Anonymity in Crypto Must End, Says Top US Regulator at CFTC – Here’s Why

dailyhodlDipublikasikan tanggal 2023-04-26Terakhir diperbarui pada 2023-04-26

Abstrak

A member of the U.S. Commodity Futures Trading Commission (CFTC) is reportedly calling for the...

A member of the U.S. Commodity Futures Trading Commission (CFTC) is reportedly calling for the anonymity of crypto transactions to curtail illicit activity.
According to a new Reuters report, CFTC commissioner Christy Goldsmith Romero says that tighter governmental and industry controls on digital assets are needed to curtail risks to national security.

During remarks at a City Week conference in London, Romero said that criminals are turning to crypto to fund cybercrimes.
Says Romero,
“Fraud is a hallmark of digital asset markets, the human toll of which may be overlooked. It’s essential for governments and particularly the industry to address that which makes crypto so attractive to illicit finance, and that is the allure of anonymity.”
Reuters notes how the US, citing national security concerns, recently banned currency mixer Tornado Cash, which pools together funds from differing sources, mixes them up and then redistributes them to increase anonymity.
US Congress is considering new laws to address anonymity in digital assets, according to Reuters.
Says Romero,
“It’s possible for all crypto companies to distance themselves from mixers and anonymity enhancing technology while still providing customers financial privacy.”
The Financial Stability Board (FSB) is also working on final global recommendations for regulations of crypto, which would be issued “soon,” according to Reuters.
The legacy financial system continues to lead the way when it comes to money laundering. According to a report published by the United Nations Office on Drugs and Crime, over a trillion dollars are illicitly funneled through the traditional banking system every 365 days.
A recent analysis from Forbes found that banking giants including Capital One and Deutsche Bank were fined a total of $2.7 billion in 2021 for committing anti-money laundering violations. As for the crypto industry, a January report from Chainalysis found that money laundering accounted for less than one percent of all crypto transactions in 2021.

Bacaan Terkait

Mengapa Staking Ethereum Akan Berubah pada Tahun 2026

Staking Ethereum (ETH) semakin menjadi topik praktis bagi penasihat keuangan dan investor institusional, bukan hanya sekadar ceruk bagi para penggemar kripto. Ini berubah menjadi alat untuk menghasilkan pendapatan dari aset ETH yang dimiliki, yang tercermin dalam laporan keuangan perusahaan seperti Bitmine, di mana 98% pendapatannya berasal dari staking. **Cara Kerja dan Potensi Pendapatan:** Staking ETH melibatkan penempatan aset untuk berpartisipasi dalam jaringan Proof-of-Stake sebagai validator, dengan imbalan sekitar 2–5% per tahun. Pilihan termasuk menjalankan validator mandiri (memerlukan 32 ETH), bergabung dengan pool staking, atau menggunakan bursa dan protokol likuid. **Tantangan dan Model Likuiditas:** Staking asli membatasi likuiditas karena ETH terkunci, sementara staking likuid memberikan token representatif yang dapat diperdagangkan sambil tetap mendapatkan imbalan. **Perkembangan Penting 2026:** Pembaruan jaringan yang diantisipasi, seperti "Glamsterdam" pada paruh kedua 2026, bertujuan meningkatkan skalabilitas, desentralisasi, dan ketahanan pasca-kuantum. Hal ini akan semakin menarik bagi partisipasi institusional. Perkembangan peraturan mengenai penyimpanan aset digital dan perlindungan dari serangan kuantum juga perlu dipantau. **Pertimbangan bagi Penasihat:** Sebelum merekomendasikan produk staking, penting untuk mengevaluasi: siapa yang menanggung risiko jika validator dihukum, bagaimana penyedia memastikan keandalan, struktur likuiditas, sumber dan prediktabilitas imbalan, serta keamanan penyimpanan aset. Singkatnya, staking ETH berkembang dari aktivitas khusus menjadi sumber pendapatan yang sah dan terintegrasi dalam strategi keuangan, menghadirkan peluang sekaligus kompleksitas yang perlu dipahami dengan baik.

cryptonews.ru57m yang lalu

Mengapa Staking Ethereum Akan Berubah pada Tahun 2026

cryptonews.ru57m yang lalu

Operasi Berisiko Pembelian Obligasi oleh Bessent Dapat Memicu Kenaikan Harga Bitcoin

Bitcoin kembali mencapai level USD 80.000 pada Kamis, mengatasi level resistensi kunci di USD 79.000. Pemulihan ini terjadi menjelang lelang surat utang Treasury AS senilai USD 92 miliar yang dijadwalkan pada 31 Agustus. Harga sempat menyentuh USD 80.808 sebelum dikoreksi, dan kini diperdagangkan di atas USD 80.400 dengan peningkatan kapitalisasi pasar menjadi USD 1,61 triliun. Volatilitas menyebabkan likuidasi posisi leveraged Bitcoin senilai USD 105 juta dalam 24 jam, sebagian besar adalah posisi short. Analis pasar memperkirakan lelang Treasury skala besar dapat mengurangi likuiditas jangka pendek dan berpotensi menekan aset digital jika permintaannya lemah. Sementara itu, sebuah artikel di The Economist memperingatkan bahwa kebijakan Menteri Keuangan AS Scott Bessent berisiko merusak kepercayaan terhadap sistem keuangan AS. Kebijakan tersebut, seperti menggandakan batas pembelian obligasi untuk menekan hasil imbal hasil jangka panjang dan mengalihkan struktur utang baru ke surat utang jangka pendek, diduga membuat AS rentan terhadap kenaikan suku bunga di masa depan. Langkah-langkah ini juga dikritik karena berpotensi mendistorsi mekanisme harga pasar dan menggeser kepercayaan investor jangka panjang. Tokoh seperti Ray Dalio berpendapat bahwa kebijakan tersebut mengurangi daya tarik imbal hasil obligasi tradisional, sehingga dapat mengalihkan modal ke aset safe-haven alternatif seperti emas dan Bitcoin, yang harganya memang telah menunjukkan tren naik sejak pengumuman kebijakan Kementerian Keuangan AS.

cryptonews.ru58m yang lalu

Operasi Berisiko Pembelian Obligasi oleh Bessent Dapat Memicu Kenaikan Harga Bitcoin

cryptonews.ru58m yang lalu

Trading

Spot
活动图片