Is SocialFi Internet’s Next Big Thing?

dailyhodlDipublikasikan tanggal 2022-08-04Terakhir diperbarui pada 2022-08-04

Abstrak

Social media has revolutionized the way we communicate and interact. It has permanently sent...


Social media has revolutionized the way we communicate and interact. It has permanently sent the erstwhile telegram service into the coffers.
On average, we spend two hours on social media every day. Social media platforms have perpetually rewired our brains and made us accept a radically different world we live in – for better or worse.
Undeniably, it’s now a key part of each of our lives. So much so that a person without social presence is sometimes labeled as a misfit.
However, the current market is dominated by Web 2.0 platforms such as Facebook, Instagram, Twitter and TikTok. These centralized players have monopolized the space, giving them the authority to not always operate in the user’s best interest.
How is SocialFi different
SocialFi is the latest offering from Web 3.0’s stable that intends to infiltrate the present status quo. In simple terms, SocialFi – short for ‘social finance’ – is an amalgamation of social media and decentralized finance (DeFi).
Forged under the ethos of Web 3.0, SocialFi presents the opportunity to create, manage and own the content generated on a social media platform. As a result, participants have more control over their privacy and multiple ways to monetize their content and followers.
In short, SocialFi cuts through the equation and hands power back to the users.
The platforms work on the blockchain, and key decisions over tokenomics, content moderation and engagement are handled by decentralized autonomous organizations (DAOs).
What does it offer?
In September 2021, Facebook whistleblower Frances Haugen said that there were “conflicts of interest between what was good for the public and what was good for Facebook,” and consciously Facebook “chose to optimize for its own interests, like making more money.”

Even though such acquisitions were common back then, it was the first time an insider spoke out publicly on the issue. It kind of precipitated the belief that massive changes were necessary for social networks as we know them.

The personal data market is worth billions of dollars, making it quite lucrative for traditional social media platforms.

Every time you use a social media platform, they make you accept their terms and conditions, which often seek to collect personal data such as hobbies, health info, browsing history, etc. If you didn’t know, TikTok even collects biometric information about our faces and voices for as-of-yet unknown reasons.

In a Pew Research survey, 81% of respondents felt they have little to no control over how their personal information is used.

Social media is, of course, free – but “if the product is free, you are the product.” Every year, a single user contributes about $36 to Google’s ad revenue.

Sure, Google isn’t a social network. However, the figure serves as a decent indicator of each user’s value to these megacorporations that make money by monetizing customer data.

There’s an apparent misalignment of interests. SocialFi’s current positioning as a decentralized platform intends to tackle such issues by letting users have significantly more control over their data.

Instead of holding everything on a centralized server, data will have to be stored through a series of web nodes. Thus, reducing the risks of breach and single point of failure.

Also, SocialFi unlocks a whole new world of financial autonomy. Firstly, the web nodes are rewarded for storing data, and secondly, there are plenty of avenues for influencers to monetize their content.
Current trends
Even though the space is just beginning to spread its wings, some platforms such as Aether – an alternative to Reddit, Diamond – a Twitter-like micro-blogging site and Torum have started to garner attention.
These apps primarily use social tokens to drive the economy. Influencers have the ability to manage their economy on the platform through these in-app social tokens.
They can, for instance, create their own utility token that fuels their mini economy. Holders of the particular token can interact with the influencer’s content as per the assigned privileges – decided by the influencer.
If the influencer’s social clout increases, the token’s value also rises and vice versa. Thus, also providing followers an opportunity to grow along with their favorite influencer.
Integration of non-fungible tokens (NFTs) becomes much simpler with SocialFi apps. Anyone can directly mint and distribute NFTs on the platform without the hassle of using a third party.
Users can interact with NFTs more openly. While NFTs as avatars are already in use across several Web 2.0 platforms, SocialFi can also integrate the avatar with a futuristic metaverse.
Another lingering issue with traditional platforms is freedom of speech. Although free speech is more often than not misused in the online space, centralized platforms constantly face stark criticism for the way they manage hate content.
SocialFi can liberalize the whole ecosystem because it won’t be under the pressure of higher authorities such as state governments.
Challenges
As the internet shifts toward decentralization, SocialFi is destined to gain prominence.

However, a key challenge would be infrastructure. Facebook generates four petabytes of data every single day. This means for SocialFi to work, it needs to create storage capacity for millions of gigabytes.

Evidently, current tech isn’t yet ready to handle a massive user base, but expectations are that things should improve as systems get better.

Despite the prevailing challenges, SocialFi has the potential to add immense utilitarian value to the crypto and NFT space and drastically alter the way we communicate – just like centralized social media platforms did in the 90s.


Bacaan Terkait

Nvidia CPU Berdatangan, RISC-V China Menyambut Tantangan: Pengamatan Mendalam Industri Semikonduktor Bagian Empat

NVIDIA akan meluncurkan CPU Vera berbasis Arm ke pasar Tiongkok pada Agustus, dengan harga per unit melebihi US$20.000. Langkah ini memicu pertanyaan kritis di Tiongkok: apakah ketergantungan pada arsitektur x86 dan Arm dalam infrastruktur AI harus terus berlanjut? RISC-V muncul sebagai jawaban potensial. Artikel ini membahas perjalanan RISC-V Tiongkok dari segmen embedded ke komputasi kinerja tinggi (HPC) dan AI. Dijelaskan "segitiga mustahil" industri CPU—kemakmuran, kendali, dan kemandirian—di mana RISC-V dipandang sebagai satu-satunya jalur yang dapat mencapai ketiganya secara bersamaan berkat sifatnya yang terbuka, modular, dan standar internasional. Dorongan utama di Tiongkok berasal dari kombinasi permintaan AI yang meledak, pembatasan ekspor chip yang memperketat pasokan, potensi pengurangan biaya struktural melalui open-source, serta dukungan kebijakan pemerintah. Beberapa tim Tiongkok telah berhasil mencapai atau melampaui tolok ukur performa kunci, seperti skor SPECint 15 per GHz, dan mengembangkan subsistem komputasi lengkap termasuk jaringan on-chip (NoC) yang koheren. Namun, tantangan besar tetap ada. Fragmentasi ekosistem akibat instruksi kustom, kesenjangan dalam rantai alat EDA dan verifikasi, serta kebutuhan untuk mengejar efisiensi dan kinerja inti tunggal adalah beberapa rintangan nyata. Meski produk server RISC-V yang patuh pada standar RVA23 telah ada, jalan menuju paritas penuh dengan x86 dan Arm di data center masih panjang. Kesimpulannya, RISC-V menawarkan jalur mandiri bagi Tiongkok dalam komputasi kinerja tinggi. Meski belum dapat menggantikan solusi seperti NVIDIA Vera dalam waktu dekat, fokusnya adalah membangun fondasi untuk kemandirian jangka panjang, memastikan Tiongkok tidak lagi sepenuhnya bergantung pada arsitektur pihak asing di masa depan.

marsbit4j yang lalu

Nvidia CPU Berdatangan, RISC-V China Menyambut Tantangan: Pengamatan Mendalam Industri Semikonduktor Bagian Empat

marsbit4j yang lalu

Panel Taruhan Coding Meraup Untung, Tapi Polymarket Bukan Tempat 'Arbitrase' yang Baik

Artikel ini membahas pengalaman penulis menggunakan panel taruhan buatannya sendiri di Polymarket, platform prediksi berbasis blockchain. Meski panel tersebut membantu menghasilkan keuntungan sekitar 30% dari modal $1600 dalam beberapa minggu, penulis menekankan bahwa Polymarket bukanlah tempat yang ideal untuk mencari peluang arbitrase yang mudah dan aman. Penulis menjelaskan panelnya yang terdiri dari dua bagian utama: "Dasbor Portofolio" untuk memantau posisi terbuka dengan fitur manajemen risiko, dan "Pemantauan Peluang" sebagai watchlist. Panel ini dirancang untuk mengubah keputusan taruhan yang subjektif menjadi kerangka kerja yang lebih terstruktur dan terkendali. Poin kunci dari artikel ini adalah analisis tentang jebakan ekspektasi matematis di Polymarket. Di sini, meskipun suatu taruhan tampak memiliki ekspektasi positif, risiko kehilangan seluruh modal (100%) dalam satu perdagangan tetap ada. Oleh karena itu, penulis menerapkan prinsip diversifikasi dan manajemen posisi ketat dengan membagi taruhan menjadi tiga tingkatan (T1, T2, T3) berdasarkan keyakinan dan waktu penyelesaian, serta membatasi eksposur per taruhan dan per tema. Kesimpulan penulis adalah bahwa peluang di Polymarket lebih bergantung pada perbedaan informasi dan diversifikasi portofolio yang cermat, bukan pada arbitrase bebas risiko. Setiap taruhan memiliki risiko tinggi berupa kehilangan seluruh modal. Platform ini lebih cocok digunakan sebagai alat pelatihan untuk menguji ketajaman analisis terhadap peristiwa dunia, dengan disiplin manajemen risiko yang ketat untuk menghindari kerugian besar.

marsbit7j yang lalu

Panel Taruhan Coding Meraup Untung, Tapi Polymarket Bukan Tempat 'Arbitrase' yang Baik

marsbit7j yang lalu

Analisis Pertumbuhan Notion: Dari Alat Catatan hingga 100 Juta Pengguna, Bagaimana Notion Membangun Tiga Roda Gigi Pertumbuhan Produk, Template, dan Komunitas

Notion telah berkembang dari alat catatan sederhana menjadi platform kolaborasi global dengan lebih dari 100 juta pengguna. Kesuksesannya didorong oleh tiga roda pertumbuhan yang saling terkait. **Pertama, Product-Led Growth (PLG):** Produk yang mudah digunakan dan gratis memungkinkan pengguna merasakan nilainya dengan cepat, sementara fitur berbagi dan kolaborasi menciptakan penyebaran alami. **Kedua, Ekonomi Template:** Template yang dibuat oleh pengguna dan kreator mengubah kemampuan abstrak Notion menjadi solusi praktis, mengurangi hambatan bagi pengguna baru dan membuka berbagai skenario penggunaan. **Ketiga, Komunitas:** Komunitas pengguna yang kuat berfungsi sebagai jaringan pertumbuhan terdesentralisasi, memproduksi tutorial, studi kasus, dan konten lokal, memperkuat identitas merek dan mendorong adopsi global. Perjalanan Notion dimulai dari kegagalan awal karena kompleksitas, yang mengarah pada pendekatan modular seperti "blok bangunan". Ini memungkinkan "plastisitas" – kemampuan untuk menyesuaikan alat untuk berbagai kebutuhan seperti manajemen proyek, wiki, atau kalender konten. Strategi ini akhirnya membawa Notion dari pengguna individu ke pasar perusahaan melalui adopsi "bottom-up", di mana tim yang sudah menggunakan alat ini mendorong adopsi formal di tingkat organisasi. Di era AI, Notion mengintegrasikan kecerdasan buatan langsung ke dalam alur kerja yang ada, meningkatkan nilai template dan pengelolaan pengetahuan. Yang sulit ditiru oleh pesaing bukanlah fitur teknisnya, melainkan ekosistem yang telah dibangun: aset pengetahuan pengguna, jaringan kreator template, dan komunitas yang setia. Notion telah berubah dari sekadar alat perangkat lunak menjadi sistem ekosistem yang memperkuat dirinya sendiri, di mana pengguna juga adalah kontributor, memastikan pertumbuhan yang berkelanjutan.

marsbit10j yang lalu

Analisis Pertumbuhan Notion: Dari Alat Catatan hingga 100 Juta Pengguna, Bagaimana Notion Membangun Tiga Roda Gigi Pertumbuhan Produk, Template, dan Komunitas

marsbit10j yang lalu

Trading

Spot
Futures
活动图片