Bagaimana Listrik Murah Mengubah Libya Menjadi Hotspot Penambangan Bitcoin
Libya menjadi hotspot penambangan Bitcoin terselubung berkat listrik bersubsidi yang sangat murah, sekitar $0,004 per kWh. Harga ini memungkinkan penggunaan penambang berusia tua yang tidak efisien sekalipun tetap menguntungkan. Pada puncaknya tahun 2021, aktivitas ini menyumbang sekitar 0,6% dari total hash rate global Bitcoin, lebih tinggi dari negara Arab dan Afrika manapun.
Operasi penambangan biasanya dilakukan di gudang atau pabrik tua yang disamarkan, seringkali melibatkan operator asing. Meski Bank Sentral Libya melarang perdagangan mata uang kripto pada 2018, tidak ada undang-undang yang secara eksplisit mengkriminalkan penambangan. Alih-alih, penambang dituntut karena konsumsi listrik ilegal atau impor peralatan terlarang.
Dampaknya signifikan bagi jaringan listrik negara yang sudah rapuh. Penambangan diduga menyedot sekitar 2% dari total output listrik nasional, memperparah pemadaman bergilir yang sudah sering terjadi. Otoritas merespons dengan razia besar-besaran, menjebak operator bahkan menjatuhkan hukuman penjara.
Pemerintah kini terpecah antara dua pilihan: meregulasi dan memajaki industri ini agar menghasilkan pendapatan, atau memberantasnya sepenuhnya mengingat risiko pencurian listrik dan pencucian uang.
cointelegraph12/19 04:57