Latest Wave of ETF Filings Target Crypto Yield With Leverage and Staking

ccn.comDipublikasikan tanggal 2025-10-17Terakhir diperbarui pada 2025-10-17

Key Takeaways

  • Asset managers are looking to expand beyond vanilla crypto ETFs.
  • The latest proposals incorporate advanced strategies based on staking and leverage.
  • Ark Invest has also proposed Bitcoin ETFs with downside protections.

The first exchange-traded funds (ETFs) with crypto exposure relied on futures contracts. Then, in 2024, stock exchanges welcomed spot ETFs.

In the next wave of financial innovation, fund managers want to ramp up earning potential with staking and leverage.

Top Crypto Tax Accounting Software
Sponsored
Disclosure
We sometimes use affiliate links in our content, when clicking on those we might receive a commission at no extra cost to you. By using this website you agree to our terms and conditions and privacy policy.

Chasing Staked Crypto Exposure

Ever since the launch of the first spot Ether ETFs last year, the prospect that funds could stake assets to grow their holdings has been tantalizing.

Asset managers like Ark Invest, Fidelity, and 21Shares did initially propose the concept in early 2024, but staking proved to be a regulatory hurdle, and it was absent when the first Ethereum ETFs launched later that year.

This summer, ETF providers, including BlackRock, filed to amend their respective ETH funds to incorporate staking.

Many of the altcoin ETF applications currently awaiting approval also include language on staking.

But so far, none of these have received the regulatory greenlight.

Regulatory Issues

The problem ETF hopefuls face is that staking rewards complicate the view of cryptocurrencies as commodities currently sanctioned by the SEC.

Compared to holding static assets, staking delivers active returns, which could be perceived as an investment contract under the Howey Test.

However, VanEck’s latest ETF application could potentially get around this.

On Oct. 16, the fund manager filed an S-1 registration with the SEC for an ETF holding Lido Staked Ethereum (stETH).

With Lido, regards are baked into the stETH–ETH exchange rate. This means ETFs wouldn’t have to operate their own validators or rely on a third-party staking service.

Bringing Leverage to Crypto ETFs

Beyond staking, ETF issuers are exploring other opportunities outside of vanilla investment strategies.

On Oct. 16, 21Shares filed to list a HYPE fund with 2x long leverage.

Volatility Shares is also expanding into leveraged crypto ETFs, filing a series of applications for funds that would invest in BTC, ETH, SOL, and XRP margin contracts.

Leveraged crypto ETFs are intended to deliver higher returns to investors.

Contracts would settle on a daily basis. Because the proposed funds are heavily invested in the respective assets, if the market rises, investors will amplify their returns; however, if it falls, their losses will multiply.

Another approach to maximizing returns is seen in Ark Invest’s proposal for a “Bitcoin Yield” ETF. The fund would invest in BTC options and premiums, with Ark strategists employed to predict the market.

Ark has also filed for two “DIET” Bitcoin ETFs that would offer downside protection with earning potential based on BTC’s quarterly price movements.

Bacaan Terkait

Pandangan: Investasi Nilai di Pasar Saham AS, Bukan Berarti Investasi Fundamental

**Ringkasan: Investasi Nilai Saham AS Bukan Berarti Investasi Fundamental** Artikel ini menawarkan perspektif bahwa investasi berbasis nilai di pasar saham AS sering disalahartikan sekadar sebagai investasi fundamental. Penulis menggunakan analogi penemuan astronomi Henrietta Leavitt tentang "lilin standar" untuk membedakan antara kecerahan bintang yang tampak (analog dengan kelipatan valuasi saham) dan kecerahan sebenarnya (fundamental perusahaan). Poin kunci: * **Memisahkan Tampilan dan Realitas:** Kinerja saham jangka panjang bergantung pada pertumbuhan fundamental dan perubahan kelipatan valuasi (seperti P/E). Kelipatan valuasi menggabungkan dua hal: kualitas bisnis sesungguhnya dan premi yang bersedia dibayar pasar untuk masa depan. Banyak investor menderita kerugian karena gagal membedakan keduanya. * **"Fundamental Sudah Mati" adalah Narasi yang Berisiko:** Meski tren terkini (seperti dominasi "Magnificent 7") seolah mendukung pendapat bahwa momentum lebih penting daripada fundamental, artikel memperingatkan bahwa ini adalah narasi berbahaya. Alpha (keuntungan berlebih) justru berasal dari saat pasar salah menilai fundamental suatu aset. * **Matriks Persepsi:** Penulis memperkenalkan matriks empat kuadran untuk mengklasifikasikan saham berdasarkan bagaimana mereka *tampak* (mahal/murah) dan *hasilnya* (ternyata mahal/murah). Contoh seperti Meta (2022) yang tampak murah dan terbukti sangat murah (kuadran 3) atau Cisco (2000) yang tampak mahal dan terbukti memang mahal (kuadran 2) menunjukkan pentingnya menilai ekspektasi yang sudah terbentuk dalam harga. * **Pasar Mungkin Semakin Tidak Efisien:** Dunia dengan bisnis yang kompleks, narasi yang kuat, dan aliran informasi yang masif justru dapat memperlebar kesenjangan antara persepsi pasar dan realitas fundamental, menciptakan lebih banyak peluang (dan jebakan) bagi investor yang dapat membedakannya. * **Peringatan untuk Era AI:** Optimisme berlebihan terhadap teknologi baru (seperti AI) sering menyebabkan investor membayar premi terlalu tinggi untuk pertumbuhan masa depan yang belum pasti, berisiko memasuki kuadran saham "tampak mahal dan terbukti mahal". Kesimpulannya, investasi nilai yang sukses membutuhkan kemampuan untuk mengurai kelipatan valuasi, mengevaluasi fundamental di balik narasi pasar, dan bersikap kontraian ketika konsensus ekstrem terbentuk, seperti keyakinan bahwa "fundamental tidak penting lagi".

marsbit11m yang lalu

Pandangan: Investasi Nilai di Pasar Saham AS, Bukan Berarti Investasi Fundamental

marsbit11m yang lalu

Ramalan Harga Chainlink untuk Tahun 2026-2032: Apakah Sentimen Mendukung Pembelian LINK?

**Ringkasan Analisis Harga Chainlink (LINK) untuk 2026-2032** Chainlink (LINK), penyedia jaringan oracle terdesentralisasi utama, terus memperluas integrasi dan penggunaannya di ekosistem blockchain, didorong oleh adopsi DeFi dan lembaga keuangan tradisional. Harga saat ini sekitar $10.68, dengan kapitalisasi pasar $7.98 miliar. Analisis teknis menunjukkan tren bullish kuat, dengan harga di atas rata-rata bergerak utama dan MACD harian mendukung momentum naik. Namun, RSI 4-jam sekitar 80 menandakan kondisi jenuh beli, meningkatkan potensi konsolidasi atau koreksi jangka pendek. Level kunci untuk diperhatikan adalah resistance di $10.88-$11.00 dan support di $10.40-$10.20. **Prediksi Harga Chainlink:** * **2026:** Harga rata-rata diprediksi $11.38, dengan kisaran $7.00 - $17.00. * **2027-2032:** Prediksi menunjukkan tren naik bertahap. Harga rata-rata diperkirakan mencapai $13.02 (2027), $19.11 (2029), $24.57 (2030), $30.01 (2031), dan $35.45 (2032). * **Puncak 2032:** Harga maksimum diproyeksikan mendekati **$52.95**, mendekati rekor sejarahnya di $52.88. Analis dari CoinCodex dan DigitalCoinPrice memberikan prediksi yang bervariasi untuk 2026-2027. Artikel menyoroti berita positif seperti adopsi Chainlink CCIP oleh Komisi Stablecoin Wyoming untuk token FRNT mereka. Secara keseluruhan, meskipun ada sinyal teknis jenuh beli jangka pendek, fundamental Chainlink yang kuat dan perannya penting dalam ekosistem blockchain mendukung prospek jangka panjang yang optimis. Investor disarankan untuk memantau level support/resistance dan mengelola risiko dengan hati-hati.

cryptonews.ru24m yang lalu

Ramalan Harga Chainlink untuk Tahun 2026-2032: Apakah Sentimen Mendukung Pembelian LINK?

cryptonews.ru24m yang lalu

Perwakilan CME Duffy Berkonflik dengan CFTC dan Kalshi Terkait Pasar Prediksi

Konflik antara perwakilan CME Group Terrence Duffy dengan CFTC dan perusahaan pasar prediksi Kalshi memanas dalam rapat Komisi Perdagangan Berjangka Komoditas (CFTC). Isu utamanya adalah regulasi pasar prediksi (prediction markets) yang volumenya melonjak dari $16,5 miliar (2024) menjadi $63,5 miliar (2025). Duffy mengkritik kontrak acara yang disertifikasi mandiri oleh bursa, menyebutnya rentan manipulasi dan merugikan industri. Ia juga mengaitkannya dengan visi AS sebagai "ibukota kripto dunia". Ketua CFTC Michael Selig membantah contoh yang diberikan Duffy, menyebutnya "berita palsu". Pertikaian ini mencerminkan perebutan yurisdiksi: CFTC mengklaim otoritas federal atas kontrak derivatif ini, sementara banyak negara bagian menganggapnya sebagai perjudian yang diatur hukum negara bagian. Skandal insider trading baru-baru ini, termasuk yang melibatkan seorang tentara AS dan seorang operator teleprompter Donald Trump, semakin memperuncing ketegangan. Pertengkaran verbal terjadi antara Duffy dan COO Kalshi, Luana Lopez Lara, mengenai efisiensi dan integritas pasar. Konflik ini telah masuk pengadilan, dengan CME menggugat CFTC terkait persetujuan produk Kalshi. Hasil persengketaan ini akan berdampak besar tidak hanya bagi pasar prediksi, tetapi juga bagi derivatif kripto terbaru yang kini ditawarkan Kalshi. Intinya, ada tiga kekuatan yang tumpang tindih: regulator federal (CFTC), otoritas negara bagian, dan keputusan pengadilan federal yang akan menentukan batas yurisdiksi masing-masing.

cryptonews.ru25m yang lalu

Perwakilan CME Duffy Berkonflik dengan CFTC dan Kalshi Terkait Pasar Prediksi

cryptonews.ru25m yang lalu

Trading

Spot
活动图片