# Artikel Terkait Pasar AS

Pusat Berita HTX menyediakan artikel terbaru dan analisis mendalam mengenai "Pasar AS", mencakup tren pasar, pembaruan proyek, perkembangan teknologi, dan kebijakan regulasi di industri kripto.

Bukan AI, Juga Bukan Perang, yang Paling Perlu Dikhawatirkan oleh Saham AS Adalah Jepang?

Artikel ini membahas potensi risiko sistemik dari Jepang yang dinilai kurang dihargai oleh pasar global. Dengan yen yang melemah ke level terendah dalam beberapa dekade dan meningkatnya daya tarik aset domestik, Dana Pensiun Pemerintah Jepang (GPIF) - dana pensiun terbesar di dunia - menghadapi tekanan kebijakan untuk memulangkan asetnya secara besar-besaran ke dalam negeri. Jika proses ini dimulai, pasar saham, obligasi, dan mata uang AS (dolar) berpotensi tertekan secara bersamaan. GPIF, yang mengelola sekitar $1,8 triliun, saat ini memiliki sekitar setengah dari portofolionya di aset luar negeri (sekitar $930 miliar). Pergeseran sebagian aset ini kembali ke Jepang dapat meningkatkan permintaan yen, memberikan suntikan pembelian besar ke pasar obligasi pemerintah Jepang, sekaligus berpotensi mendorong naiknya suku bunga AS dan melemahkan dolar. Dorongan kebijakan ini didukung oleh membaiknya fundamental aset domestik Jepang, seperti inflasi yang bangkit dan pertumbuhan ekonomi yang pulih, yang meningkatkan daya tarik investasi lokal. Sementara itu, melemahnya yen merupakan tantangan besar bagi investor asing di pasar saham Jepang, meskipun pasar modal Jepang sendiri diuntungkan oleh narasi reformasi tata kelola perusahaan dan valuasi yang masih diskon dibandingkan pasar AS. Meskipun pasar global saat ini tampak tenang dalam mengantisipasi risiko ini, beberapa indikator teknis seperti cross-currency basis swaps mulai menunjukkan sinyal halus. Jika ekspektasi apresiasi yen menguat, permintaan lindung nilai terhadap dolar akan meningkat dan berpotensi mengencangkan likuiditas, yang pada gilirannya dapat memberi tekanan lebih lanjut pada aset-aset berisiko seperti saham AS.

链捕手07/24 08:07

Bukan AI, Juga Bukan Perang, yang Paling Perlu Dikhawatirkan oleh Saham AS Adalah Jepang?

链捕手07/24 08:07

Pada Malam Ujian Inflasi Saham AS, Wall Street Hadapi 'Penipuan Data' Terparah dalam Sejarah

Artikel ini membahas kesenjangan yang mencolok antara data inflasi resmi AS dan sentimen konsumen yang sebenarnya. Menjelang rilis data CPI Juni, angka resmi menunjukkan inflasi masih terkendali (CPI Mei 4,2%, PCE 3,4%). Namun, Indeks Kepercayaan Konsumen Universitas Michigan mencapai titik terendah bersejarah pada Mei dan terendah kedua pada Juni. Menurut ekonom Kathryn Anne Edwards, akar masalahnya terletak pada cacat sistemik dalam metode pengukuran inflasi saat ini. Indeks Harga Konsumen (CPI) yang dirilis oleh Biro Statistik Tenaga Kerja (BLS) hanya menggunakan beberapa "keranjang belanja" rata-rata, yang menyamarkan realitas inflasi yang sangat berbeda di antara kelompok rumah tangga berdasarkan pendapatan, usia, atau komposisi keluarga. Penelitian BLS sendiri menunjukkan bahwa dalam jangka panjang, keluarga berpenghasilan rendah mengalami tekanan inflasi yang jauh lebih tinggi daripada keluarga kaya. Edwards berargumen bahwa infrastruktur data untuk membuat indeks yang lebih terperinci (berdasarkan tipe keluarga, tingkat pendapatan, dll.) sebenarnya sudah ada. Hambatannya bukanlah teknis, tetapi lebih pada keinginan kebijakan. Memperluas cakupan pengukuran akan memberikan gambaran yang lebih akurat tentang tekanan ekonomi yang dirasakan berbeda oleh berbagai kelompok masyarakat. Artikel ini menyimpulkan bahwa rendahnya sentimen konsumen bukan hanya masalah persepsi, tetapi juga cerminan dari tekanan ekonomi nyata seperti melambatnya perekrutan, upah yang stagnan, harga yang tinggi, utang kartu kredit, dan dampak AI pada lapangan kerja. Bagi investor, memahami perpecahan ini sangat penting untuk menilai jalur kebijakan Federal Reserve dan risiko di sisi konsumen secara lebih baik.

marsbit07/13 14:29

Pada Malam Ujian Inflasi Saham AS, Wall Street Hadapi 'Penipuan Data' Terparah dalam Sejarah

marsbit07/13 14:29

活动图片