India Dials Back Crypto Regulation Hopes, Industry Left in Limbo

ccn.comDipublikasikan tanggal 2025-07-07Terakhir diperbarui pada 2025-07-28

Key Takeaways

  • The Indian Finance Ministry says there are no current plans to regulate crypto.
  • No crypto data has been collected in five years despite a 1% TDS since 2022.
  • Crypto firms continue to flee India due to the lack of regulatory clarity.

India’s crypto community may have to keep waiting.

Despite growing rumors about an upcoming draft crypto bill, the Finance Ministry has officially clarified that the government has no immediate plans to regulate digital assets.

The announcement scuttles hopes of a clearer regulatory framework, which the industry has been demanding for years.

Heavy Taxes, No Oversight

The government’s latest statement in Parliament confirmed that crypto assets remain unregulated and that no meaningful data has been collected over the last five years.

This comes despite introducing a 30% tax on crypto gains and a 1% tax deducted at source (TDS) in 2022.

Even after implementing significant taxes, the revelation that India hasn’t gathered any crypto data has sparked frustration among traders and businesses alike.

Many say the current system punishes users without offering protection or clarity.

The silence from regulators is all the more glaring in light of global momentum.

As the U.S. embraces a more pro-crypto stance under President Donald Trump, India appears to be standing still.

India’s Crypto Exodus

The lack of progress is costing India billions.

Several major crypto companies, including WazirX, have moved their operations overseas.

The exchange, once one of India’s largest, suffered a $230 million hack in 2023 and has since relocated to Singapore for restructuring.

Indian customers, meanwhile, are still waiting to recover their funds—both hacked and unhacked.

Siddharth Sogani, head of blockchain analytics firm Crebaco and a long-time advocate for crypto regulation in India, told CCN the situation is increasingly bleak.

“Countries like the U.S. are regulating left, right, and center—and Indians are left with frustration,” Sogani said. “It’s been over 10 years since I’ve been fighting for regulations. I submitted several documents and even visited the Parliament, but no luck. Finally, I gave up and moved my business overseas.”

His story echoes what many in the industry are now feeling: exhaustion, disappointment, and a slow but steady brain drain of crypto talent leaving India for more welcoming jurisdictions.

Was this Article helpful? Yes No

Bacaan Terkait

Bitcoin Mungkin Belum Selesai Mengalami Kapitulasi - Mengapa Dasar Harga $50.000 Masih Berpeluang

Bitcoin (BTC) saat ini menghadapi ujian teknis dan makroekonomi yang signifikan. Aset kripto ini telah mencatatkan tiga kuartal kerugian berturut-turut, sebuah tren yang terakhir terlihat pada pasar bearish 2022. Lebih dari 50% pasokan Bitcoin yang beredar saat ini berada dalam posisi rugi (underwater). Yang menarik, pemegang jangka panjang (long-term holders/LTHs), yang menguasai 78% pasokan beredar, justru menunjukkan ketahanan dengan terus mengakumulasi aset dan tidak menjual selama pelemahan ini. Pasokan LTH bahkan mencapai rekor tertinggi pada Juni, menunjukkan pola yang berbeda dari siklus sebelumnya di mana penyerahan (capitulation) LTH biasanya menandai titik terendah pasar. Namun, tekanan dari lingkungan makroekonomi bisa menjadi ujian terberat. Ekspektasi pasar terhadap kebijakan Federal Reserve telah bergeser, dengan probabilitas kenaikan suku bunga pada bulan September meningkat. Hal ini mengindikasikan kondisi keuangan yang lebih ketat di masa mendatang. Secara historis, pasar bearish Bitcoin pada 2018 dan 2022 tidak mencapai dasar hingga mencatatkan sembilan bulan penurunan berturut-turut. Siklus saat ini baru mencapai tujuh bulan. Jika pola ini berlanjut, fase capitulation mungkin belum selesai. Titik terendah yang berkelanjutan baru akan terbentuk setelah LTH mulai menyerah, dan potensi pergerakan menuju level $50.000 pada akhir kuartal ketiga masih mungkin terjadi sebelum pembentukan dasar pasar yang sebenarnya.

ambcrypto2j yang lalu

Bitcoin Mungkin Belum Selesai Mengalami Kapitulasi - Mengapa Dasar Harga $50.000 Masih Berpeluang

ambcrypto2j yang lalu

Menghitung Mundur Q-Day: Akankah Komputasi Kuantum Mengakhiri Mata Uang Kripto?

**Ringkasan: Ancaman Komputasi Kuantum terhadap Dunia Kripto dan Upaya Menghadapinya** Komputasi kuantum, yang diwakili oleh algoritme seperti Shor, berpotensi meruntuhkan fondasi kriptografi kunci publik (seperti ECC dan RSA) yang menjadi tulang punggung blockchain dan cryptocurrency. Momen ketika hal ini menjadi kenyataan dikenal sebagai "Q-Day", diprediksi terjadi sekitar tahun 2035–2045. Menggunakan ketidaksetaraan Mosca (X + Y > Z), terlihat bahwa proses migrasi ke sistem tahan-kuantum harus dimulai sekarang, mengingat data sensitif hari ini dapat dikumpukan dan dipecahkan di masa depan. Solusi praktis yang sedang dikembangkan adalah **Kriptografi Pasca-Kuantum (PQC)**, yaitu algoritme yang berjalan di komputer klasik namun tahan terhadap serangan kuantum. NIST telah menstandarisasi algoritme inti seperti ML-KEM, ML-DSA, dan SLH-DSA. Strategi migrasi melibatkan **penerapan hybrid** (menggabungkan algoritme lama dan baru) dan meningkatkan **kelincahan kriptografi** sistem. **Dampak pada Blockchain** bersifat sistemik. Bitcoin menghadapi risiko tinggi pada aset di alamat lama yang kunci publiknya sudah terpapar di chain, serta tantangan teknis (seperti pembengkakan ukuran tanda tangan) dan **tantangan politik** yang kompleks terkait bagaimana menangani aset warisan (legacy) yang tidak bermigrasi. Ethereum, dengan strategi "Lean", berencana melakukan migrasi bertahap di seluruh lapisan (eksekusi, konsensus, data) dengan memanfaatkan **abstraksi akun** dan **lapisan-2** sebagai tempat uji coba. Kesimpulannya, komputasi kuantum bukanlah "hari kiamat" bagi cryptocurrency, melainkan **ujian tekanan ekstrem** yang memaksa seluruh ekosistem untuk bermigrasi. Bitcoin diuji pada konsensus sosial dan tata kelola propertinya, sementara Ethereum diuji pada kompleksitas rekayasa seluruh tumpukan teknologinya. Jendela waktu untuk melakukan transisi yang terkoordinasi dengan baik diperkirakan hanya tersisa **5-8 tahun**, sehingga persiapan dan aksi kolaboratif dari seluruh pemangku kepentingan (pengembang, bursa, dompet, dan pengguna) sangat mendesak.

marsbit7j yang lalu

Menghitung Mundur Q-Day: Akankah Komputasi Kuantum Mengakhiri Mata Uang Kripto?

marsbit7j yang lalu

Trading

Spot
活动图片