ShapeShift founder denies $260mln whale accumulation – Here’s what we know!

ambcryptoDipublikasikan tanggal 2026-03-23Terakhir diperbarui pada 2026-03-23

Recent on-chain data suggests that large investors are quietly building strong positions in Ethereum.

Over the past two weeks, a major whale, reportedly linked to Erik Voorhees, Founder of ShapeShift, has deployed nearly $260 million in USDT to accumulate more than 120,000 ETH.

This buying pattern points to a steady accumulation strategy rather than a one-time trade. For instance, in the latest transaction, the whale spent $4.29 million to purchase ETH at $2,134.

Source: Lookonchain/X

Overall, the average buying price stands at around $2,162, which now acts as a key support level for the market.

Such moves signal strong confidence that Ethereum may be nearing its bottom, with expectations of potential upside in the coming months.

Notably, this accumulation is happening even as ETH trades at $2,071.67, down over 3% in the last 24 hours. This paints a clear divergence between short-term price action and long-term investor sentiment.

Retail vs whale behavior

To understand this better, let’s analyse the Spot Retail Activity by CryptoQuant.

Historically, smaller investors tend to buy when prices are already high, driven by FOMO. This happened in past cycles like 2018, 2021, and even 2024.

Source: CryptoQuant

Right now, retail activity is relatively low, which is actually a good sign. It means the market is in a quieter phase where large investors are accumulating, while the public is still on the sidelines.

Interestingly, while this whale has been aggressively buying Ethereum [ETH], ETFs have been seeing money flow out, which may seem negative at first.

Source: Farside Investors

However, a closer look reveals that large whales are steadily increasing their holdings, while mid-sized investors seem to be selling or redistributing.

Meanwhile, retail investors remain inconsistent, often buying at higher levels and selling during dips.

Source: Santiment

Overall, this indicates that Ethereum is gradually moving from weaker hands to stronger, long-term holders, which is typically a bullish sign for the market.

Voorhees’ past whale move and a crazy plot twist

For those unaware, this whale activity began on the 16th of March and intensified on the 20th of March, when the Voorhees-linked whale made another major move.

Source: Lookonchain/X

However, the narrative took a sharp turn when Voorhees publicly denied any involvement and said,

I did not buy any eth and those tracking sites are a scam.

Now, this throws darts at two opposite possibilities. In the first case, it could be a different investor with similar wallet activity, or simply a misidentification by tracking platforms.

However, another possibility is stealth accumulation, where large investors buy quietly to avoid moving the market.

Whatever the possibilities may be, such whale movements do impact how investors perceive and feel about the token’s future.


Final Summary

  • Price weakness is being used as an opportunity by large players, not a warning sign.
  • ETF outflows may look bearish, but on-chain data shows whales are steadily increasing holdings.

Pertanyaan Terkait

QWhat recent on-chain activity is linked to a major whale, and how much ETH was accumulated?

ARecent on-chain data suggests a major whale, reportedly linked to Erik Voorhees, deployed nearly $260 million in USDT to accumulate more than 120,000 ETH over the past two weeks.

QWhat is the average buying price for the whale's ETH accumulation, and why is it significant?

AThe average buying price for the whale's accumulation stands at around $2,162, which now acts as a key support level for the market.

QHow does the current retail activity for Ethereum compare to the behavior of large whales, according to the article?

ARetail activity is currently low, which is a sign the market is in a quieter phase where large investors are accumulating, while retail investors tend to buy at higher prices and sell during dips.

QWhat was Erik Voorhees's public response to the reports linking him to the whale activity?

AErik Voorhees publicly denied any involvement, stating, 'I did not buy any eth and those tracking sites are a scam.'

QWhat is one possible explanation given in the article for the whale's activity if it is not Voorhees?

AOne possibility is that it could be a different investor with similar wallet activity, or simply a misidentification by tracking platforms. Another possibility is stealth accumulation, where large investors buy quietly to avoid moving the market.

Bacaan Terkait

Narasi BTC sebagai 'Emas Digital' Apakah Sudah Gagal?

Artikel ini menganalisis Bitcoin dari sudut pandang "aset digital" atau "emas digital", tanpa memberikan saran investasi. Penulis membahas tiga hal utama: **1. Bagaimana Memandang Bitcoin sebagai Aset:** Bitcoin dianggap sebagai kelas aset baru yang unggul dibandingkan emas dalam hal: jumlah terbatas (21 juta koin), kemampuan transfer yang mudah dan aman (kunci pribadi), dan transparansi/auditabilitas penuh (blockchain). Meski awalnya digunakan di area abu-abu, regulasi semakin mengatur. Adopsi global crypto saat ini sekitar 3-4%, menandakan fase awal dengan volatilitas tinggi namun juga potensi pertumbuhan jangka panjang. **2. Memahami Penurunan Harga Terkini:** Penurunan ~50% dari puncak $126k (Okt 2025) ke ~$61k (Feb 2026) dipandang sebagai penjualan siklis yang terprediksi pasca-*halving*, dan sebagai proses "peralihan kepemilikan" historis dari *early holders* ke investor institusional melalui ETF. Data historis menunjukkan tren penurunan persentase *drawdown* setiap siklus (dari >90% ke ~50%), mengindikasikan aset yang semakin matang. **3. Pandangan Jangka Panjang:** Kerangka analisisnya adalah membandingkan kapitalisasi pasar Bitcoin (~$1.4T pada $70k) dengan emas (~$20T). Bitcoin baru mencapainya sekitar 7%. Jika narasi "emas digital" terealisasi sebagian (misal, 30-50% kapitalisasi emas), ruang naiknya masih signifikan. Risiko terbesar bukanlah Bitcoin menjadi nol, melainkan manajemen portofolio yang buruk (seperti *all-in* atau pakai leverage) dan kurangnya pemahaman mendalam, yang bisa membuat investor *exit* dipaksakan sebelum potensi jangka panjang terwujud. Kesimpulan: Volatilitas tinggi adalah "harga" untuk potensi imbal hasil tinggi. Pertanyaan kuncinya adalah apakah penurunan ini menandakan kegagalan narasi "emas digital" atau hanya fase peralihan dalam evolusinya dari aset spekulatif ke aset alokasi. Jawabannya bergantung pada keyakinan mendasar terhadap aset ini.

marsbit9j yang lalu

Narasi BTC sebagai 'Emas Digital' Apakah Sudah Gagal?

marsbit9j yang lalu

Dari Kode ke Kognisi: Panduan Panjang Evolusi Otak Robot

**Dari Kode ke Kognisi: Evolusi Otak Robot** Era robot sebelumnya bergantung pada kode yang dirancang dengan hati-hati untuk persepsi, perencanaan, dan kontrol (seperti PID), membatasi kemampuan generalisasi. Kemajuan datang dengan pembelajaran mendalam untuk persepsi visual dan pembelajaran penguatan untuk kontrol motorik, tetapi kebijakan tetap sempit. Titik balik terjadi dengan munculnya Model Bahasa Besar (LLM). LLM bertindak sebagai perencana tingkat tinggi, menerjemahkan instruksi bahasa alami menjadi urutan keterampilan atomik untuk dieksekusi oleh sistem robot tradisional (seperti ROS2). Ini adalah lompatan besar, tetapi LLM hanya penjadwal cerdas, bukan penggerak langsung. Lompatan berikutnya adalah Model Visi-Bahasa-Aksi (VLA). Model ini menggabungkan persepsi visual dan instruksi bahasa langsung ke dalam satu jaringan neural untuk menghasilkan perintah gerakan, menyatukan penalaran dan tindakan. Ini memungkinkan generalisasi yang lebih baik. Arsitektur populer (seperti di Figure AI, NVIDIA GR00T) menggunakan sistem "otak ganda": Model S2 yang besar dan lambat (7-9Hz) untuk penalaran tingkat tinggi, dan model S1 yang kecil dan cepat (200Hz) untuk menghasilkan gerakan halus. Lapisan S0 (1kHz) menangani keseimbangan dan koordinasi refleksif. Komputasi untuk kontrol keselamatan yang kritis dijalankan secara lokal di papan (mis., pada NVIDIA Jetson) karena masalah latensi dan keandalan jaringan. Cloud digunakan untuk antarmuka percakapan dan pembelajaran kumpulan data. Model sumber terbuka (seperti OpenVLA, NVIDIA GR00T, π0) sangat penting, memungkinkan startup mengadaptasi model dasar dengan data robot mereka sendiri, mempercepat inovasi. Namun, VLA masih memiliki keterbatasan: pemulihan kesalahan, efisiensi sampel, generalisasi lintas platform, perencanaan jangka panjang, dan pemahaman fisika yang mendalam. Di sinilah **Model Dunia** menjadi kunci. Model Dunia adalah jaringan neural yang memprediksi keadaan dunia masa depan berdasarkan keadaan saat ini dan tindakan yang diusulkan (misalnya, menghasilkan video yang disimulasikan). Ini memungkinkan robot untuk "berpikir sebelum bertindak", mensimulasikan berbagai skenario, mengevaluasi hasil, dan memilih tindakan terbaik sebelum eksekusi. Pendekatan ini meningkatkan pemulihan, generalisasi, perencanaan, keamanan, dan memungkinkan pembangkitan data sintetis skala besar. Arsitektur utama termasuk difusi video tingkat piksel (Cosmos/Sora), JEPA (LeCun), dan model dunia tindakan laten (Genie). Masa depan robot humanoid mungkin menggabungkan VLA dengan Model Dunia untuk perencanaan berbasis simulasi. Data (terutama melalui operasi jarak jauh) tetap menjadi penghalang utama. Sementara narasi "momen ChatGPT" untuk robot agak menyesatkan (saat ini lebih mirip era GPT-2), kemajuan menuju robot yang mampu beradaptasi secara umum sangat cepat. Evolusi dari kode buatan ke model dunia yang dipelajari secara perlahan memindahkan kecerdasan dari pikiran insinyur ke dalam sistem yang mampu memahami dan membayangkan dunia.

marsbit10j yang lalu

Dari Kode ke Kognisi: Panduan Panjang Evolusi Otak Robot

marsbit10j yang lalu

Trading

Spot
Futures
活动图片