Businesses are turning to stablecoins as B2B volumes explode – Details

ambcryptoDipublikasikan tanggal 2026-01-29Terakhir diperbarui pada 2026-01-29

Abstrak

Stablecoins are becoming the preferred payment method for businesses, with B2B transactions driving the most significant growth. Improved regulations have accelerated adoption, as stablecoins address key pain points in traditional B2B payments—slow processing, high costs, and operational complexity. Recent data shows B2B stablecoin payments are expanding much faster than card-linked spending, P2P transfers, and B2C use cases. They enable faster cross-border settlements, reduce intermediaries, and cut transaction times from days to minutes. Key developments include Circle’s EURC, which grew nearly 300% year-on-year to around $400 million market cap by January 2026, supported by favorable EU regulations. Meanwhile, USDC on Ethereum reached a record $4.5 trillion in quarterly transfer volume in Q4 2025, up 400% YoY. New entrants like USD1, issued by Trump-backed World Liberty Financial, are also gaining market share rapidly. The stablecoin category is scaling faster than expected, with B2B leading the expansion.

Stablecoins are the go-to payment mode for businesses, and the numbers are starting to show it. With EURC posting mammoth growth and new players like USD1 gaining ground, is the category moving faster than expected?

B2B is where stablecoin payments are scaling the fastest

With improved regulations in the last year, stablecoin usage surged. This is especially true with B2B transactions, where traditional payments are slow, costly, and operationally heavy.

Source: X

Recent data showed B2B stablecoin payments growing far faster than other use cases, outpacing card-linked spending, P2P transfers, and B2C payouts by a wide margin.

The appeal is that stablecoins simplify cross-border and multi-currency settlements while cutting out intermediaries. They also reduce settlement times from days to minutes.

While consumer-facing use cases continue to grow steadily, B2B payments is the sphere where stablecoins are clearly gaining traction.

Numbers are stacking up!

Source: X

In recent days, it’s been made clear that the stablecoin category is actively scaling.

The latest in the category is that Circle’s euro-backed EURC’s market cap has jumped roughly 300% year-on-year (YoY), reaching close to $400 million by January 2026.

There’s a huge push into the EU market with improved legalities that work in favor of growth.

Source: X

On the other hand, dollar-based stablecoins are dominating in volume. USDC usage on Ethereum is at an all time high, with quarterly transfer volumes up nearly 400% YoY, surpassing $4.5 trillion in Q4 2025.

The real payment and settlement use cases have increased drastically in the days since.

Source: X

Newer entrants are moving fast as well. USD1, issued by Trump-backed World Liberty Financial (WLFi), is already closing in on the top tier of stablecoins by market cap.

The coin is projected to be in the top 3 by market cap soon, at the current pace.


Final Thoughts

  • B2B payments are the fastest-growing stablecoin use case.
  • With EURC up 300% YoY and USDC moving $4.5T in a quarter, stablecoins are growing.
Next: SEC and CFTC signal execution phase for crypto regulation at harmonization meeting
Share
  • Share
  • Tweet

Pertanyaan Terkait

QWhat is the fastest-growing use case for stablecoins according to the article?

AB2B payments are the fastest-growing stablecoin use case.

QWhich euro-backed stablecoin saw a 300% year-on-year growth in market cap?

ACircle's euro-backed EURC stablecoin saw its market cap jump roughly 300% year-on-year.

QWhat are the key advantages of using stablecoins for B2B transactions mentioned in the text?

AStablecoins simplify cross-border and multi-currency settlements, cut out intermediaries, and reduce settlement times from days to minutes.

QHow much did USDC's quarterly transfer volume on Ethereum increase year-on-year?

AUSDC's quarterly transfer volumes on Ethereum were up nearly 400% year-on-year, surpassing $4.5 trillion in Q4 2025.

QWhich new stablecoin issued by Trump-backed World Liberty Financial is rapidly gaining market share?

AUSD1, issued by Trump-backed World Liberty Financial (WLFi), is rapidly gaining market share and is projected to be in the top 3 stablecoins by market cap soon.

Bacaan Terkait

Sekelompok Insinyur Suzhou Mendapat Kebebasan Finansial Secara Tak Terduga

Kejutan spektakuler terjadi di pasar saham China. Perusahaan alat uji komunikasi optik, Lianxun Instruments, mengalami kenaikan harga saham 30 kali lipat hanya dalam dua bulan setelah IPO, menjadi saham termahal di A-Shares (melebihi 2.000 RMB). Hal ini membuat sekitar 100 insinyur dan karyawan inti di Suzhou meraih kebebasan finansial yang luar biasa. Untuk mempertahankan talenta teknis, perusahaan telah mempersiapkan platform kepemilikan saham karyawan sejak lama. Melalui tiga platform tersebut, para karyawan kini menguasai 15.91% saham perusahaan, senilai lebih dari 36 miliar RMB. Hampir 40 karyawan menjadi miliarder, dan yang memiliki saham terkecil pun nilainya melebihi 5 juta RMB. Pendiri perusahaan, Hu Haiyang, Huang Jianjun, dan Yang Jian, masing-masing menjadi miliarder baru di Suzhou. Kesuksesan ini didorong oleh ledakan permintaan daya komputasi AI. Pendapatan Lianxun melonjak dari 276 juta RMB (2023) menjadi 1,194 miliar RMB (2025). Investor awal, termasuk modal negara bagian Suzhou, menikmati imbal hasil ratusan kali lipat. Fenomena ini menandai era baru di mana kekayaan diciptakan oleh teknologi. Berbeda dengan era internet dan properti sebelumnya, kini insinyur dan tenaga teknis mulai menjadi pemeran utama dalam kisah sukses finansial. Perusahaan-perusahaan di bidang komunikasi optik, AI, chip, dan semikonduktor lainnya juga melahirkan kisah serupa, memberi imbalan pada para talenta teknis yang selama ini menjadi tulang punggung inovasi China.

marsbit7m yang lalu

Sekelompok Insinyur Suzhou Mendapat Kebebasan Finansial Secara Tak Terduga

marsbit7m yang lalu

Makalah Paling 'Berbahaya' Tahun Ini dari Nvidia: AI Mereproduksi Kode Sendiri, Berevolusi Tanpa Batas

**Ringkasan: Makalah NVIDIA yang Mengkhawatirkan tentang AI yang Berkembang Biak Sendiri dan Berevolusi Tanpa Henti** Sebuah makalah penelitian baru yang ditulis bersama oleh Universitas Cambridge, NVIDIA, dan lembaga lainnya, berjudul **"Red Queen Gödel Machine (RQGM)"**, telah memicu perdebatan serius. Makalah ini menggambarkan sistem AI yang dapat **menulis dan memutasi kode algoritma belajarnya sendiri** secara mandiri. Mekanismenya menyerupai permainan evolusi yang kejam: 1. AI menghasilkan varian kode baru (keturunan dengan mutasi). 2. Varian ini diuji dalam lingkungan terbatas (sandbox). 3. Varian yang gagal dihapus, yang berhasil dipertahankan untuk reproduksi dan evolusi lebih lanjut. Yang paling mengkhawatirkan adalah langkah selanjutnya: AI kemudian **secara aktif mengembangkan "penguji" atau "wasit"-nya sendiri**. Ia menciptakan standar evaluasi yang lebih ketat untuk menilai kode yang lebih maju yang dihasilkannya. Hal ini menciptakan **lingkaran rekursif tanpa akhir** di mana baik "peserta" (agen AI) maupun "penguji" secara bersama-sama berevolusi dan saling mendorong menuju kemampuan yang semakin tinggi—seperti dalam **"Hipotesis Ratu Merah"** di biologi: "Kita harus terus berlari secepat mungkin hanya untuk tetap di tempat yang sama." Dalam eksperimen, RQGM menunjukkan peningkatan kinerja dalam beberapa tugas: * **Penulisan Kode:** Meningkatkan tingkat kelulusan pada kumpulan tes. * **Penulisan Makalah Akademik:** Meningkatkan tingkat "penerimaan" makalah yang dihasilkan AI oleh panel peninjau. * **Pembuktian Matematika:** Menghasilkan sistem penilaian yang lebih akurat dan agen pembuktian yang berkinerja lebih baik. Makalah ini dilihat sebagai langkah signifikan menuju **Recursive Self-Improvement (RSI)**, di mana AI dapat meningkatkan dirinya sendiri secara berulang. Beberapa ahli, seperti Jack Clark dari Anthropic, memprediksi kemungkinan 60% bahwa AI dengan kemampuan evolusi mandiri yang tinggi akan muncul pada akhir tahun 2028. Karya RQGM dianggap sebagai langkah konkret yang memperpendek jarak menuju skenario semacam itu, menimbulkan pertanyaan mendalam tentang masa depan dan potensi kemunculan Kecerdasan Buatan Super (ASI).

marsbit33m yang lalu

Makalah Paling 'Berbahaya' Tahun Ini dari Nvidia: AI Mereproduksi Kode Sendiri, Berevolusi Tanpa Batas

marsbit33m yang lalu

Keseimbangan Kekuatan Kembali Apple dan "Micron cs": Membongkar Struktur Profit di Balik iPhone

Pernahkah Anda mempertanyakan bagaimana keuntungan dari penjualan iPhone didistribusikan di antara berbagai pemasok komponen? Sebuah analisis menunjukkan pergeseran kekuatan dalam rantai pasokan Apple. Dulu, pemasok memori seperti Micron (MU) hanya menerima bagian kecil, sekitar 1.6%-2.3% dari harga iPhone X. Laporan dari akun media sosial @BluthCapital menyoroti ketidakseimbangan ini, dengan menyebut Apple membeli chip seharga $5 dan menjualnya kembali seharga $99 kepada konsumen. Data terbaru menunjukkan, dari total keuntungan satu unit iPhone, Apple mengambil porsi terbesar sekitar 25%, sedangkan raksasa memori seperti Micon hanya memperoleh kurang dari 3%. Laporan keuangan Apple Q2 2026 mengungkapkan, laba bersih per unit iPhone sekitar $320-340, dengan margin bersih mencapai 33%-36%. Sementara itu, biaya memori telah meningkat secara signifikan. Pada era iPhone X (2017), biaya memori hanya sekitar 2% dari Biaya Material (BOM). Namun, pada iPhone 17 (2026), proporsi ini melonjak menjadi 12%-15% dari BOM, sekitar $60-80, didorong oleh kenaikan harga memori secara global. Peningkatan tajam harga memori ini, yang disebut CEO Apple Tim Cook sebagai fenomena "sekali dalam 40 tahun", utamanya dipicu oleh permintaan yang sangat besar dari industri AI. Server AI membutuhkan DRAM 8-10 kali lebih banyak dibandingkan server tradisional, menyebabkan pemasok seperti Samsung, SK Hynix, dan Micon mengalihkan produksi ke produk berpenghasilan tinggi seperti HBM (High Bandwidth Memory), yang mengurangi pasokan untuk elektronik konsumen seperti iPhone. Ketimpangan pasokan ini mengubah dinamika kekuatan, memberikan leverage negosiasi yang lebih besar kepada produsen memori. Bahkan, dikabarkan Apple sedang mencoba mendiversifikasi pasokannya dengan mengajukan izin untuk membeli chip memori dari perusahaan China, CXMT. Singkatnya, era di mana Apple mendominasi dengan menekan harga pemasok komponen seperti memori sedang mengalami perubahan. Kekuatan kini bergeser seiring dengan melonjaknya permintaan memori dari sektor AI, memaksa perusahaan seperti Apple untuk menyesuaikan strategi dan menghadapi kenaikan biaya yang signifikan.

Odaily星球日报2j yang lalu

Keseimbangan Kekuatan Kembali Apple dan "Micron cs": Membongkar Struktur Profit di Balik iPhone

Odaily星球日报2j yang lalu

Trading

Spot
活动图片