Brazilian Voting Authority Might Include Blockchain Tech in Future Elections

newsbtcDipublikasikan tanggal 2022-08-09Terakhir diperbarui pada 2022-08-09

Abstrak

The Brazilian voting authority (TSE), has publicly declared it is studying blockchain as a technology that might help the organization in its task of organizing ballots. Celio Castro Wermerlinger, coordinator of modernization of the institution, stated that this decentralized ledger tech was included in a research program called “Elections of the Future.”

Brazilian

The Brazilian voting authority (TSE), has publicly declared it is studying blockchain as a technology that might help the organization in its task of organizing ballots. Celio Castro Wermerlinger, coordinator of modernization of the institution, stated that this decentralized ledger tech was included in a research program called “Elections of the Future.”

Brazilian TSE Is Researching Blockchain Tech

Blockchain tech is being included in several solutions designed for various applications, including ballot and voting technologies. The Brazilian voting authority announced last month that they were researching blockchain tech and the different ways it might be included in ballots.

Celio Castro Wermerlinger, who is the coordinator of modernization at the Brazilian voting authority, stated that end-to-end voting protocol, post-quantum cryptography, shared keys, and blockchain were part of the technologies being studied. This investigation is part of a program called “Elections of the Future,” that seeks more efficient and more economically viable solutions to be implemented in the electronic voting system.

However, Wermerlinger did not offer a timeline for the application of these solutions and argued that the Brazilian voting system, which is now 100% national, was safe due to the electronic solutions that are implemented in every ballot.

Blockchain and Voting

While voting is listed as one of the possible applications of blockchain systems due to the trust and security it might bring, it has not been widely adopted apart from several pilot tests conducted in the U.S., and events in other countries.

Voatz, a blockchain-based voting company, is one of the pioneers in this field, having helped residents of West Virginia outside of the state to vote using their mobile phones during the 2018 ballot. However, this pilot was criticized due to the security issues it might bring to the results of the election. Authorities in the state suspended its use citing security concerns in 2020.

Even after that, the platform was used to organize a mock election in Chandler, Arizona with the intention of testing the platform and the reaction of the citizens while using this kind of app on a ballot. The pilot was recently deemed positive by the city clerk.

Voatz has also been involved in elections in other countries, including Venezuela. The application was used to organize an unofficial referendum against Nicolas Maduro, president of the country, with millions using it in 2020.



Bacaan Terkait

Nvidia CPU Berdatangan, RISC-V China Menyambut Tantangan: Pengamatan Mendalam Industri Semikonduktor Bagian Empat

NVIDIA akan meluncurkan CPU Vera berbasis Arm ke pasar Tiongkok pada Agustus, dengan harga per unit melebihi US$20.000. Langkah ini memicu pertanyaan kritis di Tiongkok: apakah ketergantungan pada arsitektur x86 dan Arm dalam infrastruktur AI harus terus berlanjut? RISC-V muncul sebagai jawaban potensial. Artikel ini membahas perjalanan RISC-V Tiongkok dari segmen embedded ke komputasi kinerja tinggi (HPC) dan AI. Dijelaskan "segitiga mustahil" industri CPU—kemakmuran, kendali, dan kemandirian—di mana RISC-V dipandang sebagai satu-satunya jalur yang dapat mencapai ketiganya secara bersamaan berkat sifatnya yang terbuka, modular, dan standar internasional. Dorongan utama di Tiongkok berasal dari kombinasi permintaan AI yang meledak, pembatasan ekspor chip yang memperketat pasokan, potensi pengurangan biaya struktural melalui open-source, serta dukungan kebijakan pemerintah. Beberapa tim Tiongkok telah berhasil mencapai atau melampaui tolok ukur performa kunci, seperti skor SPECint 15 per GHz, dan mengembangkan subsistem komputasi lengkap termasuk jaringan on-chip (NoC) yang koheren. Namun, tantangan besar tetap ada. Fragmentasi ekosistem akibat instruksi kustom, kesenjangan dalam rantai alat EDA dan verifikasi, serta kebutuhan untuk mengejar efisiensi dan kinerja inti tunggal adalah beberapa rintangan nyata. Meski produk server RISC-V yang patuh pada standar RVA23 telah ada, jalan menuju paritas penuh dengan x86 dan Arm di data center masih panjang. Kesimpulannya, RISC-V menawarkan jalur mandiri bagi Tiongkok dalam komputasi kinerja tinggi. Meski belum dapat menggantikan solusi seperti NVIDIA Vera dalam waktu dekat, fokusnya adalah membangun fondasi untuk kemandirian jangka panjang, memastikan Tiongkok tidak lagi sepenuhnya bergantung pada arsitektur pihak asing di masa depan.

marsbit6j yang lalu

Nvidia CPU Berdatangan, RISC-V China Menyambut Tantangan: Pengamatan Mendalam Industri Semikonduktor Bagian Empat

marsbit6j yang lalu

Panel Taruhan Coding Meraup Untung, Tapi Polymarket Bukan Tempat 'Arbitrase' yang Baik

Artikel ini membahas pengalaman penulis menggunakan panel taruhan buatannya sendiri di Polymarket, platform prediksi berbasis blockchain. Meski panel tersebut membantu menghasilkan keuntungan sekitar 30% dari modal $1600 dalam beberapa minggu, penulis menekankan bahwa Polymarket bukanlah tempat yang ideal untuk mencari peluang arbitrase yang mudah dan aman. Penulis menjelaskan panelnya yang terdiri dari dua bagian utama: "Dasbor Portofolio" untuk memantau posisi terbuka dengan fitur manajemen risiko, dan "Pemantauan Peluang" sebagai watchlist. Panel ini dirancang untuk mengubah keputusan taruhan yang subjektif menjadi kerangka kerja yang lebih terstruktur dan terkendali. Poin kunci dari artikel ini adalah analisis tentang jebakan ekspektasi matematis di Polymarket. Di sini, meskipun suatu taruhan tampak memiliki ekspektasi positif, risiko kehilangan seluruh modal (100%) dalam satu perdagangan tetap ada. Oleh karena itu, penulis menerapkan prinsip diversifikasi dan manajemen posisi ketat dengan membagi taruhan menjadi tiga tingkatan (T1, T2, T3) berdasarkan keyakinan dan waktu penyelesaian, serta membatasi eksposur per taruhan dan per tema. Kesimpulan penulis adalah bahwa peluang di Polymarket lebih bergantung pada perbedaan informasi dan diversifikasi portofolio yang cermat, bukan pada arbitrase bebas risiko. Setiap taruhan memiliki risiko tinggi berupa kehilangan seluruh modal. Platform ini lebih cocok digunakan sebagai alat pelatihan untuk menguji ketajaman analisis terhadap peristiwa dunia, dengan disiplin manajemen risiko yang ketat untuk menghindari kerugian besar.

marsbit9j yang lalu

Panel Taruhan Coding Meraup Untung, Tapi Polymarket Bukan Tempat 'Arbitrase' yang Baik

marsbit9j yang lalu

Trading

Spot
Futures
活动图片