What is Zero-Knowledge Proofs?

mediumDipublikasikan tanggal 2022-08-01Terakhir diperbarui pada 2022-08-01

Abstrak

If you have been around crypto long enough, you should by now have seen the word ZK plenty of times. But what really is it? Let us demystify it for you today.

If you have been around crypto long enough, you should by now have seen the word ZK plenty of times. But what really is it? Let us demystify it for you today.

ZKP — Zero Knowledge Proof

The most common interpretation of ZK is Zero Knowledge Proof. It is a cryptography concept where the Prover needs to convince the Verifier that he knows the answer to a question without revealing the actual answer.

Hmmm…. How is that possible?

Let us give you an ELI5 example.

Where is Wally?

Verifier is stuck in the following “Where is Wally” puzzle and seeks the Prover for help.

Source: https://www.independent.co.uk/arts-entertainment/books/news/where-s-the-brains-behind-wally-6261459.html

The Prover was able to find Wally but asked the Verifier for an incentive before revealing the answer. The Verifier does not want to give away the incentive now since he is not sure if the Prover is lying or not. So, the Prover decides to use a ZKP technique to show the Verifier he knows the answer without pointing out where Wally is to the Verifier.

The Prover asks the Verifier to turn around. He then takes a large piece of black cardboard with a small hole in the middle, which only shows Wally. Then he asks the Verifier to turn back.

From this, Verifier did not get Wally’s actual location, yet is now convinced the Prover has found Wally. Note, that the black cardboard must be so big that not even the approximate location of Wally can be estimated. Interesting technique, right?

If that wasn’t enough, let us give you another ELI13 example.

Sudoku

Imagine the Verifier has the following Sudoku and is unable to complete it:

But the Prover was able to work out the answer but does not want to share the exact solution with the Verifier (before he is paid at least):

Again, the Prover thought of a clever ZKP method to demonstrate to the Verifier he knows the answer without revealing the actual answer.

The Prover sets up the following automated function:

Step 1: The function comes up with a random mapping table, e.g.

1 -> 3

2 -> 4

3 -> 1

4 -> 2

Step 2: The function replaces the Prover’s Sudoku answer with the newly mapped number, e.g:

Step 3: The Verifier will ask to be shown a random row or column, e.g. row 2, then 4, 3, 1, 2 will be shown to the Verifier.

The Verifier sees the select subset meets the rule of Sudoku, hence it is likely the Prover did have the answer. He can request to repeat this randomized process enough times so he is fully convinced the Prover wasn’t bluffing him.

It is important during every repeat that a random new mapping table is used, so the Verifier cannot gain the full solution by requesting rows 1, 2, 3, and 4 and do the reverse mapping himself. Also, the process needs to be automated (just like how Smart Contracts are), so the Verifier can trust the process.

From these examples, we can see ZKP requires an intermediate process to mask the exact solution, which may not give 100% confidence to the Verifier immediately, but the probability can be increased as the process repeats.

Also, ZKP does not have a single solution for all cases; hence design and implementation of the proof in real life can be challenging.

As zero-knowledge is a deep topic, in the next blog we will dive into ZK’s usage in Ethereum. For example, scaling solutions utilize ZK to use only the most recent snapshots to produce new blocks on Layer 1 without having to store the whole history of the blockchain.

Bacaan Terkait

Nvidia CPU Berdatangan, RISC-V China Menyambut Tantangan: Pengamatan Mendalam Industri Semikonduktor Bagian Empat

NVIDIA akan meluncurkan CPU Vera berbasis Arm ke pasar Tiongkok pada Agustus, dengan harga per unit melebihi US$20.000. Langkah ini memicu pertanyaan kritis di Tiongkok: apakah ketergantungan pada arsitektur x86 dan Arm dalam infrastruktur AI harus terus berlanjut? RISC-V muncul sebagai jawaban potensial. Artikel ini membahas perjalanan RISC-V Tiongkok dari segmen embedded ke komputasi kinerja tinggi (HPC) dan AI. Dijelaskan "segitiga mustahil" industri CPU—kemakmuran, kendali, dan kemandirian—di mana RISC-V dipandang sebagai satu-satunya jalur yang dapat mencapai ketiganya secara bersamaan berkat sifatnya yang terbuka, modular, dan standar internasional. Dorongan utama di Tiongkok berasal dari kombinasi permintaan AI yang meledak, pembatasan ekspor chip yang memperketat pasokan, potensi pengurangan biaya struktural melalui open-source, serta dukungan kebijakan pemerintah. Beberapa tim Tiongkok telah berhasil mencapai atau melampaui tolok ukur performa kunci, seperti skor SPECint 15 per GHz, dan mengembangkan subsistem komputasi lengkap termasuk jaringan on-chip (NoC) yang koheren. Namun, tantangan besar tetap ada. Fragmentasi ekosistem akibat instruksi kustom, kesenjangan dalam rantai alat EDA dan verifikasi, serta kebutuhan untuk mengejar efisiensi dan kinerja inti tunggal adalah beberapa rintangan nyata. Meski produk server RISC-V yang patuh pada standar RVA23 telah ada, jalan menuju paritas penuh dengan x86 dan Arm di data center masih panjang. Kesimpulannya, RISC-V menawarkan jalur mandiri bagi Tiongkok dalam komputasi kinerja tinggi. Meski belum dapat menggantikan solusi seperti NVIDIA Vera dalam waktu dekat, fokusnya adalah membangun fondasi untuk kemandirian jangka panjang, memastikan Tiongkok tidak lagi sepenuhnya bergantung pada arsitektur pihak asing di masa depan.

marsbit1j yang lalu

Nvidia CPU Berdatangan, RISC-V China Menyambut Tantangan: Pengamatan Mendalam Industri Semikonduktor Bagian Empat

marsbit1j yang lalu

Panel Taruhan Coding Meraup Untung, Tapi Polymarket Bukan Tempat 'Arbitrase' yang Baik

Artikel ini membahas pengalaman penulis menggunakan panel taruhan buatannya sendiri di Polymarket, platform prediksi berbasis blockchain. Meski panel tersebut membantu menghasilkan keuntungan sekitar 30% dari modal $1600 dalam beberapa minggu, penulis menekankan bahwa Polymarket bukanlah tempat yang ideal untuk mencari peluang arbitrase yang mudah dan aman. Penulis menjelaskan panelnya yang terdiri dari dua bagian utama: "Dasbor Portofolio" untuk memantau posisi terbuka dengan fitur manajemen risiko, dan "Pemantauan Peluang" sebagai watchlist. Panel ini dirancang untuk mengubah keputusan taruhan yang subjektif menjadi kerangka kerja yang lebih terstruktur dan terkendali. Poin kunci dari artikel ini adalah analisis tentang jebakan ekspektasi matematis di Polymarket. Di sini, meskipun suatu taruhan tampak memiliki ekspektasi positif, risiko kehilangan seluruh modal (100%) dalam satu perdagangan tetap ada. Oleh karena itu, penulis menerapkan prinsip diversifikasi dan manajemen posisi ketat dengan membagi taruhan menjadi tiga tingkatan (T1, T2, T3) berdasarkan keyakinan dan waktu penyelesaian, serta membatasi eksposur per taruhan dan per tema. Kesimpulan penulis adalah bahwa peluang di Polymarket lebih bergantung pada perbedaan informasi dan diversifikasi portofolio yang cermat, bukan pada arbitrase bebas risiko. Setiap taruhan memiliki risiko tinggi berupa kehilangan seluruh modal. Platform ini lebih cocok digunakan sebagai alat pelatihan untuk menguji ketajaman analisis terhadap peristiwa dunia, dengan disiplin manajemen risiko yang ketat untuk menghindari kerugian besar.

marsbit4j yang lalu

Panel Taruhan Coding Meraup Untung, Tapi Polymarket Bukan Tempat 'Arbitrase' yang Baik

marsbit4j yang lalu

Analisis Pertumbuhan Notion: Dari Alat Catatan hingga 100 Juta Pengguna, Bagaimana Notion Membangun Tiga Roda Gigi Pertumbuhan Produk, Template, dan Komunitas

Notion telah berkembang dari alat catatan sederhana menjadi platform kolaborasi global dengan lebih dari 100 juta pengguna. Kesuksesannya didorong oleh tiga roda pertumbuhan yang saling terkait. **Pertama, Product-Led Growth (PLG):** Produk yang mudah digunakan dan gratis memungkinkan pengguna merasakan nilainya dengan cepat, sementara fitur berbagi dan kolaborasi menciptakan penyebaran alami. **Kedua, Ekonomi Template:** Template yang dibuat oleh pengguna dan kreator mengubah kemampuan abstrak Notion menjadi solusi praktis, mengurangi hambatan bagi pengguna baru dan membuka berbagai skenario penggunaan. **Ketiga, Komunitas:** Komunitas pengguna yang kuat berfungsi sebagai jaringan pertumbuhan terdesentralisasi, memproduksi tutorial, studi kasus, dan konten lokal, memperkuat identitas merek dan mendorong adopsi global. Perjalanan Notion dimulai dari kegagalan awal karena kompleksitas, yang mengarah pada pendekatan modular seperti "blok bangunan". Ini memungkinkan "plastisitas" – kemampuan untuk menyesuaikan alat untuk berbagai kebutuhan seperti manajemen proyek, wiki, atau kalender konten. Strategi ini akhirnya membawa Notion dari pengguna individu ke pasar perusahaan melalui adopsi "bottom-up", di mana tim yang sudah menggunakan alat ini mendorong adopsi formal di tingkat organisasi. Di era AI, Notion mengintegrasikan kecerdasan buatan langsung ke dalam alur kerja yang ada, meningkatkan nilai template dan pengelolaan pengetahuan. Yang sulit ditiru oleh pesaing bukanlah fitur teknisnya, melainkan ekosistem yang telah dibangun: aset pengetahuan pengguna, jaringan kreator template, dan komunitas yang setia. Notion telah berubah dari sekadar alat perangkat lunak menjadi sistem ekosistem yang memperkuat dirinya sendiri, di mana pengguna juga adalah kontributor, memastikan pertumbuhan yang berkelanjutan.

marsbit7j yang lalu

Analisis Pertumbuhan Notion: Dari Alat Catatan hingga 100 Juta Pengguna, Bagaimana Notion Membangun Tiga Roda Gigi Pertumbuhan Produk, Template, dan Komunitas

marsbit7j yang lalu

Trading

Spot
Futures
活动图片