‘Tax headache eased?’ IRS extends crypto relief to end of 2026

ambcryptoDipublikasikan tanggal 2026-03-19Terakhir diperbarui pada 2026-03-19

Abstrak

The U.S. IRS has extended temporary tax relief for cryptocurrency investors until the end of 2026, allowing them to use alternative methods to calculate capital gains instead of relying solely on broker-submitted reports. This is the second such extension and aims to reduce tax burdens for investors. Previously, the mandatory FIFO (first-in, first-out) method often resulted in higher taxes by requiring the sale of older, more appreciated coins first. The alternative methods enable investors to potentially report more recent, lower-gain or loss-making sales. The relief also addresses operational challenges for crypto exchanges, which faced significant compliance burdens under the stricter reporting rules. The IRS is gradually phasing in reporting requirements and has proposed making electronic submission the default for tax documents.

The U.S. tax season is here, and there is some sigh of relief for crypto holders using centralized exchanges.

In its latest guidance, the U.S. Internal Revenue Service (IRS) gave crypto holders a free pass to use alternative methods to identify crypto sales for tax purposes instead of relying on their broker-submitted reports.

This is the second time the watchdog has extended the relief, and it could again help lower the tax bill for crypto investors. Initially, the agency mandated crypto exchanges to adopt the FIFO (first-in, first-out) method to track investors’ buy and sell prices for each coin.

For users, this meant that the oldest coins, which were acquired cheaply and have since appreciated significantly, should be reported first. This would result in a higher tax bill due to a higher capital gains tax.

With alternative reporting methods, however, you could include the most recently acquired coins that haven’t rallied much or are in the red.

Source: IRS

U.S. crypto tax compliance burden

According to Shehan Chandrasekera, head of tax at Coin Tracker, the IRS guidance will offer incredible relief to investors, albeit with a few friction points.

He said,

The IRS just quietly saved crypto investors from a massive tax headache by issuing Notice 2026-20.

The temporary relief will be extended up to the end of 2026. But the move isn’t out of just goodwill from the taxman.

Its strict crypto reporting regime has a compliance burden on operators. Notably, crypto exchanges must report the cost basis for each coin bought by each investor to the IRS, along with other data.

At the same time, a duplicate of the report should be given to the customer or physically mailed if the customer hasn’t opted for digital copies. Most brokers have complained that this would be a massive operational burden.

To alleviate this, the agency opted for phased-in reports, starting with only gross proceeds or total crypto sales in reports submitted in 2025. For crypto assets bought in 2026, cost basis data was included in the submitted reports (Form 1099-DA).

Earlier this month, the IRS proposed scrapping physical copies sent to customers and making ‘electronic submission’ the default for tax reports.


Final Summary

  • The IRS will allow crypto investors to use their reporting methods for crypto taxes until the end of the year, rather than relying on the strict broker-submitted reports.
  • The move comes as the agency grapples with ways of lowering tax compliance burdens for crypto investors and brokers.

Pertanyaan Terkait

QWhat relief has the IRS extended to crypto holders until the end of 2026?

AThe IRS has extended temporary relief allowing crypto holders to use alternative methods to identify crypto sales for tax purposes instead of relying strictly on broker-submitted reports.

QWhy was the FIFO method problematic for crypto investors?

AThe FIFO method required reporting the oldest coins first, which were often acquired cheaply and had appreciated significantly, resulting in higher capital gains taxes.

QWhat is the IRS's motivation for extending this relief, according to the article?

AThe move isn't just out of goodwill; the strict crypto reporting regime places a significant compliance burden on both operators (exchanges) and investors, and the IRS is grappling with ways to reduce these burdens.

QWhat change did the IRS propose earlier this month regarding tax report delivery?

AThe IRS proposed scrapping physical copies of tax reports sent to customers and making 'electronic submission' the default method.

QWhat did Shehan Chandrasekera say about IRS Notice 2026-20?

AShehan Chandrasekera stated that 'The IRS just quietly saved crypto investors from a massive tax headache by issuing Notice 2026-20.'

Bacaan Terkait

Saham A: Ketahanan, Ekspektasi, dan Dasar yang Tertimpa Kerusakan

Artikel ini membahas ketahanan pasar saham A-shares di tengah tekanan eksternal pada Juli 2026. Meskipun saham teknologi global, termasuk Korea, melemah dan berdampak pada sektor teknologi A-shares, pasar domestik menunjukkan dasar yang kuat. Penurunan terutama dipicu oleh kontagion risiko eksternal (seperti deleverage di Korea), bukan keruntuhan fundamental. Industri teknologi China memiliki struktur yang lebih terdiversifikasi—meliputi berbagai sub-sektor dan logika naratif ganda (rantai pasokan global AI dan substitusi impor domestik)—dibandingkan ketergantungan Korea pada siklus super chip memori. Data fundamental, seperti pertumbuhan laba yang kuat di modul optik dan kabel serat optik, belum terbantahkan. Pihak berwenang ("Tim Nasional") secara aktif mendukung pasar dengan pembelian besar-besaran dan kebijakan stabilisasi, mengirimkan sinyal keyakinan. Selain sektor teknologi, tiga pilar lain—konsumsi, siklus, dan keuangan—memiliki momentum pemulihan endogen. Sektor konsumsi menunjukkan perbaikan dengan kenaikan CPI dan normalisasi inventaris, sementara siklus (seperti aluminium) didukung oleh profitabilitas tinggi, ekspektasi kenaikan harga, dan valuasi rendah. Aset keuangan menawarkan stabilitas dan dividen yang menarik. Kesimpulannya, penyesuaian ini lebih merupakan pelepasan risiko eksternal. Dengan intervensi kebijakan yang tegas dan fundamental ekonomi yang beragam serta tangguh, pasar A-shares dipandang memiliki ketahanan untuk kembali stabil.

marsbit8m yang lalu

Saham A: Ketahanan, Ekspektasi, dan Dasar yang Tertimpa Kerusakan

marsbit8m yang lalu

Medan Perang Utama Bull Run Berikutnya Ada di Mana? Jawabannya Tersembunyi dalam Dua Aset Ini

**Ringkasan Artikel: Medan Pertempuran Utama untuk Siklus Bull Berikutnya dalam Kripto** Pasar kripto menunjukkan tanda-tanda pembalikan dari kondisi bearish, dengan aliran dana ETF yang kembali positif. Artikel ini mengusulkan narasi inti untuk siklus bull berikutnya: **konvergensi antara keuangan on-chain dan keuangan tradisional**. Pergeseran ini akan didorong oleh adopsi stablecoin, tokenisasi aset, perdagangan 24/7, penyelesaian instan, dan pertumbuhan DeFi institusional yang menargetkan pasar keuangan global, bukan hanya ruang kripto. Untuk memposisikan portofolio dalam tren ini, penulis menyoroti dua kategori peluang investasi yang mewakili jalur konvergensi yang berbeda: 1. **Proyek Asli Kripto dengan Model Bisnis Nyata:** Seperti **Hyperliquid (HYPE)**, sebuah rantai Layer-1 untuk perdagangan derivatif. Separuh volume perdagangannya kini berasal dari aset tradisional (minyak, indeks S&P 500). Platform ini memiliki pendapatan riil (diproyeksikan $8 miliar tahun ini) dan model token yang kuat di mana 99% pendapatan digunakan untuk pembelian kembali dan pembakaran token. 2. **Perusahaan Tradisional yang Mengadopsi Infrastruktur Kripto Secara Serius:** Seperti **Robinhood (HOOD)**, yang baru-baru ini meluncurkan blockchain Layer-2 sendiri, **Robinhood Chain**. Blockchain ini memungkinkan perdagangan saham yang ditokenisasi dan penggunaan protokol DeFi di 120 negara, menunjukkan komitmen nyata untuk integrasi. Kesimpulannya, siklus bull berikutnya akan didorong oleh nilai aplikasi nyata yang menghubungkan dunia keuangan lama dan baru. Investor disarankan untuk fokus pada aset kripto dengan utilitas dan pendapatan nyata serta perusahaan tradisional yang tidak hanya berbicara, tetapi benar-benar membangun dan mengoperasikan solusi berbasis blockchain secara luas.

Foresight News21m yang lalu

Medan Perang Utama Bull Run Berikutnya Ada di Mana? Jawabannya Tersembunyi dalam Dua Aset Ini

Foresight News21m yang lalu

Catatan Penyerbukan UU Kripto 'Clarity': Jalan Kompromi Dua Partai AS Dipenuhi Duri

Kongres AS terus berupaya meloloskan RUU struktur pasar kripto, Clarity Act, namun jalan menuju kompromi antarpartai dipenuhi tantangan. Awal tahun ini, CEO Coinbase Brian Armstrong membatalkan kesepakatan dua partai yang telah diraih, menghentikan sementara prosesnya. Setelah empat bulan, komite akhirnya dapat menjadwalkan RUU ini berkat kompromi tentang masalah "yield" antara Senator Demokrat Angela Alsobrooks dan Senator Republik Thom Tillis. Namun, kemajuan ini terhambat oleh tuntutan klausul etika dari Demokrat, yang menjadi syarat utama mereka. Pada pemungutan suara di komite pertanian Senat, tidak ada satu pun Demokrat yang mendukung karena masalah etika yang belum terselesaikan. Isu lain seperti perlindungan pengembang juga menghadapi penolakan dari lembaga penegak hukum. Meski demikian, ada konsensus bahwa regulasi pasar kripto diperlukan. Senator Cynthia Lummis menekankan perlindungan konsumen dalam RUU, sementara Senator Mark Warner menyuarakan kekhawatiran tentang risiko. Pertemuan dengan pejabat Gedung Putih dan upaya rekonsiliasi antara versi RUU dari komite perbankan dan pertanian Senat sedang berlangsung. Tantangan terbesar adalah mencapai kesepakatan etika yang kuat yang dapat diterima oleh kedua partai. Tanpa dukungan Demokrat, lolosnya RUU ini diragukan. Tujuan jangka pendek komunitas kripto mungkin termasuk tindakan simbolis di Senat sebelum masa reses Agustus, dengan harapan akhirnya menjadi undang-undang pada tahun 2026. Proses yang panjang dan melelahkan ini mencerminkan realitas legislatif di Washington, di mana dukungan harus diraih perlahan-lahan.

marsbit30m yang lalu

Catatan Penyerbukan UU Kripto 'Clarity': Jalan Kompromi Dua Partai AS Dipenuhi Duri

marsbit30m yang lalu

Pendiri Kalshi dan Polymarket Tidak Akur? Perang Bisnis Ini Jauh Lebih Sengit dari Dugaan

Pada November 2024, pendiri Polymarket Shayne Coplan digerebek oleh FBI, yang menandai puncak persaingan sengit dengan perusahaan prediksi pasar saingannya, Kalshi, yang dipimpin Tarek Mansour. Perseteruan ini melampaui kompetisi bisnis biasa, dipenuhi saling tuduh, serangan media, dan perebutan pasar. Perbedaan utama terletak pada pendekatan regulasi: Kalshi beroperasi secara legal di AS dengan izin CFTC, sementara Polymarket lama beroperasi lewat platform lepas pantai yang dapat diakses pengguna AS, meski dilarang. Mansour menuduh Polymarket tidak etis dan ilegal, sementara Coplan menganggap Kalshi sekadar peniru. Konflik meluas ke berbagai arena, termasuk saling menghalangi investasi (seperti upaya Kalshi menggagalkan kerja sama Polymarket dengan ICE), perang penawaran sponsor (seperti kesepakatan Kalshi dengan Madison Square Garden), perebutan talenta, dan kampanye media hitam. Keduanya juga aktif melobi di Washington. Meski Polymarket sempat unggul dalam popularitas, Kalshi kini memimpin dalam valuasi ($220 miliar) dan volume perdagangan. Namun, tekanan regulasi terhadap industri, terutama terkait taruhan olahraga dan potensi perdagangan orang dalam, terus meningkat, dengan Polymarket sering menjadi sasaran utama. Intinya, persaingan ini bukan hanya perebutan pangsa pasar, tetapi juga benturan prinsip tentang batas legalitas dan etika dalam industri prediksi pasar yang berkembang pesat.

marsbit36m yang lalu

Pendiri Kalshi dan Polymarket Tidak Akur? Perang Bisnis Ini Jauh Lebih Sengit dari Dugaan

marsbit36m yang lalu

Trading

Spot
活动图片