DOJ Clears Dragonfly, Samourai Wallet Founders Plead Guilty

TheCryptoTimesDipublikasikan tanggal 2025-07-07Terakhir diperbarui pada 2025-07-30

The US Department of Justice has clarified that crypto venture firm Dragonfly Capital is not under investigation and will not face charges over its past investments in Tornado Cash, a non-custodial crypto mixer. The update came during a Monday court session, reversing earlier remarks that sparked concern across the crypto and tech industry.

Tornado Cash developers Roman Storm and Roman Semenov have been charged for money laundering through the tool since 2023. As Strom’s court trial started a couple of weeks ago, there have been claims that the DOJ is also contemplating charges against Dragonfly for having invested into the Tornado Cash team in 2020. 

Haseeb, a managing partner at Dragonfly, made a public comment explaining their investment in PepperSec and how it has nothing to do with the case of Tornado Cash. He described the earlier claim as a serious error and a clear breach of Justice Department policy.

In his X post, Haseeb cleared the air that prosecutors confirmed on record that the firm and its partners are not targets of any criminal probe. 

Source: Haseeb, Managing Partner At Dragonfly Capital
Source: Haseeb, Managing Partner at Dragonfly Capital

The situation drew sharp reactions, as many warned that such statements could scare investors away from supporting blockchain innovation. Dragonfly said the real focus should now return to Roman Storm’s trial, which is ongoing and could end with closing arguments this week. The outcome of that case is expected to set a major precedent for open-source developers and privacy tools in the United States.

Samourai Co-Founders Reverse Course

In a separate case, the two co-founders of Samourai Wallet are preparing to plead guilty to criminal charges related to their role in a crypto mixing protocol. Court records filed on Tuesday show that Keonne Rodriguez and William Lonergan Hill intend to change their original pleas from not guilty to guilty.

The pair were arrested in April 2025 and charged with conspiracy to launder money and operating an unlicensed money-transmitting business. Authorities allege that Samourai Wallet handled more than $2 billion in unlawful transactions, including some linked to dark web marketplaces. 

A hearing is set for Wednesday morning, where the court will review the updated pleas. Both men could face up to 25 years in prison if convicted.

Earlier this year, the defendants attempted to have the case dismissed, pointing to internal guidance suggesting they may not have needed a licence. However, the court rejected those arguments.

Also Read: Hong Kong’s RD Technologies Raises $40M Amid Stablecoin Licensing Buzz



Bacaan Terkait

Bitcoin Mungkin Belum Selesai Mengalami Kapitulasi - Mengapa Dasar Harga $50.000 Masih Berpeluang

Bitcoin (BTC) saat ini menghadapi ujian teknis dan makroekonomi yang signifikan. Aset kripto ini telah mencatatkan tiga kuartal kerugian berturut-turut, sebuah tren yang terakhir terlihat pada pasar bearish 2022. Lebih dari 50% pasokan Bitcoin yang beredar saat ini berada dalam posisi rugi (underwater). Yang menarik, pemegang jangka panjang (long-term holders/LTHs), yang menguasai 78% pasokan beredar, justru menunjukkan ketahanan dengan terus mengakumulasi aset dan tidak menjual selama pelemahan ini. Pasokan LTH bahkan mencapai rekor tertinggi pada Juni, menunjukkan pola yang berbeda dari siklus sebelumnya di mana penyerahan (capitulation) LTH biasanya menandai titik terendah pasar. Namun, tekanan dari lingkungan makroekonomi bisa menjadi ujian terberat. Ekspektasi pasar terhadap kebijakan Federal Reserve telah bergeser, dengan probabilitas kenaikan suku bunga pada bulan September meningkat. Hal ini mengindikasikan kondisi keuangan yang lebih ketat di masa mendatang. Secara historis, pasar bearish Bitcoin pada 2018 dan 2022 tidak mencapai dasar hingga mencatatkan sembilan bulan penurunan berturut-turut. Siklus saat ini baru mencapai tujuh bulan. Jika pola ini berlanjut, fase capitulation mungkin belum selesai. Titik terendah yang berkelanjutan baru akan terbentuk setelah LTH mulai menyerah, dan potensi pergerakan menuju level $50.000 pada akhir kuartal ketiga masih mungkin terjadi sebelum pembentukan dasar pasar yang sebenarnya.

ambcrypto2j yang lalu

Bitcoin Mungkin Belum Selesai Mengalami Kapitulasi - Mengapa Dasar Harga $50.000 Masih Berpeluang

ambcrypto2j yang lalu

Menghitung Mundur Q-Day: Akankah Komputasi Kuantum Mengakhiri Mata Uang Kripto?

**Ringkasan: Ancaman Komputasi Kuantum terhadap Dunia Kripto dan Upaya Menghadapinya** Komputasi kuantum, yang diwakili oleh algoritme seperti Shor, berpotensi meruntuhkan fondasi kriptografi kunci publik (seperti ECC dan RSA) yang menjadi tulang punggung blockchain dan cryptocurrency. Momen ketika hal ini menjadi kenyataan dikenal sebagai "Q-Day", diprediksi terjadi sekitar tahun 2035–2045. Menggunakan ketidaksetaraan Mosca (X + Y > Z), terlihat bahwa proses migrasi ke sistem tahan-kuantum harus dimulai sekarang, mengingat data sensitif hari ini dapat dikumpukan dan dipecahkan di masa depan. Solusi praktis yang sedang dikembangkan adalah **Kriptografi Pasca-Kuantum (PQC)**, yaitu algoritme yang berjalan di komputer klasik namun tahan terhadap serangan kuantum. NIST telah menstandarisasi algoritme inti seperti ML-KEM, ML-DSA, dan SLH-DSA. Strategi migrasi melibatkan **penerapan hybrid** (menggabungkan algoritme lama dan baru) dan meningkatkan **kelincahan kriptografi** sistem. **Dampak pada Blockchain** bersifat sistemik. Bitcoin menghadapi risiko tinggi pada aset di alamat lama yang kunci publiknya sudah terpapar di chain, serta tantangan teknis (seperti pembengkakan ukuran tanda tangan) dan **tantangan politik** yang kompleks terkait bagaimana menangani aset warisan (legacy) yang tidak bermigrasi. Ethereum, dengan strategi "Lean", berencana melakukan migrasi bertahap di seluruh lapisan (eksekusi, konsensus, data) dengan memanfaatkan **abstraksi akun** dan **lapisan-2** sebagai tempat uji coba. Kesimpulannya, komputasi kuantum bukanlah "hari kiamat" bagi cryptocurrency, melainkan **ujian tekanan ekstrem** yang memaksa seluruh ekosistem untuk bermigrasi. Bitcoin diuji pada konsensus sosial dan tata kelola propertinya, sementara Ethereum diuji pada kompleksitas rekayasa seluruh tumpukan teknologinya. Jendela waktu untuk melakukan transisi yang terkoordinasi dengan baik diperkirakan hanya tersisa **5-8 tahun**, sehingga persiapan dan aksi kolaboratif dari seluruh pemangku kepentingan (pengembang, bursa, dompet, dan pengguna) sangat mendesak.

marsbit7j yang lalu

Menghitung Mundur Q-Day: Akankah Komputasi Kuantum Mengakhiri Mata Uang Kripto?

marsbit7j yang lalu

Trading

Spot
活动图片