Operation Chokepoint 3.0: Banks Are Quietly Tightening the Noose on Crypto

ccn.comDipublikasikan tanggal 2025-08-07Terakhir diperbarui pada 2025-08-07

Key Takeaways

  • Unlike previous efforts driven by U.S. regulators, Operation Chokepoint 3.0 is likely being orchestrated by major banks.
  • Charging steep fees or blocking access to crypto and fintech apps may reduce consumer freedom.
  • If JPMorgan’s tactics succeed without pushback, other banks will likely follow.

With regulators stepping back from overt crackdowns on crypto, a new front has opened—not in Washington, but in Wall Street boardrooms.

Behind closed doors and under the guise of routine business practices, the biggest banks in America are quietly reshaping access to digital assets. The tactic is subtle throttling through fees, friction, and control over consumer data.

It’s a strategy that doesn’t require new legislation or regulatory oversight, and that’s precisely what makes it so effective and dangerous for cryptocurrencies.

Major Banks Take the Lead in a New Anti-Crypto Offensive

Big banks appear to be taking over after regulatory efforts to sideline crypto under the Biden administration largely faded.

Dubbed “Operation Chokepoint 3.0” by Andreessen Horowitz general partner Alex Rampell , federal regulators are not enforcing the latest wave of restrictions on the crypto and fintech sector—but by the banks themselves.

Rampell’s warning centers on JPMorgan Chase, which recently began charging fintech firms significant fees to access customer bank data.

While framed as a monetization move, critics argue the real intent is to restrict competition.

“This isn’t about a new revenue stream. It’s about strangling competition,” Rampell said.

At stake is consumer access to crypto and fintech platforms. If moving money to exchanges like Coinbase or apps like Robinhood becomes too expensive or outright blocked, the user base could shrink—not because of market forces, but due to gatekeeping by legacy financial institutions.

How Chokepoint 3.0 Could Undermine Consumer Choice

Banks are leveraging their control over payment infrastructure to make it more expensive—or in some cases impossible—for consumers to move funds to alternative platforms.

These tactics could make digital asset adoption prohibitively difficult for average users, whether through steep API access fees, delays in fund transfers, or outright refusal to interface with certain apps.

Rampell emphasized that some “data” banks are gatekeeping amounts to basic account and routing numbers—the same information printed on physical checks.

Yet when delivered electronically to fintechs, banks argue that such access warrants high fees. Critics say this distorts data ownership and violates consumer rights.

This is in conflict with Section 1033 of the Dodd-Frank Act, which affirms that consumers—not banks—own their financial data.

While the Consumer Financial Protection Bureau (CFPB) has taken steps to enforce these rights, the current bank-led strategy bypasses regulatory reform. It creates a de facto chokepoint through market dominance.

The fear is that if JPMorgan gets away with it, others will follow—and because most consumers have few alternatives for everyday banking, the market will become captive.

The result may be that crypto adoption slows, fintech growth stalls, and competition erodes without legislation or public scrutiny.

Operation Chokepoint 2.0 and Its Legacy

Operation Chokepoint” originated in 2013, when the U.S. Department of Justice pressured banks to sever ties with legal but “high-risk” industries.

While initially aimed at curbing fraud, it drew criticism for quietly cutting off lawful businesses from financial services.

Operation Chokepoint 2.0 took form during the Biden presidency. Federal regulators allegedly worked to “debank” crypto firms, pressuring financial institutions to distance themselves from the digital asset space.

According to a 2023 U.S. House Financial Services Committee report , this campaign had chilling effects on crypto innovation and access, with many firms losing banking relationships.

That phase may be over—but Operation Chokepoint 3.0 could prove more insidious. This time, it’s not regulators but incumbent banks enacting the squeeze.

unlike the prior campaigns, this one doesn’t need subpoenas or public memos to work—just fees, delays, and selective platform bans.

Without regulatory intervention or more vigorous enforcement of existing consumer data rights, the fintech and crypto sectors risk being throttled by the institutions they aim to disrupt.

Was this Article helpful? Yes No

Bacaan Terkait

Siapapun Dapat dengan Mudah Membuat Market Prediksi, Apakah Market Buatan Pengguna Limitless Dapat Bertahan Lama?

Dalam bidang kripto, mekanisme pasar prediksi yang memungkinkan pengguna membuat pasar secara bebas telah lama menjadi tantangan besar, dengan hampir semua upaya sebelumnya berakhir gagal. Limitless kini mencoba pendekatan unik melalui fitur UGM (User-Generated Market), yang memungkinkan siapa pun membuat pasar prediksi harga aset kripto. Sejarah pasar prediksi terbuka seperti Augur, Omen, Zeitgeist, dan Manifold Markets menunjukkan pola kegagalan serupa: likuiditas tersebar tipis di banyak pasar yang tidak aktif, sulitnya penemuan pasar, dan masalah penyelesaian (settlement) yang memicu ketidakpercayaan. Limitless mengatasi masalah ini dengan tiga cara: 1. **Penyelesaian otomatis** melalui oracle (Pyth dan Chainlink) untuk pasar berbasis harga objektif, menghilangkan kebutuhan voting atau panel sengketa. 2. **Basis pengguna aktif** yang sudah ada (volume perdagangan kumulatif $30 miliar, 70.000 pedagang aktif) membantu mengatasi masalah likuiditas awal. 3. **Mekanisme insentif seimbang**—pembuat pasar membayar biaya (dalam token LMTS yang kemudian dibakar) dan mendapat 50% dari biaya perdagangan yang dihasilkan, mengurangi pasar sampah sekaligus memberi imbalan nyata. Dengan memusatkan pada pasar harga yang dapat diselesaikan secara instan, memanfaatkan basis pengguna yang mapan, dan merancang struktur biaya-imbalan yang tepat, Limitless menawarkan cetak biru potensial untuk mewujudkan pasar prediksi yang benar-benar terbuka dan berkelanjutan.

Foresight News13m yang lalu

Siapapun Dapat dengan Mudah Membuat Market Prediksi, Apakah Market Buatan Pengguna Limitless Dapat Bertahan Lama?

Foresight News13m yang lalu

Pendiri Wanita Terkaya Jadi VC

Segalanya bermula dari pendanaan putaran B. Perusahaan kecerdasan embodied, **Kuawei Intelligent**, baru saja meraih pendanaan senilai 10 miliar yuan dalam putaran B, menjadi unicorn baru senilai 100 miliar di bidang *embodied world model*. Dalam daftar investor, muncul nama **Lens Technology**, yang mengungkap sosok pendirinya, **Zhou Qunfei**. Terlahir dari keluarga sederhana di Hunan tahun 1970, Zhou Qunfei memulai kariernya sebagai buruh pabrik. Dengan ketekunan, ia membangun **Lens Technology** dari nol, yang kini menjadi pemasok kaca utama untuk Apple dan merek global lainnya, dengan valuasi melampaui 300 miliar yuan. Ia dikenal sebagai "Ratu Kaca" dan orang terkaya di Hunan. Beberapa tahun terakhir, Zhou aktif berinvestasi di sektor teknologi mutakhir, baik secara pribadi melalui **Changsha Qunxin Investment** maupun lewat Lens Technology. Portofolio investasinya mencakup perusahaan-perusahaan seperti **BrainCo** (antarmuka otak-komputer), **Xinghai Tu**, **Qingtian Zu**, **Pudu Technology**, serta perusahaan semikonduktor dan robotika. Baru-baru ini, setelah mengunjungi Kuawei Intelligent dan melihat produknya, Zhou memutuskan untuk berinvestasi dengan dana pribadi senilai ratusan juta yuan. Pola "gunakan dulu, baru investasi" ini mencerminkan kedekatan strategis dengan perusahaan portofolionya. Zhou Qunfei adalah bagian dari tren di mana para miliarder yang sukses dari sektor manufaktur tradisional kini mengalihkan modal mereka ke bidang teknologi masa depan seperti **AI, kecerdasan embodied, antarmuka otak-komputer, dan fusi nuklir**. Mereka percaya bahwa pertumbuhan masa depan terletak pada dunia data dan algoritma, bukan lagi pada proyek-proyek properti atau manufaktur konvensional. Tokoh lain yang mengikuti tren serupa termasuk **Liu Yi** dari **iHealth** (investor di DeepSeek, Moon's Dark Side, StepFun, Zhiyuan Robotics), serta keluarga pendiri **Inovance Technology** dan **Luxshare Precision**. Mereka bersama-sama menggunakan pengalaman industri dan sumber daya mereka untuk mendukung lompatan teknologi China berikutnya.

marsbit33m yang lalu

Pendiri Wanita Terkaya Jadi VC

marsbit33m yang lalu

H-1 Menuju Amerika, Hynix Anjlok Seperti Anjing Kampung

Tepat sebelum SK Hynix (SK Hynix) melantai di NASDAQ, sentimen pasar terhadap industri AI dan semikonduktor berbalik drastis. Pada 1 Juli, berita bahwa "Meta mungkin melepas kelebihan daya komputasi AI" memicu kekhawatiran pengurangan belanja modal perusahaan besar, menyebabkan volatilitas pasar yang hebat. Narasi "kelangkaan absolut" daya komputasi AI mulai goyah, langsung berdampak pada sektor chip memori. Saham terkait, termasuk SK Hynix di bursa Korea, anjlok tajam - SK Hynix turun 14.57%, kehilangan ratusan miliar dolar AS dalam kapitalisasi pasar dalam satu hari. SK Hynix sebenarnya berada dalam proses akhir untuk IPO di AS melalui penerbitan American Depository Receipt (ADR), mengajukan prospektus F-1 ke SEC pada 30 Juni. Mereka berencana mengumpulkan dana sekitar 29.4 miliar dolar AS, terutama untuk ekspansi kapasitas di Korea Selatan, termasuk fasilitas wafer di Yongin dan lini pengemasan mutakhir di Cheongju. ADR direncanakan mulai diperdagangkan di NASDAQ pada 10 Juli dengan kode SKHY. Langkah ini didorong oleh beberapa faktor: siklus bisnis historis yang kuat didukung permintaan HBM untuk server AI, harapan penilaian ulang yang lebih tinggi di pasar AS dibandingkan diskon "Korea Discount" di bursa domestik, dan kebutuhan modal besar untuk bersaing dalam ekspansi kapasitas dengan rival. Terkait penurunan harga saham yang tajam, penulis artikel berpendapat ini lebih merupakan aksi jual panik dan deleveraging (pengurangan leverage) yang didorong emosi, bukan perubahan mendasar tren industri. Berita tentang Meta dinilai telah diinterpretasi berlebihan - penghapusan kata "kelebihan" dari judul berita asli dan perubahan dari "sedang membangun" menjadi "berencana membangun" mengurangi kepastiannya. Kegiatan optimisasi sumber daya komputasi oleh satu perusahaan seperti Meta atau SpaceX (yang juga pernah melakukan hal serupa) lebih merupakan efisiensi aset, bukan indikasi penurunan permintaan AI secara sistemik. Pasar yang sudah berada pada level tinggi sebelumnya sangat sensitif terhadap berita marginal, sehingga memicu koreksi yang diperbesar. Oleh karena itu, penulis melihat koreksi ini sebagai peluang untuk menambah posisi, mengingat SK Hynix berada di tengah jendela IPO penting dengan rencana pendanaan besar, di mana berbagai pihak yang terlibat memiliki kepentingan untuk menjaga performa pasca-penawaran.

Odaily星球日报34m yang lalu

H-1 Menuju Amerika, Hynix Anjlok Seperti Anjing Kampung

Odaily星球日报34m yang lalu

Trading

Spot
活动图片