ФБР предупредило о северокорейских преступниках

cryptonews.ruDipublikasikan tanggal 2023-02-03Terakhir diperbarui pada 2024-09-03

Федеральное бюро расследований США (ФБР) сообщило, что северокорейские киберпреступники активно атакуют сотрудников криптокомпаний, работающих в секторе Web3, чтобы похищать цифровые активы. По данным бюро, эти злоумышленники используют сложные методы социальной инженерии для обмана работников криптовалютных и DeFi-компаний и получения доступа к сетям, связанным с виртуальными валютами.

Северокорейские хакеры в последние месяцы провели масштабные исследования и атаки, нацеленные на компании, связанные с фондами криптовалютных биржевых продуктов (ETF) и другими финансовыми инструментами, связанными с криптовалютами. В рамках своих действий злоумышленники разрабатывали оперативные сценарии, предполагающие кибератаки на данные организации.

Кроме того, они прибегают к методам, включающим подмену личности сотрудников компании и создание фальшивых ситуаций, соответствующих их профессиональным интересам. К примеру, преступники могут попросить потенциальную жертву скачать вредоносное приложение или использовать нестандартное программное обеспечение для видеоконференции или отладки ошибок, что дает им доступ к корпоративной сети.

Чтобы минимизировать угрозу, ФБР рекомендует криптоорганизациям избегать хранения информации о криптокошельках на устройствах, подключенных к интернету, и применять дополнительные методы проверки личности сотрудников через независимые каналы связи. Также важно избегать выполнения «отладочных заданий» на корпоративных компьютерах.

Ранее в этом году стало известно, что северокорейские хакеры массово откликались на вакансии, создавая поддельные аккаунты для получения доступа к конфиденциальной информации в криптовалютных компаниях. Согласно данным, на июль 2024 года они несут ответственность за кражу криптоактивов на сумму в 3 млрд. Эти события подчеркивают важность соблюдения мер кибербезопасности, особенно для тех компаний, которые оперируют большими объемами криптовалюты или связаны с новыми финансовыми продуктами, основанными на цифровых активах.

Bacaan Terkait

"Raja Penalaran" Google Juga Kabur ke Meta, Dulunya Direkrut oleh Fei-Fei Li

Eksodus talenta dari Google tampaknya berlanjut dengan hengkangnya Denny Zhou, yang dijuluki "Raja Penalaran" DeepMind, ke Meta. Ia telah bekerja diam-diam di MSL Meta selama empat bulan sebelum berita kepergian sejumlah ilmuwan top Google lainnya ramai diperbincangkan. Zhou, yang direkrut ke Google pada 2017 berkat program Google AI China yang diinisiasi Fei-Fei Li, adalah pionir tim penalaran dan berkontribusi besar pada karya dasar LLM seperti Chain-of-Thought. Kepergiannya disusul masuknya profesor UC Berkeley, Dawn Song ("Bunda Keamanan AI"), ke Meta beserta tim startup AI security-nya. Sementara itu, Google terus kehilangan banyak pemain kunci. Noam Shazeer (salah satu penulis Transformer) bergabung dengan OpenAI, sementara peraih Nobel John Jumper serta kontributor inti Gemini lainnya, Jonas Adler dan Alexander Pritzel, pindah ke Anthropic. Laporan dari The Information mengungkapkan kemungkinan penyebab di balik eksodus ini: Google dikabarkan mengutamakan "Tim Serang Pengkodean" (Coding Strike Team) yang baru dibentuk, bahkan didukung langsung oleh pendiri Sergey Brin. Tim ini berfokus mempercepat pengembangan kemampuan coding Gemini, menggeser prioritas dari jalur "model dunia" AGI yang lebih teoritis yang selama ini digagas DeepMind. Alokasi sumber daya komputasi yang diprioritaskan untuk tim pengkodean ini diduga menjadi salah satu alasan kepergian para peneliti, seperti yang disinggung Shazeer. Pergeseran fokus ke pengkodean, yang memiliki nilai komersial jelas, tampaknya mengorbankan jalur penelitian jangka panjang lainnya, menciptakan ketegangan internal dan mendorong talenta untuk mencari peluang di perusahaan pesaing seperti Meta, OpenAI, dan Anthropic.

marsbit2j yang lalu

"Raja Penalaran" Google Juga Kabur ke Meta, Dulunya Direkrut oleh Fei-Fei Li

marsbit2j yang lalu

Toss Bawa 30 Juta Pengguna ke Ekonomi Data AI dalam Kemitraan dengan Poseidon

**Toss dan Poseidon Ajak 30 Juta Pengguna Masuk ke Ekonomi Data AI** Toss, platform keuangan seluler Korea, bermitra dengan Poseidon, infrastruktur data untuk AI, untuk memperkenalkan model pertama di dunia yang memungkinkan pengguna biasa berkontribusi data dunia nyata untuk pelatihan AI dan dibayar atas kontribusinya. Kolaborasi ini membuka pasar data AI kepada sekitar 30 juta pengguna Toss. Aplikasi kontributor Poseidon, Numo, akan diluncurkan di dalam aplikasi Toss. Pengguna dapat membantu membangun data pelatihan dalam bahasa Korea (suara, gambar, video) dan menerima pembayaran yang terikat langsung dengan kontribusi mereka. Poseidon menyediakan infrastruktur yang melacak nilai setiap kontribusi, sementara Toss menyediakan basis pengguna dan pengalaman finansial untuk mengubah partisipasi menjadi pembayaran. Data yang dikumpulkan Numo adalah data orang-pertama dari lingkungan nyata, kategori yang sangat berharga untuk mengembangkan kecerdasan fisik AI (seperti di robotika dan kendaraan otonom). Setiap kontribusi dicatat di jaringan DATA, dengan jejak audit publik yang dapat diverifikasi, memastikan transparansi bagi pembeli dan kontributor. Korea dipandang sebagai pasar ideal untuk membuktikan model ini karena kombinasi data kehidupan nyata yang padat, sistem keuangan matang, dan pengalaman seluler kelas dunia yang dimiliki Toss. Setelah terbukti di Korea, kemitraan ini berencana untuk berekspansi ke pasar global.

TheNewsCrypto3j yang lalu

Toss Bawa 30 Juta Pengguna ke Ekonomi Data AI dalam Kemitraan dengan Poseidon

TheNewsCrypto3j yang lalu

Trading

Spot
活动图片