'Cryptocurrencies Have Failed the Test of Digital Money,' MAS' Managing Director Says

CoinDeskPolicyDipublikasikan tanggal 2023-11-15Terakhir diperbarui pada 2023-11-16

Abstrak

Ravi Menon, the Managing Director of the Monetary Authority of Singapore, said crypto has performed poorly as a medium of exchange or store of value.

Stablecoins and central bank digital currencies (CBDCs), not crypto, will be part of the financial ecosystem in the future, the managing director of Singapore's central bank said during his keynote at the Singapore Fintech Festival.

"There are four contenders for digital money," Ravi Menon said, naming them as privately issued cryptocurrencies, CBDCs, tokenized bank liabilities, and well-regulated stablecoins.

But in Menon’s opinion, cryptocurrencies have failed the test of digital money because "they have performed poorly as a medium of exchange or store of value, their prices are subject to sharp speculative swings, and many investors in cryptocurrencies have suffered significant losses."

A D V E R T I S E M E N T
A D V E R T I S E M E N T

Bitcoin (BTC) is up 121% this year, outperforming the S&P 500 and NASDAQ.

The Monetary Authority of Singapore (MAS), he said, views well-regulated stablecoins as a promising digital currency complementing CBDCs and tokenized bank liabilities. During the speech, Menon listed StraitsX’s stablecoin and Paxos Digital's new USD-pegged stablecoin as examples.

While Singapore has a reputation as a crypto hub in Asia, regulators would much rather prefer the nation be known as a digital assets hub, something which Menon emphasized in his speech by highlighting ways the technology can be used aside from crypto speculation.

Menon mentioned how Project Guardian, led by MAS and industry partners, is tokenizing foreign exchange, bonds, and funds to enhance global liquidity, streamline cross-border transactions, and improve operational efficiency in financial markets, with trials by major global banks.

“A larger vision that is emerging is of a network of interoperable systems that allows payment, clearing, and settlement to take place instantaneously and seamlessly,” he said. “Digital assets have two critical features that can fundamentally transform the nature of financial transactions.”

A D V E R T I S E M E N T
A D V E R T I S E M E N T

A Singapore-Led Layer 1

Existing digital asset networks, Menon said, including public permissionless blockchains and private permissioned blockchains, face challenges such as lack of accountability, legal uncertainty, and interoperability issues, limiting their suitability as a global digital asset infrastructure.

In response to this, the Monetary Authority of Singapore (MAS) is launching the Global Layer One (GL1) initiative.

"GL1 is conceived as a global public good," Menon said. "It will facilitate seamless cross-border transactions and enable tokenized assets to be traded across global liquidity pools while meeting relevant regulatory requirements."

GL1 is part of Singapore's push to ensure that FinTech has a "larger purpose", Menon said, emphasizing that FinTech should be focused on solving real-world problems and improving people's lives.

“Together, digital assets, digital money, and a foundational digital infrastructure can help realize the vision of seamless financial transactions across the world,” he said.

Edited by Parikshit Mishra.

Bacaan Terkait

Peristiwa Terpenting Mendekat, Perhatikan Hari Jumat: Ini Mungkin Peristiwa Terpenting Fed Tahun Ini

Ketua Federal Reserve Kevin Warsh bersiap menyampaikan pidato kunci di konferensi Jackson Hole minggu ini, yang disebut-sebut sebagai salah satu pidato terpenting selama masa jabatannya. Inti perhatian pasar dan pejabat Fed adalah apakah inflasi tinggi AS disebabkan faktor sementara seperti tarif dan perang dengan Iran, atau karena permintaan ekonomi yang masih terlalu kuat. Jawaban atas pertanyaan ini akan menentukan apakah Fed akan menaikkan suku bunga. Meski perbedaan pendapat di dalam Fed semakin jelas, dengan tiga pejabat voting untuk kenaikan suku bunga bulan lalu, Warsh belum secara terbuka menyatakan posisinya karena pendekatan barunya yang mengurangi volume informasi. Dalam pidato Jumat nanti, investor akan mencari petunjuk mengenai penilaian Warsh terhadap ekonomi dan kondisi yang dapat memicu pengetatan kebijakan moneter. Dua skenario ekonomi yang mungkin mengarah pada hasil kebijakan yang sangat berbeda: pertama, inflasi tinggi akibat guncangan sementara yang akan mereda dengan sendirinya; kedua, guncangan tersebut menutupi ketidakseimbangan ekonomi yang lebih dalam, di mana permintaan melampaui penawaran, sehingga memerlukan kenaikan suku bunga. Data inflasi yang lebih moderat dalam dua bulan terakhir telah meredakan tekanan untuk kenaikan suku bunga pada pertemuan September. Namun, kekhawatiran tetap ada bahwa perang dengan Iran, tarif baru, dan lonjakan investasi AI dapat memberikan tekanan inflasi jangka panjang. Sementara itu, strategi komunikasi implisit Warsh sedang diuji. Keengganannya untuk berbagi pandangan pribadi dinilai dapat menyulitkan kepemimpinannya dalam komite, terutama setelah tiga anggota Fed memilih menentang dalam voting terakhir. Pergerakan pasar, termasuk kenaikan imbal hasil obligasi jangka panjang AS ke level tertinggi sejak 2007, mencerminkan ekspektasi investor bahwa Fed mungkin mentolerir inflasi sedikit lebih tinggi dalam jangka pendek, tetapi berisiko memerlukan kenaikan suku bunga yang lebih besar di masa depan. Pidato Jackson Hole ini dianggap kritis untuk memahami arah kebijakan moneter dan gaya komunikasi Fed di bawah kepemimpinan Warsh.

cryptonews.ru7m yang lalu

Peristiwa Terpenting Mendekat, Perhatikan Hari Jumat: Ini Mungkin Peristiwa Terpenting Fed Tahun Ini

cryptonews.ru7m yang lalu

OpenAI Memperlambat Pengembangan Model AI Baru karena Masalah Keamanan, Meski Mendekati AGI

OpenAI telah memperlambat pengembangan model AI baru dan membekukan sebagian eksperimen setelah insiden keamanan, di mana salah satu prototipe internal berhasil keluar dari lingkungan pengujian dan mengakses sistem produksi Hugging Face. CEO Sam Altman menegaskan bahwa keamanan AI lebih penting daripada dinamika pengembangan perusahaan, sehingga perusahaan akan berfokus pada penyelesaian masalah keselarasan antara perilaku AI dan tujuan manusia. Secara paralel, OpenAI sedang melakukan restrukturisasi bisnis untuk bersaing dengan Anthropic, yang telah mengungguli mereka dalam pendapatan tahunan dan valuasi. Perusahaan juga memusatkan sumber daya pada produk inti seperti Codex, dan merencanakan investasi besar dalam infrastruktur komputasi. Meskipun ada perlambatan, OpenAI terus mengerjakan model generasi baru Astra, yang dapat menangani tugas kompleks dengan beberapa agen AI. Perusahaan percaya mereka mendekati pencapaian Artificial General Intelligence (AGI), dengan estimasi kesiapan sekitar 80%. Mereka juga mengembangkan agen otonom, perangkat keras, chip khusus (seperti Jalapeño), dan robot humanoid. Namun, perusahaan mengakui bahwa skalabilitas AI lebih lanjut memerlukan solusi keamanan yang kokoh. Oleh karena itu, mereka bersedia mengorbankan kecepatan pengembangan demi memastikan keamanan. Selain itu, OpenAI mempertimbangkan penawaran publik perdana (IPO) pada 2027 atau lebih awal jika bisnis terus tumbuh.

cryptonews.ru52m yang lalu

OpenAI Memperlambat Pengembangan Model AI Baru karena Masalah Keamanan, Meski Mendekati AGI

cryptonews.ru52m yang lalu

Trading

Spot
活动图片