HyperVerse's Alleged Ponzi Scheme Raked in Nearly $2B, Hired Actor as Fake CEO

CoinDeskPolicyDipublikasikan tanggal 2024-01-28Terakhir diperbarui pada 2024-01-29

Abstrak

The SEC and a grand jury have accused two people behind the alleged fraud.

HyperVerse was a nearly $2 billion fraudulent crypto investment scheme with a fake CEO at its helm, the U.S. Securities and Exchange Commission (SEC) and a grand jury allege in a lawsuit and criminal indictments against two of its leaders.

The online investment business, which variously carried brands including HyperFund, HyperCapital and HyperTech, is said to have taken as much as $1.89 billion from people around the world who were drawn in by promises of quick riches. The business began around June 2020.

10

The SEC lawsuit alleges that Sam Lee, an Australian founder who lives in the United Arab Emirates, and Brenda "Bitcoin Beutee" Chunga, a promoter of the business from Maryland, cheated investors with this "pyramid and Ponzi scheme."

Advertisement
Advertisement

"HyperFund even hired an actor to pretend to be the new CEO when HyperVerse was

launched," according to an SEC complaint filed Monday, detailing that the executive known as Steven Reece Lewis, who delivered a speech during the launch event, was a TV presenter who lives in Thailand.

"With no apparent legitimate source of revenues, investor withdrawals were paid with

new investor deposits," the SEC alleged.

A request for comment sent to the company didn't get an immediate response.

The SEC said Chunga took about $3.7 million personally and spent it on a BMW, designer clothing, a $1.2 million home in Maryland and a $1.1 million condo in Dubai. Lee took $140,000 in digital funds to a wallet under his control, according to the complaint.

An indictment dated Jan. 25 in the U.S. District Court for the District of Maryland accused Lee and Cunga in a conspiracy to commit wire fraud. The SEC also accused them of offering unregistered securities and demanded they give back any ill-gotten gains.

Earlier this month, U.S. authorities arrested and charged Rodney Burton for allegedly defrauding more than $7 million through the same fake investment scheme, according to allegations from the U.S. Internal Revenue Service.

Advertisement
Advertisement

Founders of HyperTech, Lee and his business partner Ryan Xu, also founded the collapsed Australian bitcoin company Blockchain Global, which owes creditors $58 million.

Elizabeth Napolitano contributed reporting.

Edited by Daniel Kuhn.

Bacaan Terkait

Penerbitan USDT di Jaringan TRON Melampaui Ethereum, Kembali Jadi Jaringan Penerbit USDT Terbesar di Dunia

Menurut data resmi Tether, per 13 Agustus 2026, jumlah penerbitan USDT di jaringan TRON telah mencapai $91,2 miliar, melampaui penerbitan di jaringan Ethereum ($90,3 miliar), dan kembali menduduki posisi teratas di antara semua jaringan blockchain. Ini menegaskan dominasi TRON dalam ekosistem stablecoin dan daya tariknya sebagai jaringan penyelesaian berbiaya rendah dan efisien. Pertumbuhan USDT di TRON didorong oleh kebutuhan penggunaan nyata. Jaringan ini mencatat sekitar 3,2 juta akun aktif harian rata-rata pada Q1 2026. Dalam transfer USDT ritel (di bawah $1.000), TRON menguasai sekitar 50% pangsa pasar, memperkuat posisinya untuk penyelesaian ritel dan menengah. Pada kuartal yang sama, volume transfer USDT di TRON mencapai sekitar $2,04 triliun, dengan total kumulatif tahunan sekitar $4,2 triliun tertinggi di semua *public chain*. Infrastruktur TRON untuk stablecoin terus diperkuat melalui integrasi yang luas di dompet, bursa, dan protokol DeFi, serta mekanisme seperti GasFree untuk meningkatkan pengalaman pengguna. Dari sisi keamanan, unit gabungan T3 FCU (TRON, Tether, TRM Labs) telah membekukan aset ilegal senilai lebih dari $450 juta di 23 yurisdiksi, menunjukkan kolaborasi efektif untuk memerangi kejahatan keuangan. Sambil mempertahankan kepemimpinan dalam penyelesaian stablecoin, TRON juga berekspansi ke sektor kecerdasan artifisial (AI) dengan meluncurkan platform **B.AI**, yang bertujuan menjadi infrastruktur keuangan dasar untuk era *AI Agent*, menandai evolusi strategis jaringannya.

marsbit17m yang lalu

Penerbitan USDT di Jaringan TRON Melampaui Ethereum, Kembali Jadi Jaringan Penerbit USDT Terbesar di Dunia

marsbit17m yang lalu

Strategi Pasar Global JPMorgan Chase: Apakah Komoditas Saat Ini Mirip dengan Tahun 2022?

Strategi Pasar Global JP Morgan mengeksplorasi potensi kesamaan antara siklus kenaikan suku bunga The Fed saat ini dengan pola tahun 2022 terhadap komoditas. Secara historis, komoditas memberikan imbal hasil positif dalam siklus kenaikan suku bunga, kecuali pada periode 2022-2023, di mana indeks BCOM ER turun sekitar 14%. Penurunan ini dipicu oleh memudarnya premi risiko pasokan Rusia dan pelemahan sektor manufaktur global. Analogi saat ini lebih mirip dengan siklus 1999/2000 dari sisi kebijakan The Fed yang mungkin melakukan penyesuaian suku bunga. Namun, kondisi pasar komoditas justru lebih menyerupai 2022: harga komoditas energi berada di level tinggi akibat gangguan pasokan di Selat Hormuz, bukan dari level rendah seperti pada 1999. Risiko utama adalah jika premi gangguan pasokan kembali memudar bersamaan dengan kondisi keuangan yang lebih ketat, hal ini dapat mendinginkan sektor komoditas dalam siklus kenaikan suku bunga mendatang. Implikasi per sektor: * **Energi:** Harga minyak sangat bergantung pada pemulihan lalu lintas Selat Hormuz. Risiko naik (tail risk) signifikan jika gangguan berlanjut. * **Logam Mulia:** Emas sangat rentan terhadap ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed yang lebih agresif, berpotensi terkoreksi lebih dalam jika sentimen berubah. * **Logam Dasar:** Kondisi saat ini masih didukung PMI manufaktur global yang kuat dan pasokan tembaga yang ketat. Namun, siklus pengetatan moneter yang agresif dapat menjadi tekanan pada 2027. Kesimpulannya, meskipun konteks The Fed mirip 1999, lingkungan pasar komoditas yang mirip 2022 menimbulkan risiko bahwa kinerja komoditas dalam siklus pengetatan moneter kali ini bisa lebih lemah daripada pola historis, terutama jika faktor permintaan industri melemah.

marsbit1j yang lalu

Strategi Pasar Global JPMorgan Chase: Apakah Komoditas Saat Ini Mirip dengan Tahun 2022?

marsbit1j yang lalu

Trading

Spot
活动图片