12 Years Ago Today, Bitcoin’s Satoshi Nakamoto Dropped His Final Message

zycryptoDipublikasikan tanggal 2023-04-25Terakhir diperbarui pada 2023-04-25

Abstrak

Fast forward to April 2023, and the Bitcoin story is, in many ways, still just starting. 

Bitcoin Is A Religion - And We’re Hoping To Make It To Satoshi’s Paradise

On April 23, 2011, the enigmatic creator of Bitcoin, Satoshi Nakamoto, sent his final emails to fellow developers in which he made it clear he had “moved on to other projects,” at the time handing over a cryptographic key he had used to send network-wide alerts.
Fast forward to April 2023, and the Bitcoin story is, in many ways, still just starting. 
The Message From Satoshi Nakamoto
12 years ago, the pseudonymous Bitcoin founder penned one of the final correspondences with a friend. The mysterious creator conveyed in his final email that they had “moved on to other things” and confidently proclaimed that the Bitcoin project was entrusted in “good hands” with software developer Gavin Andreesen and “everyone”. Notably, nobody has been able to track down the projects that Nakamoto moved to ever since.
After handing over control of the Bitcoin source code repository to Gavin, Satoshi Nakamoto completely disappeared from the public eye.
As projected, Bitcoin has evolved from an obscure, esoteric project to a trillion-dollar decentralized financial behemoth in the years since its creator’s departure.

Now heralded by governments, politicians, financial institutions, and corporations, the flagship cryptocurrency is in the midst of a mainstream moment. Yet, Satoshi’s identity remains a mystery, and their BTC stockpile of over 1 million remains unmoved. 
Australian entrepreneur Craig Steve Wright is mired in a protracted legal fight that hinges on his being able to access crypto wallets allegedly belonging to Satoshi. Multiple pieces of evidence claiming to strengthen Wright’s claim, including PGP keys, have been disputed, and many in the community are unconvinced that he is the pseudonymous creator.
Pressure To Change Bitcoin Code
Though Bitcoin has yet to live up to all the tenets of Satoshi’s original 2008 white paper, its established monetary policy has made it an appealing store of value for investors.
Nonetheless, a section of industry pundits has made calls to change Bitcoin’s code. Chris Larsen, the billionaire founder of Ripple, for instance, backed a controversial campaign to persuade the Bitcoin community to alter the network’s existing code and remove its proof-of-work (PoW) algorithm, which requires miners to solve complex puzzles to validate transactions and secure the network, in favour of the less energy-intensive proof-of-stake (PoS) consensus mechanism. Ethereum, the second-largest cryptocurrency by market value, executed this change, which resulted in a 99.9% reduction in total energy use.
Although Bitcoin’s environmental impact has been a subject of debate for years, Larsen’s proposal to follow Ether’s footsteps and change the system designed by Satoshi Nakamoto was strongly rejected by Bitcoiners.

Bacaan Terkait

Mengapa Staking Ethereum Akan Berubah pada Tahun 2026

Staking Ethereum (ETH) semakin menjadi topik praktis bagi penasihat keuangan dan investor institusional, bukan hanya sekadar ceruk bagi para penggemar kripto. Ini berubah menjadi alat untuk menghasilkan pendapatan dari aset ETH yang dimiliki, yang tercermin dalam laporan keuangan perusahaan seperti Bitmine, di mana 98% pendapatannya berasal dari staking. **Cara Kerja dan Potensi Pendapatan:** Staking ETH melibatkan penempatan aset untuk berpartisipasi dalam jaringan Proof-of-Stake sebagai validator, dengan imbalan sekitar 2–5% per tahun. Pilihan termasuk menjalankan validator mandiri (memerlukan 32 ETH), bergabung dengan pool staking, atau menggunakan bursa dan protokol likuid. **Tantangan dan Model Likuiditas:** Staking asli membatasi likuiditas karena ETH terkunci, sementara staking likuid memberikan token representatif yang dapat diperdagangkan sambil tetap mendapatkan imbalan. **Perkembangan Penting 2026:** Pembaruan jaringan yang diantisipasi, seperti "Glamsterdam" pada paruh kedua 2026, bertujuan meningkatkan skalabilitas, desentralisasi, dan ketahanan pasca-kuantum. Hal ini akan semakin menarik bagi partisipasi institusional. Perkembangan peraturan mengenai penyimpanan aset digital dan perlindungan dari serangan kuantum juga perlu dipantau. **Pertimbangan bagi Penasihat:** Sebelum merekomendasikan produk staking, penting untuk mengevaluasi: siapa yang menanggung risiko jika validator dihukum, bagaimana penyedia memastikan keandalan, struktur likuiditas, sumber dan prediktabilitas imbalan, serta keamanan penyimpanan aset. Singkatnya, staking ETH berkembang dari aktivitas khusus menjadi sumber pendapatan yang sah dan terintegrasi dalam strategi keuangan, menghadirkan peluang sekaligus kompleksitas yang perlu dipahami dengan baik.

cryptonews.ru57m yang lalu

Mengapa Staking Ethereum Akan Berubah pada Tahun 2026

cryptonews.ru57m yang lalu

Operasi Berisiko Pembelian Obligasi oleh Bessent Dapat Memicu Kenaikan Harga Bitcoin

Bitcoin kembali mencapai level USD 80.000 pada Kamis, mengatasi level resistensi kunci di USD 79.000. Pemulihan ini terjadi menjelang lelang surat utang Treasury AS senilai USD 92 miliar yang dijadwalkan pada 31 Agustus. Harga sempat menyentuh USD 80.808 sebelum dikoreksi, dan kini diperdagangkan di atas USD 80.400 dengan peningkatan kapitalisasi pasar menjadi USD 1,61 triliun. Volatilitas menyebabkan likuidasi posisi leveraged Bitcoin senilai USD 105 juta dalam 24 jam, sebagian besar adalah posisi short. Analis pasar memperkirakan lelang Treasury skala besar dapat mengurangi likuiditas jangka pendek dan berpotensi menekan aset digital jika permintaannya lemah. Sementara itu, sebuah artikel di The Economist memperingatkan bahwa kebijakan Menteri Keuangan AS Scott Bessent berisiko merusak kepercayaan terhadap sistem keuangan AS. Kebijakan tersebut, seperti menggandakan batas pembelian obligasi untuk menekan hasil imbal hasil jangka panjang dan mengalihkan struktur utang baru ke surat utang jangka pendek, diduga membuat AS rentan terhadap kenaikan suku bunga di masa depan. Langkah-langkah ini juga dikritik karena berpotensi mendistorsi mekanisme harga pasar dan menggeser kepercayaan investor jangka panjang. Tokoh seperti Ray Dalio berpendapat bahwa kebijakan tersebut mengurangi daya tarik imbal hasil obligasi tradisional, sehingga dapat mengalihkan modal ke aset safe-haven alternatif seperti emas dan Bitcoin, yang harganya memang telah menunjukkan tren naik sejak pengumuman kebijakan Kementerian Keuangan AS.

cryptonews.ru58m yang lalu

Operasi Berisiko Pembelian Obligasi oleh Bessent Dapat Memicu Kenaikan Harga Bitcoin

cryptonews.ru58m yang lalu

Trading

Spot
活动图片