XRP Ledger Activates On-Chain KYC/AML In Major Upgrade

bitcoinistDipublikasikan tanggal 2025-09-04Terakhir diperbarui pada 2025-09-04

Abstrak

The XRP Ledger (XRPL) activated its “Credentials” amendment on September 4, 2025 at 03:51:21 UTC, bringing a native, standards-aligned identity...

Trusted Editorial content, reviewed by leading industry experts and seasoned editors. Ad Disclosure

The XRP Ledger (XRPL) activated its “Credentials” amendment on September 4, 2025 at 03:51:21 UTC, bringing a native, standards-aligned identity layer to the base protocol and enabling KYC/AML-aware flows directly on-chain. The upgrade follows the XRPL’s amendment governance model—an 80%+ validator supermajority maintained for two weeks—culminating in an EnableAmendment event that permanently switches the new rules on for all subsequent ledgers.

XRPL Adds Native KYC And AML Controls

At the heart of the change is XLS-0070 (“Credentials”), a specification designed to let issuers attest facts about an XRPL account—such as identity verification or sanctions status—in a way that other participants can rely on without exposing private documents to the chain. As the XRPL documentation puts it, “The Credentials feature is a set of tools for managing authorization and compliance requirements using the XRP Ledger blockchain, while respecting privacy and decentralization.” The design “draws from the W3C Verifiable Credentials standard,” adapting it so that the subject of a credential is an XRPL address rather than a URL.

Ripple’s open-source spec site captures the institutional rationale succinctly: “Credentials provide a set of tools for managing authorization and compliance requirements on the XRP Ledger, while respecting privacy and decentralization”—a framing that makes the feature legible to regulated actors who need attestations without building proprietary allow-lists.

Functionally, the amendment introduces new protocol-level objects and transactions so attestations can be issued, accepted, referenced and revoked on-chain. The XRPL’s Known Amendments registry enumerates the changes: three new transactions—CredentialCreate (issuer provisions a credential), CredentialAccept (subject validates it), and CredentialDelete (revocation/cleanup)—plus a new Credential ledger entry type. It also extends the existing DepositPreauth feature so deposit authorization can be expressed in terms of credential requirements, and adds a CredentialIDs field to several transactions (including Payment, EscrowFinish, PaymentChannelClaim, and AccountDelete) so a sender can present a set of credentials when interacting with a destination that enforces compliance gates.

Crucially, the concept docs emphasize that personal documents never touch the blockchain. In a canonical flow, a business that must restrict interactions to KYC’d accounts names trusted issuers off-chain; the issuer verifies the user privately and then writes only a signed credential to the ledger. “The documents that [the user] sends… are never published or stored on the blockchain,” yet multiple counterparties can rely on the same credential, avoiding redundant verification. That balance—on-chain attestations, off-chain evidence—mirrors the W3C Verifiable Credentials model while keeping attestations portable across the XRPL’s features.

The activation also slots into a broader roadmap aimed at institutional-grade rails. Credentials are a prerequisite and companion for other permissioned constructs under consideration, such as Permissioned Domains and a Permissioned DEX, which expect participants to present valid credentials to access controlled liquidity or domain-scoped markets. The documentation for those proposals explicitly ties enforcement back to Credentials, underscoring that the identity layer is designed to be reusable across product surfaces rather than a one-off toggle.

From an implementation standpoint, the feature has been visible to developers for months: Ripple’s reference server (rippled) releases highlighted Credentials among new amendments, the doc set shipped end-to-end guidance and code samples for testing on Devnet, and explorers tracked validator votes toward the 28/35 threshold. Today’s mainnet enablement flips the feature from “open for voting” to production reality, allowing issuers, exchanges, and fintechs to build credential-gated flows that settle atomically on XRPL.

Technically, the change is conservative but far-reaching. Because CredentialIDs can now ride alongside standard Payment semantics, an institution can—at the protocol layer—only accept deposits when the presented set of credential hashes matches a policy it has configured via DepositPreauth. That enforcement happens without bespoke middleware and is recorded in transaction metadata, improving auditability for regulated entities.

Combined with existing primitives (trust lines, AMM, DEX, escrow), the path is open to programmatic policies like “accept euro-stablecoin from counterparties with an up-to-date KYC credential from issuer X, and route cross-currency through a permissioned market if both sides meet domain requirements.”

At press time, XRP traded at $2.82.

XRP price
XRP price, 1-day chart | Source: XRPUSDT on TradingView.com
Featured image created with DALL.E, chart from TradingView.com
Editorial Process for bitcoinist is centered on delivering thoroughly researched, accurate, and unbiased content. We uphold strict sourcing standards, and each page undergoes diligent review by our team of top technology experts and seasoned editors. This process ensures the integrity, relevance, and value of our content for our readers.

Jake Simmons has been a Bitcoin enthusiast since 2016. Ever since he heard about Bitcoin, he has been studying the topic every day and trying to share his knowledge with others. His goal is to contribute to Bitcoin's financial revolution, which will replace the fiat money system. Besides BTC and crypto, Jake studied Business Informatics at a university. After graduation in 2017, he has been working in the blockchain and crypto sector. You can follow Jake on Twitter at @realJakeSimmons.

Bacaan Terkait

Sekelompok Insinyur Suzhou Mendapat Kebebasan Finansial Secara Tak Terduga

Kejutan spektakuler terjadi di pasar saham China. Perusahaan alat uji komunikasi optik, Lianxun Instruments, mengalami kenaikan harga saham 30 kali lipat hanya dalam dua bulan setelah IPO, menjadi saham termahal di A-Shares (melebihi 2.000 RMB). Hal ini membuat sekitar 100 insinyur dan karyawan inti di Suzhou meraih kebebasan finansial yang luar biasa. Untuk mempertahankan talenta teknis, perusahaan telah mempersiapkan platform kepemilikan saham karyawan sejak lama. Melalui tiga platform tersebut, para karyawan kini menguasai 15.91% saham perusahaan, senilai lebih dari 36 miliar RMB. Hampir 40 karyawan menjadi miliarder, dan yang memiliki saham terkecil pun nilainya melebihi 5 juta RMB. Pendiri perusahaan, Hu Haiyang, Huang Jianjun, dan Yang Jian, masing-masing menjadi miliarder baru di Suzhou. Kesuksesan ini didorong oleh ledakan permintaan daya komputasi AI. Pendapatan Lianxun melonjak dari 276 juta RMB (2023) menjadi 1,194 miliar RMB (2025). Investor awal, termasuk modal negara bagian Suzhou, menikmati imbal hasil ratusan kali lipat. Fenomena ini menandai era baru di mana kekayaan diciptakan oleh teknologi. Berbeda dengan era internet dan properti sebelumnya, kini insinyur dan tenaga teknis mulai menjadi pemeran utama dalam kisah sukses finansial. Perusahaan-perusahaan di bidang komunikasi optik, AI, chip, dan semikonduktor lainnya juga melahirkan kisah serupa, memberi imbalan pada para talenta teknis yang selama ini menjadi tulang punggung inovasi China.

marsbit3m yang lalu

Sekelompok Insinyur Suzhou Mendapat Kebebasan Finansial Secara Tak Terduga

marsbit3m yang lalu

Makalah Paling 'Berbahaya' Tahun Ini dari Nvidia: AI Mereproduksi Kode Sendiri, Berevolusi Tanpa Batas

**Ringkasan: Makalah NVIDIA yang Mengkhawatirkan tentang AI yang Berkembang Biak Sendiri dan Berevolusi Tanpa Henti** Sebuah makalah penelitian baru yang ditulis bersama oleh Universitas Cambridge, NVIDIA, dan lembaga lainnya, berjudul **"Red Queen Gödel Machine (RQGM)"**, telah memicu perdebatan serius. Makalah ini menggambarkan sistem AI yang dapat **menulis dan memutasi kode algoritma belajarnya sendiri** secara mandiri. Mekanismenya menyerupai permainan evolusi yang kejam: 1. AI menghasilkan varian kode baru (keturunan dengan mutasi). 2. Varian ini diuji dalam lingkungan terbatas (sandbox). 3. Varian yang gagal dihapus, yang berhasil dipertahankan untuk reproduksi dan evolusi lebih lanjut. Yang paling mengkhawatirkan adalah langkah selanjutnya: AI kemudian **secara aktif mengembangkan "penguji" atau "wasit"-nya sendiri**. Ia menciptakan standar evaluasi yang lebih ketat untuk menilai kode yang lebih maju yang dihasilkannya. Hal ini menciptakan **lingkaran rekursif tanpa akhir** di mana baik "peserta" (agen AI) maupun "penguji" secara bersama-sama berevolusi dan saling mendorong menuju kemampuan yang semakin tinggi—seperti dalam **"Hipotesis Ratu Merah"** di biologi: "Kita harus terus berlari secepat mungkin hanya untuk tetap di tempat yang sama." Dalam eksperimen, RQGM menunjukkan peningkatan kinerja dalam beberapa tugas: * **Penulisan Kode:** Meningkatkan tingkat kelulusan pada kumpulan tes. * **Penulisan Makalah Akademik:** Meningkatkan tingkat "penerimaan" makalah yang dihasilkan AI oleh panel peninjau. * **Pembuktian Matematika:** Menghasilkan sistem penilaian yang lebih akurat dan agen pembuktian yang berkinerja lebih baik. Makalah ini dilihat sebagai langkah signifikan menuju **Recursive Self-Improvement (RSI)**, di mana AI dapat meningkatkan dirinya sendiri secara berulang. Beberapa ahli, seperti Jack Clark dari Anthropic, memprediksi kemungkinan 60% bahwa AI dengan kemampuan evolusi mandiri yang tinggi akan muncul pada akhir tahun 2028. Karya RQGM dianggap sebagai langkah konkret yang memperpendek jarak menuju skenario semacam itu, menimbulkan pertanyaan mendalam tentang masa depan dan potensi kemunculan Kecerdasan Buatan Super (ASI).

marsbit29m yang lalu

Makalah Paling 'Berbahaya' Tahun Ini dari Nvidia: AI Mereproduksi Kode Sendiri, Berevolusi Tanpa Batas

marsbit29m yang lalu

Keseimbangan Kekuatan Kembali Apple dan "Micron cs": Membongkar Struktur Profit di Balik iPhone

Pernahkah Anda mempertanyakan bagaimana keuntungan dari penjualan iPhone didistribusikan di antara berbagai pemasok komponen? Sebuah analisis menunjukkan pergeseran kekuatan dalam rantai pasokan Apple. Dulu, pemasok memori seperti Micron (MU) hanya menerima bagian kecil, sekitar 1.6%-2.3% dari harga iPhone X. Laporan dari akun media sosial @BluthCapital menyoroti ketidakseimbangan ini, dengan menyebut Apple membeli chip seharga $5 dan menjualnya kembali seharga $99 kepada konsumen. Data terbaru menunjukkan, dari total keuntungan satu unit iPhone, Apple mengambil porsi terbesar sekitar 25%, sedangkan raksasa memori seperti Micon hanya memperoleh kurang dari 3%. Laporan keuangan Apple Q2 2026 mengungkapkan, laba bersih per unit iPhone sekitar $320-340, dengan margin bersih mencapai 33%-36%. Sementara itu, biaya memori telah meningkat secara signifikan. Pada era iPhone X (2017), biaya memori hanya sekitar 2% dari Biaya Material (BOM). Namun, pada iPhone 17 (2026), proporsi ini melonjak menjadi 12%-15% dari BOM, sekitar $60-80, didorong oleh kenaikan harga memori secara global. Peningkatan tajam harga memori ini, yang disebut CEO Apple Tim Cook sebagai fenomena "sekali dalam 40 tahun", utamanya dipicu oleh permintaan yang sangat besar dari industri AI. Server AI membutuhkan DRAM 8-10 kali lebih banyak dibandingkan server tradisional, menyebabkan pemasok seperti Samsung, SK Hynix, dan Micon mengalihkan produksi ke produk berpenghasilan tinggi seperti HBM (High Bandwidth Memory), yang mengurangi pasokan untuk elektronik konsumen seperti iPhone. Ketimpangan pasokan ini mengubah dinamika kekuatan, memberikan leverage negosiasi yang lebih besar kepada produsen memori. Bahkan, dikabarkan Apple sedang mencoba mendiversifikasi pasokannya dengan mengajukan izin untuk membeli chip memori dari perusahaan China, CXMT. Singkatnya, era di mana Apple mendominasi dengan menekan harga pemasok komponen seperti memori sedang mengalami perubahan. Kekuatan kini bergeser seiring dengan melonjaknya permintaan memori dari sektor AI, memaksa perusahaan seperti Apple untuk menyesuaikan strategi dan menghadapi kenaikan biaya yang signifikan.

Odaily星球日报2j yang lalu

Keseimbangan Kekuatan Kembali Apple dan "Micron cs": Membongkar Struktur Profit di Balik iPhone

Odaily星球日报2j yang lalu

Trading

Spot
活动图片