Senator AS Adam Schiff telah memperkenalkan RUU baru bernama DEATH BETS Act yang bertujuan melarang kontrak pasar prediksi terkait peristiwa seperti perang, terorisme, dan kematian individu. RUU ini muncul di saat CFTC bergerak menuju aturan yang lebih longgar untuk pasar prediksi, menciptakan benturan kebijakan antara pembuat undang-undang dan regulator.
Apa itu pasar prediksi?
Pada dasarnya, pasar prediksi memungkinkan orang untuk bertaruh pada hasil peristiwa masa depan. Peserta membeli kontrak yang membayar jika peristiwa tertentu terjadi. Namun, beberapa platform mulai mencantumkan kontrak terkait peristiwa serius atau sensitif.
Death Bet Act yang baru akan membuatnya ilegal bagi bursa yang diatur untuk menawarkan kontrak terkait perang, terorisme, dan kematian individu. RUU ini juga akan melarang kontrak yang secara tidak langsung terkait dengan kematian seseorang. Saat ini, CFTC memiliki kewenangan untuk memblokir kontrak ini jika dianggap bertentangan dengan kepentingan publik.
Pendukung RUU ini berargumen bahwa taruhan pada peristiwa kekerasan dapat menciptakan risiko serius. Senator Schiff mengatakan pasar ini dapat memungkinkan orang dengan pengetahuan orang dalam atau informasi rahasia untuk mengambil keuntungan dari peristiwa tragis. Ia juga memperingatkan bahwa taruhan pada perang atau kematian dapat mengancam keamanan nasional.
RUU ini muncul ketika CFTC mempertimbangkan kembali bagaimana pasar prediksi harus diatur. Pada Februari, lembaga tersebut menarik kembali proposal sebelumnya dari 2024 yang akan melarang pasar prediksi politik secara luas. Dengan memperkenalkan Death Bets Act, Schiff secara efektif menentang pendekatan regulator yang lebih permisif.
Debat ini menunjukkan bahwa pembuat undang-undang mengingkan pembatasan yang lebih kuat sementara regulator lebih menyukai fleksibilitas yang lebih besar untuk perlindungan pasar. Jika RUU ini disetujui, ini akan menjadi awal dari pembahasan kebijakan yang lebih besar tentang peran taruhan berbasis peristiwa.
Berita Crypto Terkini:
Pasar Crypto Perhatikan Data Inflasi AS Februari Mendatang





