Klarna to launch USD-backed stablecoin: Critics question adoption and fintech motives

ambcryptoDipublikasikan tanggal 2025-11-25Terakhir diperbarui pada 2025-11-25

Key Takeaways

Why is Klarna launching a USD stablecoin instead of a euro-based one?

Klarna is following market reality, which shows that USD-denominated stablecoins dominate, with over $200 billion in circulation.

What are the main concerns about Klarna’s stablecoin adoption?

Critics question whether BNPL users actually want a Klarna-branded token for everyday payments, with skeptics arguing the move prioritizes yield generation.


Klarna is preparing to launch a U.S. dollar-backed stablecoin, Klarna USD, marking one of the most aggressive moves yet by a major European fintech into digital money. 

Klarna announced on 25 November that the stablecoin will be launched on Tempo, the payments blockchain by Stripe and Paradigm

The Swedish company, best known for its buy-now-pay-later [BNPL] service and 150+ million global users, plans to integrate the token directly into its payments ecosystem as competition intensifies across the digital-payments sector.

The stablecoin will be fully backed by U.S. dollar reserves and redeemable at par, according to reports. 

Klarna has not yet revealed a release date or specific regulatory framework, but the decision positions the company against not just crypto-native issuers like Tether and Circle, but also payments giants such as PayPal, which launched its own PYUSD stablecoin in 2023.

Klarna’s choice of USD raises deeper questions

The announcement underscores a growing shift: Europe’s largest fintechs increasingly rely on U.S.-denominated digital assets, even as euro-stablecoins remain marginal. 

The move comes just weeks after the European Central Bank warned that euro-based stablecoins amount to just €395 million in circulation, compared to the $200+ billion in USD-denominated tokens.

Klarna issuing a dollar, not euro, will likely fuel debate about Europe’s competitiveness in digital finance and whether MiCA’s strict rules are inadvertently pushing innovation offshore. 

The EU’s Markets in Crypto-Assets regulation, which took full effect in December 2024, imposes stringent reserve requirements and transparency standards that some critics argue favor established dollar-based players.

The timing also intersects with Klarna’s reported IPO preparations. The Swedish fintech has been positioning itself for a public listing, and a stablecoin launch could serve as both a revenue diversification play and a signal to investors that Klarna is evolving beyond traditional BNPL.

Competitive landscape: Fintech’s stablecoin arms race

Klarna isn’t alone among European fintechs eyeing stablecoins. 

Revolut has explored similar initiatives, while traditional payments players like Stripe have acquired stablecoin infrastructure companies. 

PayPal’s PYUSD, launched in August 2023, has achieved modest adoption but faces ongoing questions about merchant acceptance and consumer demand.

Contrarian voices

While early commentary framed the move as a major breakthrough, several crypto analysts and fintech watchers urged caution.

A user on X wrote:

“A stablecoin only works if people actually adopt it—Klarna still has to prove users want a BNPL-branded token for everyday payments.”

Another commentator questioned the broader implications for crypto builders:

“We were supposed to build blockchains for enterprises—now enterprises are building for each other. Are retail and token traders being sidelined?”

A more sarcastic take mocked the merger of BNPL and crypto culture:

“Nice, now people who lost everything on leverage can take out loans for their burritos in a crypto-friendly way.”

Others argued the move is less about innovation and more about yield. A user noted:

“Yield on deposits, not innovation. This is just treasury management with blockchain branding.”

The bottom line

Whether shoppers, merchants, and regulators embrace a Klarna-issued digital dollar will determine whether this becomes a landmark moment—or another fintech experiment in search of real-world demand. 

The company has distribution advantages through its existing user base and merchant network, but converting BNPL customers into stablecoin users requires more than just technical infrastructure.

As one skeptical observer put it: “Klarna has 150 million users who signed up for installment payments, not crypto. Convincing them to hold a stablecoin is a different game entirely.”

Share

Bacaan Terkait

Lima Tahun Investasi Terhenti, Mengapa Ethereum Tiba-tiba Meninggalkan Poseidon?

Pada 13 Agustus, peneliti Ethereum Justin Drake mengumumkan keputusan Ethereum Foundation untuk meninggalkan algoritma hash ramah-SNARK, Poseidon, di lapisan L1 dan beralih ke fungsi hash tradisional seperti SHA2 atau BLAKE2. Keputusan ini menandai perubahan signifikan dalam peta jalan kriptografi pasca-kuantum setelah delapan tahun penelitian dan investasi puluhan juta dolar. Poseidon, yang diluncurkan pada 2019, sebelumnya dianggap ideal untuk aplikasi seperti zkRollup dan zkVM karena efisiensinya dalam sirkuit SNARK. Namun, ketika keamanan pasca-kuantum menjadi persyaratan mutlak, keterbatasan Poseidon mulai terlihat. Perkembangan terbaru dalam desain SNARK, khususnya penggunaan bidang biner (binary field), kini memungkinkan fungsi hash tradisional bekerja seefisien Poseidon dalam sistem bukti nol-pengetahuan, dengan verifikasi mencapai sekitar 1 juta panggilan hash per detik di laptop. Alasan utama pergantian ini adalah percepatan ancaman kuantum. Laporan "The Quantum Threat to Blockchains - 2026" memperingatkan bahwa komputer kuantum dapat membahayakan aset blockchain triliunan dolar pada awal 2030-an. Selain itu, kemajuan AI dalam analisis kriptografi telah melemahkan beberapa skema pasca-kuantum berbasis kisi (lattice) dan isogeni, mendorong Ethereum bertaruh pada skema berbasis hash yang dianggap lebih tahan. Ethereum merencanakan peluncuran leanVM produksi pada 2027, diikuti penyebaran di lapisan konsensus, data, dan eksekusi pada 2028. LeanVM adalah mesin virtual bukti nol-pengetahuan minimalis inti untuk agregasi tanda tangan pasca-kuantum. Sementara itu, blockchain lain seperti Solana telah memilih skema tanda tangan pasca-kuantum Falcon yang distandardisasi NIST, sedangkan Starknet berencana mengadopsi BLAKE2. Dengan beralih ke SHA2/BLAKE2, Ethereum memilih primitif kriptografi yang lebih matang dan teruji secara luas untuk era pasca-kuantum, mengutamakan keamanan jangka panjang daripada efisiensi khusus SNARK.

marsbit41m yang lalu

Lima Tahun Investasi Terhenti, Mengapa Ethereum Tiba-tiba Meninggalkan Poseidon?

marsbit41m yang lalu

Programmer di Seluruh Dunia Memberikan Uang Gratis ke Anthropic! Akhirnya Resmi Turun Tangan

Anthropic merilis blog resmi berisi enam tips untuk menghemat biaya token saat menggunakan Claude Code. Intinya, mereka menyarankan: 1) Bersihkan percakapan (/clear) setelah satu tugas selesai; 2) Tentukan model dan tingkat usaha (/effort) di awal, karena mengubahnya akan menghapus cache dan membuat sejarah percakapan dihitung ulang dengan harga penuh; 3) Gunakan @ untuk menyertakan file langsung, ketimbang mengetikkan path; 4) Tambahkan parameter "quiet" pada perintah yang output-nya panjang agar tidak memenuhi konteks; 5) Lakukan kompresi (/compact) saat cache masih hangat (sebelum istirahat) agar biayanya hanya 10%; 6) Gunakan subagent untuk tugas dengan output besar agar prosesnya terisolasi. Biaya token dipengaruhi oleh model (Opus, Sonnet, Haiku) dan jumlah token. Output token 5x lebih mahal daripada input token karena proses dekodenya yang serial. Kunci penghematan terbesar adalah **prompt caching**: jika prefix permintaan sama dengan sebelumnya, biaya baca cache hanya 0.1x harga normal. Namun, cache bisa gagal jika ada perubahan model, tingkat usaha, mode cepat, kompresi, waktu kedaluwarsa, atau membuka sesi lama. Sejarah percakapan juga bisa membengkak (O(n²)) karena file dan output perintah yang dibaca/dijalankan Claude terus menumpuk. Tips lain: gunakan /rewind untuk membatalkan percakapan yang melenceng tanpa menghapus cache sebelumnya. Mengelola token dengan cerdas kini menjadi keterampilan penting bagi developer di era AI untuk bekerja lebih efisien dengan anggaran yang sama.

marsbit2j yang lalu

Programmer di Seluruh Dunia Memberikan Uang Gratis ke Anthropic! Akhirnya Resmi Turun Tangan

marsbit2j yang lalu

Robert Kiyosaki Menceritakan Ramalan Mentornya tentang Kemunculan Bitcoin dan AI

Pengusaha dan penulis "Rich Dad Poor Dad" Robert Kiyosaki membagikan pengaruh mentor Richard Buckminster Fuller terhadap pandangan dunianya. Kiyosaki menghubungkan prediksi teknologi Fuller puluhan tahun lalu dengan kemunculan Bitcoin dan perkembangan kecerdasan buatan (AI). Ia mengutip Fuller yang disebutnya meramalkan perubahan besar seperti Bitcoin dan bangkitnya AI. Dalam tulisannya, Kiyosaki lebih menekankan ajaran Fuller tentang tujuan hidup. Ia mengutip perkataan Fuller bahwa manusia "milik alam semesta" dan menemukan tujuan sejati dengan "mendedikasikan hidup untuk memberi manfaat sebesar-besarnya bagi orang lain." Kiyosaki mengaku butuh waktu untuk memahami pesan ini, yang akhirnya mendorongnya beralih dari karier di bisnis musik (bekerja untuk band seperti The Police dan Iron Maiden) menciptakan permainan finansial Cashflow dan menulis buku larisnya. Kiyosaki juga mengulangi keyakinannya pada aset kripto. Ia dikenal sebagai pendukung Bitcoin dan Ethereum, yang dilihatnya sebagai pelindung kekayaan dari masalah sistem keuangan tradisional. Dia mengaku membeli Bitcoin saat investor lain panik. Prediksinya termasuk potensi keruntuhan pasar besar pada 2026, yang bisa menjadi peluang bagi investor yang siap dengan aset seperti Bitcoin, Ethereum, emas, dan perak. Dia pernah memprediksi Bitcoin bisa mencapai $750.000 dan Ethereum $95.000 di masa depan.

cryptonews.ru6j yang lalu

Robert Kiyosaki Menceritakan Ramalan Mentornya tentang Kemunculan Bitcoin dan AI

cryptonews.ru6j yang lalu

Trading

Spot
活动图片