Kerugian belum direalisasi di Ripple [XRP] meluas dengan tajam setelah pasar berbalik dari puncak Juli 2025 mendekati $3,65. Selama reli tersebut, banyak investor mengakumulasi posisi antara $2,50 dan $3,50, membentuk zona basis biaya yang padat.
Namun, momentum melemah seiring harga secara bertahap menurun ke $1,35, mendorong sebagian besar pembeli tersebut mengalami kerugian (underwater).
Ketika harga jatuh di bawah perkiraan biaya rata-rata pemegang sebesar $1,38, skala kerugian semakin cepat.
Menurut data Glassnode, sekitar 36,8 miliar XRP kini dipegang dengan kerugian, setara dengan sekitar $50,8 miliar dalam Kerugian Belum Direalisasi. Pergeseran ini mencerminkan bagaimana pembeli di akhir siklus menyerap sebagian besar penurunan seiring memudarnya sentimen bullish.
Meski begitu, pola historis memberikan konteks. Ekspansi kerugian serupa muncul selama penurunan 2021–2022, ketika konsolidasi yang berkepanjangan pada akhirnya menstabilkan struktur pasar alih-alih memicu penyerahan (kapitulasi) segera.
Kapitulasi Ritel Muncul Saat Pemegang XRP Keluar dari Posisi Rugi
Seiring harga XRP menurun dari puncak Juli 2025 mendekati $3,65 ke kisaran $1,30–$1,40, profitabilitas transaksi terus memburuk.
Awalnya, Rasio Profitabilitas Output yang Dikeluarkan (Spent Output Profit Ratio/SOPR) berada di atas 1,1, mencerminkan pengambilan keuntungan (profit-taking) saat pembeli awal mendistribusikan aset pada saat kuat. Namun, tekanan jual menguat setelah reli memudar dan harga bergerak di bawah level entri terkini.
Rasio tersebut kemudian menyelip di bawah garis impas 1,0, turun menjadi sekitar 0,96, yang menandakan bahwa banyak transfer sekarang terjadi dengan kerugian. Pergeseran ini menunjukkan bahwa penjual semakin menerima harga lebih rendah ketika keluar dari posisi.
Pada saat yang sama, aktivitas transaksi menunjukkan partisipasi yang lebih kuat dari dompet yang lebih kecil, mengisyaratkan penjualan yang didorong oleh ritel alih-alih distribusi institusional yang luas.
Pemegang jangka pendek tampaknya membuka pembelian terkait mereka seiring harga menurun.
Pola ini menyoroti fase pasar di mana realisasi kerugian mendominasi aliran transaksi, mengungkapkan bahwa peserta ritel secara aktif keluar alih-alih secara pasif memegang posisi yang mengalami kerugian (underwater).







