Crypto Analyst Predicts Shiba Inu Will Surge 1,000% To $0.00014

bitcoinistDipublikasikan tanggal 2024-09-03Terakhir diperbarui pada 2024-09-04

Abstrak

Crypto analyst Zach Humphries has made a bullish case for Shiba Inu (SHIB), predicting that the crypto token could rise...

Crypto analyst Zach Humphries has made a bullish case for Shiba Inu (SHIB), predicting that the crypto token could rise to as high as $0.00014 in this market cycle. The analyst also warned against having too many expectations from the meme coin, suggesting that it is unlikely to have the kind of run it did in 2021. 

Shiba Inu Could Rise To As High As $0.00014

Zach Humphries mentioned in a video on his YouTube channel that Shiba Inu can “definitely” enjoy a 10x run from its current price level, meaning that it can reach a new all-time high (ATH) of $0.00014 in this bull run. A rise to such a price level also means that Shiba Inu will come close to hitting a $100 billion market cap, which the crypto analyst also noted is possible. 

The crypto analyst added that this price rally from Shiba Inu will happen as long as the crypto market witnesses another altcoin season. He further remarked that this altcoin season will largely hinge on Ethereum and that the second largest crypto by market cap will need to reach new highs for Shiba Inu also to make its run. 

Zach asserted that SHIB is the biggest ERC-20 coin. As such, it only makes that the second-largest meme coin by market cap witnesses a significant price rally as Ethereum makes its move during the altcoin season. This isn’t the first time that Zach has laid such an ultra-bullish price prediction for Shiba Inu. In June, he mentioned that the meme coin will reach a $100 billion market cap in this market cycle. 

Meanwhile, other crypto analysts, like Oscar Ramos, have also predicted that Shiba Inu will delete another zero from its current price. Ramos previously stated that the meme coin could rise to $0.0001, while Javon Marks predicted that Shiba Inu could surge to as high as $0.0001553. 

SHIB Unlikely To Replicate Its 2021 Bull Run

Despite his bullish prediction for Shiba Inu, Zach warned that the meme coin’s days of recording massive gains in weeks are long gone, suggesting that the meme coin cannot replicate its 2021 bull run. Shiba Inu recorded a price gain of 157 million percent in the 2021 bull run, as its price continued to skyrocket for weeks before reaching an ATH of $0.00008845 in October 2021. 

The crypto analyst remarked that Shiba Inu’s investors and potential ones must be “realistic” about their expectations for potential gains from the meme coin. Zach noted that unlike in 2021, SHIB has now become among the top cryptos by market cap with a multi-billion dollar market cap. As such, he suggested that the meme coin has less room now to run to the upside. In line with this, the crypto analyst warned investors about listening to those who say Shiba Inu can run to $0.01 or even $1. 

Shiba Inu price chart from Tradingview.com
SHIB price sees sharp drop | Source: SHIBUSDT on Tradingview.com
Featured image created with Dall.E, chart from Tradingview.com
Scott Matherson

Scott Matherson

Scott Matherson is a leading crypto writer at Bitcoinist, who possesses a sharp analytical mind and a deep understanding of the digital currency landscape. Scott has earned a reputation for delivering thought-provoking and well-researched articles that resonate with both newcomers and seasoned crypto enthusiasts. Outside of his writing, Scott is passionate about promoting crypto literacy and often works to educate the public on the potential of blockchain.

Bacaan Terkait

Keseimbangan Kekuatan Kembali Apple dan "Micron cs": Membongkar Struktur Profit di Balik iPhone

Pernahkah Anda mempertanyakan bagaimana keuntungan dari penjualan iPhone didistribusikan di antara berbagai pemasok komponen? Sebuah analisis menunjukkan pergeseran kekuatan dalam rantai pasokan Apple. Dulu, pemasok memori seperti Micron (MU) hanya menerima bagian kecil, sekitar 1.6%-2.3% dari harga iPhone X. Laporan dari akun media sosial @BluthCapital menyoroti ketidakseimbangan ini, dengan menyebut Apple membeli chip seharga $5 dan menjualnya kembali seharga $99 kepada konsumen. Data terbaru menunjukkan, dari total keuntungan satu unit iPhone, Apple mengambil porsi terbesar sekitar 25%, sedangkan raksasa memori seperti Micon hanya memperoleh kurang dari 3%. Laporan keuangan Apple Q2 2026 mengungkapkan, laba bersih per unit iPhone sekitar $320-340, dengan margin bersih mencapai 33%-36%. Sementara itu, biaya memori telah meningkat secara signifikan. Pada era iPhone X (2017), biaya memori hanya sekitar 2% dari Biaya Material (BOM). Namun, pada iPhone 17 (2026), proporsi ini melonjak menjadi 12%-15% dari BOM, sekitar $60-80, didorong oleh kenaikan harga memori secara global. Peningkatan tajam harga memori ini, yang disebut CEO Apple Tim Cook sebagai fenomena "sekali dalam 40 tahun", utamanya dipicu oleh permintaan yang sangat besar dari industri AI. Server AI membutuhkan DRAM 8-10 kali lebih banyak dibandingkan server tradisional, menyebabkan pemasok seperti Samsung, SK Hynix, dan Micon mengalihkan produksi ke produk berpenghasilan tinggi seperti HBM (High Bandwidth Memory), yang mengurangi pasokan untuk elektronik konsumen seperti iPhone. Ketimpangan pasokan ini mengubah dinamika kekuatan, memberikan leverage negosiasi yang lebih besar kepada produsen memori. Bahkan, dikabarkan Apple sedang mencoba mendiversifikasi pasokannya dengan mengajukan izin untuk membeli chip memori dari perusahaan China, CXMT. Singkatnya, era di mana Apple mendominasi dengan menekan harga pemasok komponen seperti memori sedang mengalami perubahan. Kekuatan kini bergeser seiring dengan melonjaknya permintaan memori dari sektor AI, memaksa perusahaan seperti Apple untuk menyesuaikan strategi dan menghadapi kenaikan biaya yang signifikan.

Odaily星球日报5m yang lalu

Keseimbangan Kekuatan Kembali Apple dan "Micron cs": Membongkar Struktur Profit di Balik iPhone

Odaily星球日报5m yang lalu

Jawaban Lokal untuk Komputasi Luar Angkasa: Lebih Efisien dengan Foton, Jalur Musk dan Huang Terlalu Berbelit

Perlombaan komputasi luar angkasa telah menjadi perlombaan senjata nyata, dengan Musk dan Jensen Huang (CEO Nvidia) menekankan pentingnya kecerdasan di tempat data dihasilkan dan potensi satelit AI bertenaga surya sebagai solusi komputasi paling hemat biaya pada 2032. Namun, komputasi di luar angkasa menghadapi tantangan teknis yang jauh lebih keras daripada di darat: radiasi partikel energi tinggi yang menyebabkan kesalahan chip, kesulitan dissipasi panas di lingkungan vakum, dan pasokan daya yang sangat terbatas. Di sinilah **komputasi fotonik** muncul sebagai jawaban potensial. Chip komputasi fotonik menggunakan foton (cahaya) sebagai pembawa informasi, yang memiliki keunggulan alami untuk lingkungan luar angkasa: 1. **Tahan Radiasi**: Foton tidak bermuatan listrik, sehingga tidak rentan terhadap gangguan langsung dari partikel energi tinggi. 2. **Rendah Panas**: Proses komputasi dengan cahaya dalam waveguide hampir tidak menghasilkan panas, mengatasi masalah dissipasi panas yang kritis. 3. **Rendah Daya**: Konsumsi daya statis mendekati nol, cocok dengan sumber energi terbatas satelit. Keunggulan ini memungkinkan komputasi fotonik mencapai kepadatan komputasi yang lebih tinggi dengan berat dan volume muatan yang sama dibandingkan chip elektronik tradisional, karena membutuhkan sistem pendukung (pendingin, pelindung radiasi) yang lebih sederhana dan ringan. Sementara chip elektronik mendekati batas fisik penyusutan transistor (quantum tunneling), komputasi fotonik meningkatkan kinerja dengan memperluas skala dan memanfaatkan multidimensi cahaya (panjang gelombang, polarisasi), menawarkan jalur pengembangan yang berbeda. Meski menjanjikan, komputasi fotonik masih perlu mengatasi tantangan seperti integrasi skala besar, memisahkan memori dan komputasi, serta validasi rekayasa untuk kondisi peluncuran (getaran tinggi) dan lingkungan orbit. Jalur menuju komputasi berbasis luar angkasa yang komersial dan terukur masih panjang, tetapi komputasi fotonik dan interkoneksi fotonik ("komputasi & koneksi cahaya") muncul sebagai kartu truf potensial untuk mendorong batas kemampuan konstelasi komputasi di masa depan.

marsbit1j yang lalu

Jawaban Lokal untuk Komputasi Luar Angkasa: Lebih Efisien dengan Foton, Jalur Musk dan Huang Terlalu Berbelit

marsbit1j yang lalu

Trading

Spot
活动图片