Китайский трейдер помог хакерам из Lazarus Group отмыть $17 млн

investing.ruDipublikasikan tanggal 2024-10-24Terakhir diperbarui pada 2024-10-24

Happycoin.club - Блокчейн-аналитик ZachXBT провёл расследование и установил, что китайский внебиржевой трейдер Ицзун Ван помог северокорейским хакерам из Lazarus Group отмыть украденную криптовалюту на миллионы долларов.

По данным Lazarus Group, трейдер проводил незаконные операции с похищенными активами с 2022 года. При этом он постоянно менял ники и в разное время был идентифицирован под псевдонимами Seawang, Greatdtrader и BestRhea977.

Расследование ZachXBT в отношении Вана началось после того, как к нему обратился один из трейдеров. Он пожаловался, что его аккаунт был заморожен после проведения р2р-транзакции с Ваном.

ZachXBT выяснил, что через кошелёк Tron, принадлежащий подозреваемому, проходило несколько транзакций со средствами, похищенными во время взлома Alex Labs, Irys и других протоколов.

Движение средств с кошельков китайского трейдера

Так, после эксплойтов Alex Labs, Irys, которые произошли в мае и июне 2024 года, активы более чем на $5,5 млн сначала оказались на адресах Вана. Затем трейдер помог отмыть их через криптовалютные микшеры и перевести на другие адреса.

Блокчейн-аналитик также обнаружил, что в августе 2024 года Tether внес в чёрный список адрес Ethereum, на котором находилось 948 000 эфиров, принадлежащих Вану.

Ицзун Ван был заблокирован в Paxful и Noones на нескольких аккаунтах (Seawang/Greatdtrader/BestRhea977) за отмывание денег, с тех пор он перешёл на ведение бизнеса за пределами бирж. Судя по блокчейн-данным, он по-прежнему активно помогает Lazarus Group, — заявил ZachXBT.

Печально известной группе киберпреступников Lazarus Group, связанной с правительством Северной Кореи, приписывают некоторые из крупнейших в истории криптовзломов, включая эксплойт Ronin на $600 млн.

В апреле этого года ZachXBT сообщил, что с 2020 по 2023 год Lazarus Group отмыла более $200 млн, полученных в результате более чем 25 взломов криптокошельков.

Читайте оригинальную статью на сайте Happycoin.club

Bacaan Terkait

Bitcoin Mungkin Belum Selesai Mengalami Kapitulasi - Mengapa Dasar Harga $50.000 Masih Berpeluang

Bitcoin (BTC) saat ini menghadapi ujian teknis dan makroekonomi yang signifikan. Aset kripto ini telah mencatatkan tiga kuartal kerugian berturut-turut, sebuah tren yang terakhir terlihat pada pasar bearish 2022. Lebih dari 50% pasokan Bitcoin yang beredar saat ini berada dalam posisi rugi (underwater). Yang menarik, pemegang jangka panjang (long-term holders/LTHs), yang menguasai 78% pasokan beredar, justru menunjukkan ketahanan dengan terus mengakumulasi aset dan tidak menjual selama pelemahan ini. Pasokan LTH bahkan mencapai rekor tertinggi pada Juni, menunjukkan pola yang berbeda dari siklus sebelumnya di mana penyerahan (capitulation) LTH biasanya menandai titik terendah pasar. Namun, tekanan dari lingkungan makroekonomi bisa menjadi ujian terberat. Ekspektasi pasar terhadap kebijakan Federal Reserve telah bergeser, dengan probabilitas kenaikan suku bunga pada bulan September meningkat. Hal ini mengindikasikan kondisi keuangan yang lebih ketat di masa mendatang. Secara historis, pasar bearish Bitcoin pada 2018 dan 2022 tidak mencapai dasar hingga mencatatkan sembilan bulan penurunan berturut-turut. Siklus saat ini baru mencapai tujuh bulan. Jika pola ini berlanjut, fase capitulation mungkin belum selesai. Titik terendah yang berkelanjutan baru akan terbentuk setelah LTH mulai menyerah, dan potensi pergerakan menuju level $50.000 pada akhir kuartal ketiga masih mungkin terjadi sebelum pembentukan dasar pasar yang sebenarnya.

ambcrypto58m yang lalu

Bitcoin Mungkin Belum Selesai Mengalami Kapitulasi - Mengapa Dasar Harga $50.000 Masih Berpeluang

ambcrypto58m yang lalu

Menghitung Mundur Q-Day: Akankah Komputasi Kuantum Mengakhiri Mata Uang Kripto?

**Ringkasan: Ancaman Komputasi Kuantum terhadap Dunia Kripto dan Upaya Menghadapinya** Komputasi kuantum, yang diwakili oleh algoritme seperti Shor, berpotensi meruntuhkan fondasi kriptografi kunci publik (seperti ECC dan RSA) yang menjadi tulang punggung blockchain dan cryptocurrency. Momen ketika hal ini menjadi kenyataan dikenal sebagai "Q-Day", diprediksi terjadi sekitar tahun 2035–2045. Menggunakan ketidaksetaraan Mosca (X + Y > Z), terlihat bahwa proses migrasi ke sistem tahan-kuantum harus dimulai sekarang, mengingat data sensitif hari ini dapat dikumpukan dan dipecahkan di masa depan. Solusi praktis yang sedang dikembangkan adalah **Kriptografi Pasca-Kuantum (PQC)**, yaitu algoritme yang berjalan di komputer klasik namun tahan terhadap serangan kuantum. NIST telah menstandarisasi algoritme inti seperti ML-KEM, ML-DSA, dan SLH-DSA. Strategi migrasi melibatkan **penerapan hybrid** (menggabungkan algoritme lama dan baru) dan meningkatkan **kelincahan kriptografi** sistem. **Dampak pada Blockchain** bersifat sistemik. Bitcoin menghadapi risiko tinggi pada aset di alamat lama yang kunci publiknya sudah terpapar di chain, serta tantangan teknis (seperti pembengkakan ukuran tanda tangan) dan **tantangan politik** yang kompleks terkait bagaimana menangani aset warisan (legacy) yang tidak bermigrasi. Ethereum, dengan strategi "Lean", berencana melakukan migrasi bertahap di seluruh lapisan (eksekusi, konsensus, data) dengan memanfaatkan **abstraksi akun** dan **lapisan-2** sebagai tempat uji coba. Kesimpulannya, komputasi kuantum bukanlah "hari kiamat" bagi cryptocurrency, melainkan **ujian tekanan ekstrem** yang memaksa seluruh ekosistem untuk bermigrasi. Bitcoin diuji pada konsensus sosial dan tata kelola propertinya, sementara Ethereum diuji pada kompleksitas rekayasa seluruh tumpukan teknologinya. Jendela waktu untuk melakukan transisi yang terkoordinasi dengan baik diperkirakan hanya tersisa **5-8 tahun**, sehingga persiapan dan aksi kolaboratif dari seluruh pemangku kepentingan (pengembang, bursa, dompet, dan pengguna) sangat mendesak.

marsbit6j yang lalu

Menghitung Mundur Q-Day: Akankah Komputasi Kuantum Mengakhiri Mata Uang Kripto?

marsbit6j yang lalu

Trading

Spot
活动图片