Lainnya

Mencakup berbagai konten seperti anekdot industri, wawancara, dan komentar, memberikan perspektif serta wawasan yang beragam.

Myanmar di Bawah Bara Perang: Martabat Dolar AS, Pemuda yang Terjebak, dan Pasar Keuangan Bawah Tanah

Ringkasan: Myanmar di Bawah Perang - Martabat Dolar, Pemuda Terjebak, dan Pasar Keuangan Bawah Tanah Pada tahun 2026, penulis melakukan penelitian lapangan selama dua minggu di Myanmar, melintasi Yangon, Bagan, dan Mandalay. Negara ini terlihat terlipat dalam tiga dimensi: kesenjangan nilai tukar resmi dan pasar gelap (1:300 vs 1:550), perbedaan upah yang ekstrem (pelayan di Bagan hanya mendapat Rp300/bulan), serta stigma internet versus realitas masyarakat yang umumnya masih sederhana dan damai. Dolar AS dihargai sangat tinggi—bahkan sedikit lekuk atau coretan bisa membuatnya ditolak atau didiskon 10-20%, sementara mata uang lokal (kyat) diperlakukan semena-mena. Inflasi yang meroket membuat harga barang naik 5x dalam dekade terakhir, sementara upah hanya naik 2x. Upah harian orang dewasa di Bagan hanya sekitar Rp10,000, setara dengan harga 5 botol air mineral. Anak-anak terpaksa bekerja sejak dini, seperti Kosla yang mulai bekerja di restoran sejak usia 9 tahun dengan upah harian hanya 500 kyat. Pemuda Myanmar juga terjebak: paspor sulit didapat, emigrasi legal hampir mustahil, dan banyak yang mencoba pergi secara ilegal atau bahkan "dijual" sebagai istri ke warga asing dengan biaya tinggi. Myanmar adalah negara yang terbelah: di satu sisi, kehidupan malam di Yangon masih ramai, namun di banyak kota, jam malam pukul 7 membuat jalanan sepi. Rakyat biasa hidup dalam ketidakpastian, terperangkap dalam perang, korupsi, dan inflasi, tanpa waktu untuk memikirkan kebahagiaan.

marsbit02/26 09:43

Myanmar di Bawah Bara Perang: Martabat Dolar AS, Pemuda yang Terjebak, dan Pasar Keuangan Bawah Tanah

marsbit02/26 09:43

活动图片