Минфин пообещал не запрещать россиянам торговать криптовалютой

cryptonews.ruDipublikasikan tanggal 2023-10-22Terakhir diperbarui pada 2025-06-22

Минфин и Банк России будут искать баланс между ограничением прав держателей криптовалют и созданием отдельной категории суперквалифицированных инвесторов, которых допустят к торгам криптовалютой в рамках специального экспериментального правового режим (ЭПР), заявил замминистра финансов Иван Чебесков.

Российский чиновник на Петербургском международном экономическом форуме рассказал, что сейчас ограничения обсуждаются на уровне руководства Минфина и Центробанка. По словам замминистра, среди вопросов, которые нужно решить — регулирование использования криптовалют теми, кто уже давно ими пользуется «вне правового поля», то есть игнорируя ЭПР.

«Если суперквалов будет десятки тысяч людей или максимум сотни тысяч, то пользователей сейчас миллион. Поэтому нужно найти баланс между тем, чтобы не ограничить в правах тех граждан, которые и так этим пользуются в своих целях. Сейчас идет поиск этого баланса», — объяснил Чебесков.

Чиновник сказал, что инвесторы, которых допустят к торгам цифровыми активами в ЭПР, обязаны обладать знаниями, пониманием особенностей продуктов и капиталом для того, чтобы можно было брать на себя повышенный риск.

Власти России обсуждают создание подконтрольной криптобиржи для ЭПР. В первую очередь рассматривается использование действующих торговых площадок, так как у них есть соответствующие технологии, пояснил замминистра.

Пока не решен важный вопрос: что делать с существующими криптоплатформами вне ЭПР, которыми пользуются россияне. То есть международными криптобиржами и местными сервисами. Ведомство надеется определить параметры экспериментально-правового режима к концу года, пообещал Чебесков.

Ранее Иван Чебесков заявил, что организатором торгов криптовалютой в рамках экспериментального правового режима может стать Московская биржа, а сам эксперимент планируется запустить через полгода.

Bacaan Terkait

David Schwartz Sebut Risiko Front-Running di XRP Ledger Nyata Namun Dibesar-besarkan

David Schwartz, mantan CTO Ripple, menanggapi kekhawatiran bahwa XRP Ledger (XRPL) mungkin rentan terhadap serangan sandwich. Ia mengakui bahwa risikonya nyata namun dianggap berlebihan. Serangan sandwich terjadi ketika transaksi pengguna terlihat sebelum konfirmasi, memungkinkan pelaku menempatkan transaksi sebelum dan sesudahnya untuk mengambil keuntungan dari pergerakan harga. Hal ini dapat menyebabkan pengguna mendapatkan harga yang lebih buruk. Schwartz menekankan bahwa masalah ini adalah tantangan umum di pasar terdesentralisasi, dan keberadaan risiko tidak serta-merta membuat setiap pengguna terus terpapar atau jaringan menjadi rusak. Bagi XRPL, masalah ini lebih terkait dengan kredibilitas jaringan dan kepercayaan pengguna daripada harga XRP langsung. Agar XRPL dapat mendukung aktivitas perdagangan dan penyelesaian yang serius, pengguna perlu keyakinan bahwa eksekusi perdagangan tidak mudah dimanipulasi. Pendekatan Schwartz yang mengakui risiko sekaligus menyatakan bahwa risikonya dibesar-besankan dianggap sebagai cara yang tepat untuk membingkai masalah. Hal ini menjaga percakapan tetap realistis dan membuka diskusi tentang mitigasi praktis. Intinya bagi pemegang XRP adalah bahwa debat serangan sandwich bukan bukti bahwa XRPL tidak aman, melainkan pengingat bahwa seiring matangnya pasar on-chain, kualitas eksekusi dan perlindungan akan menjadi bagian penting dari adopsi. Ini pada dasarnya adalah masalah kepercayaan pengguna.

bitcoinist9m yang lalu

David Schwartz Sebut Risiko Front-Running di XRP Ledger Nyata Namun Dibesar-besarkan

bitcoinist9m yang lalu

Mengapa Proyek Kripto Sering Berganti Nama?

Menurut data RootData, lebih dari 16% proyek kripto pernah mengganti nama, jauh lebih sering dibandingkan perusahaan tradisional yang sangat menjaga aset merek. Fenomena ini terjadi karena beberapa alasan utama. Pertama, loyalitas merek di industri kripto sangat rendah. Banyak pengguna adalah investor, pemburu airdrop, dan trader yang lebih peduli pada harga token daripada pengalaman produk. Nama lama yang terkait dengan kerugian, peretasan, atau narasi yang gagal sering menjadi beban. Kedua, pergantian nama adalah strategi pemasaran. Beberapa proyek mengganti nama untuk menyesuaikan dengan strategi baru (seperti Matic menjadi Polygon) atau "mengikuti tren" konsep panas seperti AI atau metaverse untuk menarik perhatian dan likuiditas baru. Selain itu, pergantian nama dapat berfungsi sebagai alat hubungan masyarakat untuk memutuskan hubungan dengan reputasi buruk setelah insiden keamanan atau kontroversi. Ketiga, yang paling riskan adalah ketika pergantian nama disertai dengan pertukaran atau migrasi token. Proses ini dapat memberi peluang "peluncuran ulang" bagi proyek, termasuk mereset grafik harga lama, melakukan pemecahan token agar terlihat lebih murah, atau bahkan mengubah ekonomi token yang menyebabkan pengenceran nilai bagi pemegang lama. Intinya, masalah sebenarnya bukan pada pergantian nama itu sendiri, tetapi pada niat di baliknya. Apakah itu untuk membangun merek yang lebih baik dengan produk dan strategi nyata, atau sekadar melarikan diri dari sejarah kegagalan, mereset K-line, dan menciptakan narasi baru untuk permainan lama? Komunitas harus kritis dan mempertanyakan perubahan kemampuan nyata, ekonomi token, serta sejarah apa yang coba dilupakan oleh proyek saat mengumumkan rebranding.

marsbit1j yang lalu

Mengapa Proyek Kripto Sering Berganti Nama?

marsbit1j yang lalu

Trading

Spot
活动图片