tujuannya adalah menjadi lapisan dasar yang menghubungkan model (dari berbagai pemasok), data, keamanan, alur kerja, dan komputasi awan. Nilai inti mereka terletak pada perangkat lunak perusahaan, platform kerja, aset data, dan kerangka keamanan—bukan hanya model AI itu sendiri. Nadella kini terlibat langsung dalam pengembangan produk Copilot untuk mempercepat inovasi. Microsoft meluncurkan produk seperti Copilot Tasks dan Copilot Cowork untuk merespons ancaman dari pesaing seperti Claude Code. Mereka juga merevisi kemitraan dengan OpenAI, berinvestasi di Anthropic, dan membangun tim "Superintelligence" sendiri untuk mengurangi ketergantungan. Namun, jalan ini mahal. Microsoft meningkatkan pengeluaran modal secara besar-besaran untuk infrastruktur data center dan chip guna mendukung model dan Agent AI yang mutakhir. Tantangan terbesarnya adalah berinovasi secepat startup sambil tetap menjadi mitra yang andal bagi perusahaan-perusahaan besar. Masa depan Microsoft dalam era AI bergantung pada kemampuannya mempertahankan pintu masuk utama ke perangkat lunak perusahaan, bahkan saat dasar teknologi terus berubah dengan cepat.

marsbit1j yang lalu

Microsoft Kehilangan Arah dalam Persaingan AI, Bisakah Copilot Membawa Mereka Kembali ke Jalur?

marsbit1j yang lalu

Mengapa Stablecoin Valas Belum Pernah Benar-Benar Mengudara?

Judul: Mengapa Stablecoin Valas Tidak Pernah Lepas Landas? Artikel ini membahas mengapa stablecoin valas (mata uang asing) seperti EURC kesulitan berkembang, berbeda dengan dominasi stablecoin berbasis dolar (USDT/USDC) yang mencapai $400 miliar. Masalah utama mencakup likuiditas rendah, penerimaan terbatas di bursa dan platform fintech, kompleksitas kepatuhan lintas negara, serta mekanisme penjaminan yang belum teruji. Solusi yang diusulkan adalah pendekatan sintetis menggunakan Non-Deliverable Forwards (NDF), seperti yang umum di pasar valas tradisional. Dengan NDF, pengguna dapat mempertahankan dana dalam USDT/USDC di lapisan dasar, sementara saldo rekening mereka dikonversi dan dilacak menurut mata uang pilihan mereka (mis., Euro, Franc Swiss) melalui kontrak derivatif yang diselesaikan secara tunai. Ini memberikan keterikatan yang kuat melalui oracle, mempertahankan akses ke likuiditas dan hasil dolar, serta memungkinkan skalabilitas lintas mata uang tanpa memerlukan infrastruktur perbankan lokal. Pengguna potensial termasuk bank digital, dompet, dan platform pembayaran yang membutuhkan akun multi-mata uang untuk menarik pengguna internasional dan meningkatkan deposito. Selain itu, strategi carry trade valas dapat menawarkan hasil yang stabil, dan bisnis global dapat menggunakannya untuk pembayaran dan lindung nilai valas, mirip dengan model yang digunakan Stripe. Intinya, infrastruktur valas sintetis berbasis NDF dianggap sebagai kunci untuk membuka adopsi stablecoin berikutnya dan pertumbuhan keuangan on-chain, melayani tidak hanya kripto asli tetapi juga bisnis dan pengguna ritel sehari-hari, dengan potensi mencapai skala triliunan dolar.

链捕手1j yang lalu

Mengapa Stablecoin Valas Belum Pernah Benar-Benar Mengudara?

链捕手1j yang lalu

IOSG Founder: Web3 Sedang 'Kehilangan Darah', Bagaimana Pelaku Industri Bisa Bertahan dengan Lebih Baik?

Pendiri IOSG menyoroti kondisi kritis yang dihadapi industri Web3 saat ini, dengan metafora "pekerja kedinginan di jalanan dan penjual minuman kehausan di pinggir jalan". Berdasarkan pengamatan di acara MuShanghai, banyak pelaku crypto yang beralih label menjadi founder biotech, pembangun AI, atau penggiat robotika sebagai bentuk "penyelamatan diri". Masalah utama bukan sekadar bear market, melainkan rusaknya mekanisme umpan balik positif ekosistem. Beberapa poin kritis yang diidentifikasi: 1. Banyak pengembang Web3 China (50-60%) beralih ke AI dan kemungkinan tidak kembali. 2. Ethereum kehilangan momen menciptakan aplikasi mainstream karena fokus berlebihan pada narasi teknis seperti ZK dan L2. 3. Terdapat kekhawatiran bahwa Vitalik Buterin berada dalam "gelembung informasi" tanpa akses ke umpan balik jujur tentang kesulitan industri. 4. Stigma negatif melekat pada pelaku Web3 di berbagai negara, bahkan memengaruhi penerimaan generasi berikutnya. 5. Krisis regenerasi: sulit bersaing merebut talenta muda dengan AI yang menawarkan prospek karir lebih jelas. Perbedaan mencolok terlihat antara OG Amerika yang terus membangun ekosistem versus banyak OG China yang memilih keluar setelah sukses. Untuk bertahan, penulis menyarankan: - Temukan alasan mendasar mengapa tetap di industri ini. - Jaga keseimbangan hidup dan terus belajar keterampilan baru (seperti AI). - Bentuk aliansi kecil dengan 5-6 pihak terpercaya untuk dukungan bersama. - Terima realita bahwa pasar sering menghadiahkan spekulan, tapi jangan biarkan itu mengikis keyakinan. Seruan akhir mengajak setiap pelaku, terutama OG, menjadi "mercuses" dengan memberikan dukungan konkret—mulai dari waktu konsultasi, grant, hingga referensi—untuk memberi harapan bagi generasi penerus. Kelangsungan Web3 bergantung pada kolektif, bukan individu.

marsbit2j yang lalu

IOSG Founder: Web3 Sedang 'Kehilangan Darah', Bagaimana Pelaku Industri Bisa Bertahan dengan Lebih Baik?

marsbit2j yang lalu

Trading

Spot
Futures
活动图片