The Top 5 Metaverses to Look Out for in 2022

BitcoinistDipublikasikan tanggal 2022-03-27Terakhir diperbarui pada 2022-04-07

Abstrak

Last year, Facebook rebranded to Meta and announced that they are ‘developing exciting new technologies to help people connect and...

Last year, Facebook rebranded to Meta and announced that they are ‘developing exciting new technologies to help people connect and explore in the metaverse.’ Ever since metaverses have been making mainstream headlines. If you’ve been watching from the sidelines, you’d be forgiven for thinking that you’re late to the party, but that couldn’t be further from the truth.
It’s still very early days for this groundbreaking reimagining of our digital lives. If you’re looking for an easily-digestible introduction to 2022’s top metaverses, we’ve got you covered. In no particular order, here are our top 5.
Ertha – Explore & Expand
Whilst Decentraland currently reigns supreme as the industry’s biggest metaverse, Ertha could be next in line to the throne. After generating a lot of buzz with its token release earlier this year it has quickly gained traction to become one of the most-anticipated metaverse games.
Ertha is a play-to-earn game in which mankind finds itself on the brink of extinction. Players must right the wrongs of the past by building a new world, from the ground up. Traverse the globe, develop revenue-generating land plots, and rebuild entire continents from the comfort of your home. The game delivers a unique experience in which players can turn their in-game earnings into real-world income.
Taking inspiration from classic MMO and strategy games, Ertha offers players a complex and intricately designed playspace perfect for the creation of governments, economies, and shaky alliances between its playerbase. Every player has the opportunity to leave a lasting impression within this ever-evolving metaverse.
You will need to act quickly if you want to own your own piece of Ertha. Land is being snapped up quickly, so head over to their globe to avoid missing out!
Wizardia – Turn-Based Battler
In Wizardia players collect NFTs in a truly magical play-to-earn role-playing game. Level up your character and upgrade your gear on your quest to become the ultimate Wizard.
The game’s gorgeous visual style ensures that it stands out from the other projects on this list, but don’t let that deceive you! Wizardia tasks players with competing in intense PvP and PvE turn-based battles. You’ll need to think strategically as you fight for survival and uncover the magic behind this brand-new metaverse.
Players who wish to invest in Wizardia can do so through its dual-NFT ecosystem which ensures there are plenty of ways to engage with the play-to-earn mechanics. Earn rewards and tokens for winning battles, renting out Wizard NFTs, and selling NFTs. Passive income can be generated through holding ‘Genesis’ NFTs.
Wizardia is expected to launch in Q4 2022.
Illuvium – Open-World Adventure
Illuvium has already generated a lot of hype. This highly-anticipated RPG has been billed as the first triple-A Blockchain game and its mix of open-world gameplay and Pokemon-style capture mechanics give it huge mainstream appeal.
Players journey through an alien landscape on the hunt for creatures known as Illuvials. There are over 100 unique creatures to capture, each with unique classes and abilities. Build your dream team and think strategically to outsmart and outmaneuver your opponents in intense auto-battles.
Star Atlas – Sci-Fi Epic
Set in the distant future, Star Atlas is a massive multiplayer metaverse where players must side with one of three unique factions and compete for control of resources and territory.
In this vast sci-fi world, players embark on an epic journey where they will have the opportunity to influence the outcome of battles and earn real-life rewards for their contributions. It aims to achieve this by combining the blockchain with traditional game mechanics like combat, crafting, and guild wars.
Players are given further incentive to explore the world through the prospect of valuable in-game resources which can be converted into real-world value.
Moon Metaverse – Space-Age Simulation
Moon is an extremely exciting proposition, and you can be one of the first to get involved. Inspired by traditional strategy games like Civilization and Age of Empires, this space-age play-to-earn metaverse promises in-depth economic, political, and social gameplay.
Players are tasked with building the first lunar colony by taking control of revenue-generating NFT land plots. Available from Moon’s brand new marketplace, each plot of lunar land grants access to a unique in-game economy in which players can start businesses, develop real estate, and create thriving communities. If developed and managed efficiently, lunar land has the potential to generate significant real-world income in the form of the game’s token.
However, such significant achievements in mankind’s history bring periods of extreme volatility. Don’t expect everyone to be on your side. There will be plenty of power-hungry players to contend with and conflict is never far away!
Moon Metaverse’s lunar land already looks like a fantastic investment for those looking to profit from the rise of play-to-earn gaming. Start your adventure among the stars by buying your own piece of the Moon today!
Final Thoughts
At this point, the rise of the metaverse is inevitable and the games pioneering this groundbreaking technology are set to become some of the most valuable entertainment properties in the world.
Whilst this is far from an exhaustive list of metaverse games, these are the five that we’ll be keeping an eye on, and we suggest you do too!

Bacaan Terkait

Tim Fei-Fei Li Memperjelas Konsep 'Model Dunia', Sora Hanya Bisa Disebut Sebagai Renderer

Tim World Labs dan Profesor Stanford Li Fei-Fei menerbitkan analisis konseptual berjudul "Fungsional Taxonomy of World Models". Artikel tersebut menyatakan bahwa istilah "model dunia" telah menjadi salah satu konsep terpenting namun paling disalahgunakan di bidang AI. Pemicu kebingungan ini adalah keberagaman sistem yang disebut "model dunia". OpenAI's Sora disebut "world simulator", tetapi hanya menghasilkan video yang realistis secara visual. Tesla menggunakan "model dunia" untuk memprediksi pergerakan objek di FSD, sementara perusahaan robotika menggunakannya untuk mengevaluasi konsekuensi tindakan. Padahal, ketiganya memiliki tujuan teknis yang sangat berbeda. Berdasarkan kerangka Partially Observable Markov Decision Process (POMDP), tim mengusulkan klasifikasi fungsional yang membagi sistem "model dunia" menjadi tiga proyeksi: Renderer, Simulator, dan Planner. * **Renderer (seperti Sora, Genie 3):** Fokus pada generasi piksel yang realistis secara visual. Input adalah representasi keadaan, output adalah gambar/video. Tidak menjamin keakuratan fisik. * **Simulator (seperti NVIDIA Omniverse):** Fokus pada prediksi keadaan fisik selanjutnya secara akurat. Input adalah keadaan saat ini dan tindakan, output adalah keadaan berikutnya yang dapat dihitung untuk analisis teknis. Data 3D berkualitas untuk pelatihannya sangat langka. * **Planner (seperti model VLA):** Fokus pada keputusan tindakan. Input adalah data observasi dan instruksi tujuan, output adalah tindakan selanjutnya yang harus dijalankan. Artikel ini menyimpulkan bahwa Sora, sesuai dengan klasifikasi ini, adalah Renderer, bukan "model dunia" yang utuh karena tidak dapat memprediksi perubahan keadaan berdasarkan input tindakan. Klarifikasi ini penting untuk menghindari kesalahan teknis, memberikan kejelasan bagi investor, dan menetapkan tolok ukur yang jelas di kalangan akademisi.

marsbit6m yang lalu

Tim Fei-Fei Li Memperjelas Konsep 'Model Dunia', Sora Hanya Bisa Disebut Sebagai Renderer

marsbit6m yang lalu

Dari Web3 ke AI Agent, VC Kripto Legendaris Variant Taruhan Transformasi 2 Triliun Rupiah

**Variant Luncurkan Dana Baru Rp 3,55 Triliun, Fokus Beralih dari "Kepemilikan Digital" ke "Otonomi" (Autonomy)** Variant Fund, sebuah venture capital (VC) kripto ternama, mengumumkan peluncuran dana baru senilai USD 222 juta (sekitar Rp 3,55 triliun) bernama Variant 4. Dana ini akan berinvestasi pada tahap awal (early-stage) dan tahap pertumbuhan/likuiditas. Filosofi investasi Variant mengalami evolusi. Dari sebelumnya berfokus pada **"Kepemilikan Digital"** (atas uang, identitas, data, produk), kini berkembang menjadi tema yang lebih luas: **"Otonomi" (Autonomy)**. Inti dari Otonomi adalah **meningkatkan daya pikir dan kendali pengguna** atas hidup, aset, dan identitas mereka sendiri. Variant membedakan ini dengan sekadar **otomatisasi cerdas**. Menurut mereka, teknologi otomatisasi harus meningkatkan kedaulatan pengguna, bukan hanya menguntungkan platform. Kunci utamanya adalah: teknologi itu melayani pengguna atau pihak lain? Variant meyakini bahwa **agen AI (AI Agent)** dan **infrastruktur keuangan global yang terbuka** akan mengubah struktur internet — dari model di mana pengguna adalah produk, menjadi internet di mana pengguna memiliki daya pikir yang belum pernah terjadi sebelumnya. Pergeseran ini tidak hanya untuk konsumen, tetapi juga mencakup pasar, alat, dan layanan baru untuk pengembang dan bisnis. Oleh karena itu, tesis investasi baru mereka adalah: **Variant berinvestasi pada teknologi yang memperluas Otonomi**, dengan fokus pada pasar, infrastruktur, dan aplikasi baru yang memberdayakan pengguna melalui peningkatan akses, pengetahuan, dan kepemilikan. Tesis ini mencakup investasi masa lalu mereka di pemimpin kategori blockchain (Ethereum, Solana), infrastruktur pengembang (Blockaid, Turnkey, Relay), pasar keuangan baru (Uniswap, Morpho, OpenFX), dan produk konsumen (Phantom, World). Ini juga tercermin dalam investasi baru-baru ini seperti: * **Honcho**: Solusi penyimpanan memori agen yang di-host sendiri. * **Octet**: Memungkinkan aplikasi memverifikasi lokasi fisik pengguna secara kriptografis sebagai blok pembangun identitas digital. * **here.now**: "Awan agen" yang memungkinkan kepemilikan dan komposisi konten yang dihasilkan. Variant mengundang para pendiri yang membangun dengan tujuan untuk memperluas otonomi pengguna untuk menghubungi mereka.

marsbit12m yang lalu

Dari Web3 ke AI Agent, VC Kripto Legendaris Variant Taruhan Transformasi 2 Triliun Rupiah

marsbit12m yang lalu

Momen Ballmer Ethereum: Saat Semua Meragukan, Pasokan yang Beredar Mulai Menghilang

**Ringkasan: Saat Semua Meremehkan Ethereum, Pasokan yang Beredar Justru Menyusut** Narasi bearish tentang Ethereum kini mendominasi: pendiri Bankless menjual ETH, developer muda beralih ke Solana, dan Ethereum Foundation dianggap menghindari risiko. Situasi ini disebut sebagai "Era Ballmer" Ethereum, mengacu pada periode Microsoft di bawah Steve Ballmer yang dianggap stagnan, namun sebenarnya fondasi bisnisnya terus tumbuh solid di balik layar. Di balik narasi permukaan, dasar fundamental Ethereum menunjukkan tren positif: * **30% dari total pasokan ETH telah di-staking**, mengunci likuiditas. * Perusahaan seperti BitMine dan calon ETF spot terus menyerap ETH dari pasar. * Regulasi yang semakin jelas (seperti keputusan SEC tentang staking, GENIUS Act, CLARITY Act) mengubah crypto dari ancaman menjadi kerangka hukum yang diakui, membuka jalan bagi modal institusional. Sementara dominasi Ethereum dalam aset tokenisasi (seperti stablecoin USDC) dan DeFi berkurang dibandingkan pesaing seperti Solana, Ethereum tetap menjadi *settlement layer* netral tepercaya pilihan utama untuk aset tokenisasi institusional. Kompresi pasokan yang beredar, permintaan akan yield staking, dan statusnya sebagai pilihan default institusi dapat mendorong penilaian ulang harga ETH, bahkan tanpa kemenangan dalam "perang fee". Kesimpulannya, meskipun energi budaya dan inovasi mungkin bergeser ke chain lain, lanskap crypto secara keseluruhan sedang mengadopsi bentuk yang lebih terlembaga. Ethereum, dengan efek jaringan dan netralitasnya, diposisikan dengan baik untuk menangkap nilai dari gelombang institusional ini. Narasi bearish yang telah menjadi konsensus justru menciptakan peluang saat fondasi sebenarnya sedang diperkuat.

marsbit23m yang lalu

Momen Ballmer Ethereum: Saat Semua Meragukan, Pasokan yang Beredar Mulai Menghilang

marsbit23m yang lalu

Bloomberg Mengungkap: Bagaimana Orang Kaya China Mengatasi Batas 50.000 Dolar per Tahun untuk Memindahkan Aset?

Penelitian Bloomberg mengungkap cara orang kaya China menghindari batas penukaran valuta asing sebesar $50.000 per tahun. Meski kontrol modal ketat diterapkan sejak 1994 dan diperkuat pasca 2015, diperkirakan $150 miliar masih bocor setiap tahun melalui lima jalur utama: 1. **Jaringan Hawala/“Duiqiao”**: Transfer terbesar tanpa dana fisik melintasi batas. Uang RMB disetor ke rekening dalam negeri, dan mitra luar negeri menyetorkan mata uang asing ke rekening klien di luar negeri. 2. **“Semut Pindah”**: Menggunakan kuota $50.000 legal banyak orang untuk dikirim ke satu rekening luar negeri, namun kini diburu algoritma. 3. **Pemalsuan Faktur Perdagangan**: Perusahaan menaikkan nilai faktur impor atau menurunkan nilai ekspor untuk mengalirkan dana ke perusahaan shell luar negeri. 4. **Migrasi Saluran**: Beralih dari broker online yang dilarang ke jalur manajemen kekayaan lintas batas bank besar (seperti BOC Hong Kong) atau program QDII yang disetujui negara. 5. **Pengaturan Struktural**: Menggunakan kombinasi perwalian keluarga lepas pantai, asuransi jiwa Hong Kong, dan program investasi imigrasi. Regulator merespons dengan fokus baru pada individu, bukan hanya perusahaan. Penerapan CRS sejak 2024 membuat rekening luar negeri warga China di 100+ negara menjadi transparan bagi otoritas pajak. Cryptocurrency seperti USDT juga telah menjadi target penindakan hukum. Dengan lebih dari 6,2 juta rumah tangga kaya di China, tekanan untuk mendiversifikasi aset ke luar negeri tetap kuat di tengah ketidakpastian ekonomi dan geopolitik.

marsbit25m yang lalu

Bloomberg Mengungkap: Bagaimana Orang Kaya China Mengatasi Batas 50.000 Dolar per Tahun untuk Memindahkan Aset?

marsbit25m yang lalu

Trading

Spot
Futures
活动图片